Halo, Calon Imam!

Halo, Calon Imam!

Andini

0

Semoga kamu betah bertamu di cerita sederhana ini, ya. ⁽⁽ଘ( ˊᵕˋ )ଓ⁾⁾

.

.

.


🌵🌵🌵


"Halo, calon imamnya Naya!"


Dua detik setelah sapaan yang oktafnya memekakkan telinga itu mengudara, Rangkasa memburaikan segenggam hela. Dia menatap jengah pada layar telepon, bertanya-tanya entah dari mana gadis itu berhasil mendapatkan nomor kontaknya. 


"Pak Kasa! Kok gak dijawab sih sapaan Naya? Gak boleh begitu dong, Pak! Bidadari kayak Naya mana boleh dicuekkin. Entar kalo Naya cari tambatan hati yang lain, Pak Kasa nyesel lho pasti."


Sepasang netra hitam sepekat jelaga milik Kasa memutar sempurna, lelaki itu mengeraskan rahang seraya menahan kesal yang menumpuk di rongga dada. Dia berencana akan memberi tanggap sebelum akhirnya suara cempreng dari seberang sana lekas menyela.


"Pak Kasaaa! Jangan diem aja, coba. Naya berasa lagi telponan sama candi Prambanan. Jawab kek, ngomong kek, apa kek, masa Naya bicara banyak-banyak tapi Pak Kasa gak ada respon sama sekali? Duh, dikacangin itu gak enak rasanya Pak, Naya gak suka kacang soalnya."


Lagi-lagi, Kasa enggan buka suara. Kata-kata yang seharusnya terhambur dari mulutnya, kembali ditelan begitu saja. Ada jeda di sana. Dan Kasa, tidak perlu pemikiran lama segera membawa ibu jari untuk menekan tombol merah pada panggilan keduanya.


Jika Naya bisa meneleponnya seenaknya, maka Kasa pula sanggup memutus sambungan telepon sesuka hatinya.


Kasa jelas tahu konsekuensi dari tindakannya. Mungkin, si pengganggu kecil yang beberapa bulan belakangan selalu merecoki hidupnya itu akan marah keesokan harinya. Mungkin juga, dia akan semakin gencar mengacaukan tatanan hidup Kasa yang sudah terancang sempurna. Rangkasa Himada sulit menebak ke mana pikiran Nayasha Ravira bermuara, setiap hari; akan selalu ada yang gadis tersebut lakukan sebagai upaya mendapatkan hatinya.


Sayangnya, Kasa tidak pernah menaruh atensi bahkan seperdua dari seratus persen kepedulian yang ia punya.


Dia murni terganggu. Kasa terbiasa berteman dengan ketenangan. Namun, Naya adalah segala yang berkebalikan; gadis dengan dua gigi kelinci itu suka sekali melontarkan kalimat panjang lebar, seakan-akan berbicara tidak pernah membuatnya lelah atau bosan. Kasa tidak senang, kedamaian yang selalu ia dekap seolah Naya pecahkan menjadi serpihan-serpihan yang tak bisa lagi dengan mudah digenggam. Dia merasa asing terhadap bising yang Naya ciptakan. 


Cukup lama hanya jarum jam yang menjadi satu-satunya irama kesunyian. Sesaat, Kasa lempar pandang pada langit biru tua yang malam ini dihuni sekumpulan bintang gemintang. Pendarnya berkelap-kelip, indah; akan tetapi berlawanan dengan seluruh hampa yang merengkuh Kasa dalam kesendirian.


Naya. 


Harusnya gadis itu bisa paham; betapa Kasa berusaha keras mengabaikan eksistensi serta perhatian yang ia berikan. Karena, Kasa semata-mata tak ingin memberi harapan kopong tanpa kepastian. Kasa berharap gadis itu mengingat dengan benar; tentang status yang mereka berdua sandang, juga bagaimana status tersebut mengikat keduanya dalam lingkaran yang saling berseberangan.


Dia adalah guru. Lalu Naya ialah muridnya. Seharusnya, Naya tidak boleh begitu berani berlari dari batas-batas yang ada. Sampai-sampai Kasa sendiri kewalahan mencari cara, agar muridnya tersebut kembali pada tempat di mana semestinya ia berada.


Harusnya, kamu jangan suka saya, Nayasha.


🌵🌵🌵


"Naya suka es krim rasa taro. Meskipun lagi ngambek, kalo dibeliin es krim rasa taro, Naya bakal maafin. Gak akan ngambek lagi, beneran. Jadi, kalo mau dimaafin, beliin Naya es krim rasa taro, Pak."


