
Di puncak Gunung Pasaman di tengah-tengahnya terdapat kolam kawah yang lebar sekali menyerupai telaga, airnya selalu beriak-riak karena di terpa angin bahkan sesekali membentuk pusaran karena angin menerpa dari segala penjuru.
Di tepinya terdapat hamparan yang ditumbuhi bermacam-macam jenis rumput, di sana juga ada bebatuan dan tanah yang menjulang dengan pepohonan besar. Di lereng itu pula terdapat sebuah pondok kecil beratap daun, tampak seorang pemuda tengah duduk bersila pada sebuah batu besar di depan pondok itu dan sekitar tiga tombak di depan pemuda tampak pula duduk seseorang kakek berjanggut putih memakai sorban menutupi kepalanya.
Lama tak terdengar suara dari mereka hanya suara desiran angin yang bertiup merembet dedaunan pepohonan yang ada di sekitar pondok itu. Baik dari mata kakek maupun pemuda itu nampak terpicing lalu dalam duduk bersila tangan mereka tertumpu pada kedua paha.
“Dezo, sudah saatnya aku menceritakan semuanya padamu muridku.” Ujar kakek berjanggut putih itu seraya membuka matanya.
Pemuda yang duduk di hadapannya pun membuka mata siap mendengar apa yang hendak dibicarakan kakek yang menyebut dirinya itu sebagai murid.
“Tak terasa sekarang kau telah tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa.” Ujar kakek itu sambil usap-usap jenggotnya. Sementara pemuda dihadapannya itu hanya diam mendengarkan.
“20 tahun yang lalu aku berkelana di Pulau Jawa, tepatnya di Tanah Pasundan di sebuah perkampungan yang tak jauh dari Gunung Tangkuban Perahu, aku menerima amanat dari sepasang suami istri penduduk kampung itu. Amanat itu berupa penyerahan seorang bayi laki-laki yang berusia empat bulan mereka menitipkan bayi itu agar aku mau mengasuhnya dan sekaligus menjadikan murid, bayi malang itu ternyata bukan darah daging mereka melainkan anak dari kepala kampung mereka yang bernama Wili Tapa dan istrinya bernama Lisda Suci. Mereka menceritakan pula saat terjadinya prahara di kampung itu kepala kampung dan istrinya tewas terbunuh oleh segerombolan pendekar berilmu hitam, mereka tidak menceritakan secara terperinci kejadiannya dan gerombolan apa yang telah membunuh kepala kampung itu. Mereka hanya kuatir bayi yang mereka ambil itu tidak aman untuk mereka asuh karena pada saat itu hampir setiap hari kekacauan terjadi di sana, maka tanpa pikir panjang lagi bayi itu aku bawa ke sini ke puncak Gunung Pasaman Pulau Andalas.” Meskipun kakek itu belum mengatakan siapa gerangan bayi laki-laki yang dibawanya, tapi pemuda tampan yang ada di hadapannya itu sudah memahami kalau bayi itu adalah dirinya.
Dengan mata berkaca-kaca dia mendengarkan penuturan gurunya itu, di hatinya berkecamuk perasaan sedih dan dendam yang membara. Melihat raut wajah sang murid, kakek yang tadi duduk bersila beberapa tombak di hadapannya dengan sekejap telah duduk di sebelahnya seraya membelai rambut pemuda sebatas bahu itu.
“Muridku Dezo, aku tahu hatimu saat ini dilanda kesedihan dan kepedihan yang amat sangat. Tapi aku berharap agar rasa dendam yang ikut menyelinap di hatimu jangan sampai membuat dirimu tak terkendali, semua yang terjadi adalah kehendak Alloh dan itu salah satu ujian iman serta kesabaran kita sebagai makhluk ciptaan-Nya. Dendam yang terlalu membara dapat membakar hati dan menutup pandangan mata pada kebajikan bahkan tidak mungkin dengan dendam seseorang akan mudah dirasuki setan-setan yang menyesatkan, apalagi di rimba persilatan ini banyak sekali tipu daya, keangkara murkaan serta banyak yang mempergunakan ilmu-ilmu yang dimiliki untuk berbuat keji menebar kebinasaan di bumi ini. Hanya hati yang bersih yang dapat mengendalikan diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela itu, dan hanya dengan ilmu yang putih pula kejahatan dan keangkara murkaaan itu dapat basmi. Apa kamu mengerti dengan yang aku katakan muridku?” Sang pemuda anggukan kepala lalu mengusap wajahnya, saat kakek mengelus rambutnya pemuda itu palingkan wajah pada kakek itu sembari tersenyum.
Kakek itu pun ikut tersenyum lega, lalu membimbing pemuda itu untuk berdiri.
“Dezo muridku, semua ilmu yang ada pada ku telah aku wariskan padamu, sekarang saatnya aku ingin menunjukan sesuatu padamu yang selama ini tak pernah aku beri tahu.” Ujar kakek sambil menoleh ke arah telaga di puncak gunung itu.
“Apa itu guru?“ tanya pemuda itu penasaran.
“Mari ikut aku!” ajak sang kakek lalu melangkah mendekati telaga kawah gunung itu.
Tak beberapa langkah kakek berjanggut putih itu pun tiba di tepi telaga kawah, dia berdiri tegak lalu memandang ke tengah telaga dengan kedua telapak tangan ditengandahkan kemudian kakek ini berucap lirih sepertinya dia lagi berdo’a.
Tak berselang lama terdengarlah dentuman keras dari tengah telaga seiring itu pula dari dalam telaga mencelat sebilah pedang yang di ujung gagang pedang itu berbentuk kepala harimau, pemuda yang berada di sisi kakek itu terlonjak kaget tanpa dia sadari pedang pusaka itu telah berada dalam genggaman sang guru...