Ini bahkan masih pagi, dan Kasa baru saja menginjakkan kaki. Tapi, baru beberapa meter menjauh dari tempat parkir, entitas Naya sudah mampir bersama gaya serampangannya yang membuat pening. Dasi yang bentuk ikatannya sembarangan, sepatu yang simpulnya hendak lepas terburai, juga, dua gigi kelinci yang menyembul keluar ketika gadis itu menghampirinya dengan cengengesan.


"Tapi pagi ini Pak Kasa keren banget. Naya jadi susah nih kalo mau kesel lama-lama."


Kasa menghentikan langkah sejenak. Miringkan kepala untuk menghadap sosok yang baru saja bicara, dengan tatapan penuh isyarat. Dia bawa kembali kakinya yang jenjang untuk berjalan cepat, tidak peduli terhadap Naya yang tanpa tahu malu tetap menyusulnya walau sedikit lebih lambat.


"Eh iya, selain es krim rasa taro, Naya suka tumbuhan kaktus. Kalo mau kasih hadiah, kasih aja taneman kaktus, ya, Pak Kasa. Terus warna favorit Naya itu coklat, terus hobi ngehaluin Bapak buat jadi imam Naya. Oh ya sama satu hal lagi yang paling super duper penting, awalnya, es krim taro punya tempat spesial nomer satu di hati Naya, dan si kaktus jadi yang nomer dua, tapi semenjak ada Bapak, Naya putusin buat ngosongin hati Naya supaya cuma Bapak yang nempatin isinya." Dia buang senyuman, rambut panjangnya terurai indah di bawah kilapan bias matahari siang. Lantas, Naya melanjutkan dengan nada kepalang riang, "intinya, Pak Kasa adalah favorit nomer satu di hati Naya sekarang."


Dan untuk hitungan kedua, Kasa hentikan lagi langkah yang semula terayun sempurna. Kali ini lebih lama. Labiumnya tergerak membuka, namun ternyata hanya untuk meleburkan satu kata, "Kenapa?"


Dingin aksennya. Rasa tak nyaman terselip terang-terangan di sana, seolah-olah Kasa melakukannya dengan sengaja. Agar Naya setidaknya menjadi lebih peka, terhadap ketidaknyamanan yang Kasa rasa.


"Kenapa apa, Pak Kasa?"


Diam-diam Kasa menggeram. Semakin risih kala beberapa siswa lainnya ikut menjatuhkan lirikan pada keduanya dengan begitu penasaran. Dia benar-benar tidak mengerti seperti apa jalan pikiran Naya; mereka sedang di area sekolahan, dan gadis itu masih nekat mengikuti ke manapun ia bepergian.


"Kenapa kamu kasih tau hal gak penting kayak gini ke saya?"


Pupil Naya membesar sebentar. Satu tangannya memukul tiang koridor sehingga menghasilkan bunyi cukup kencang. Lalu, ia berteriak dengan urat leher yang menegang.


"Ini penting, Pak! Penting! Bapak harus banget tau, semua info menyangkut masa depan Pak Kasa. Bapak bakal butuh informasi ini nanti, seriusan. Dan karena Naya baik hati sekaligus gak sombong, terus juga rajin menabung, Naya bocorin infonya duluan. Supaya Pak Kasa gak susah-susah lagi buat nyari tau hal-hal tentang calon istri Bapak. Naya baik banget, 'kan?"


Kasa tidak tahu bahwa pagi yang seharusnya damai, akan berubah menjadi kacau balau semenjak Naya datang. Tidak juga dapat menghitung sudah berapa kali napasnya terembus panjang. Satu hal yang pasti; Kasa betul-betul tidak suka dengan semua yang Naya lakukan.


"Harus berapa kali saya bilang?" Buat kali pertama Kasa membidik bola mata sewarna mahoni cerah milik gadis di sampingnya, tajam; tanpa berbelas kasihan. "Saya ... benci dikejar-kejar."


Dia menunjuk pada name tag yang terpampang pada pakaian yang Naya dan dirinya kenakan. Sebuah simbol yang melambangkan status Naya sebagai seorang murid yang berkewajiban belajar, sedangkan dirinya merupakan pendidik yang berkewajiban mengajar; itulah hubungan yang mereka punya. Bukan tentang mengejar, juga bukan perihal dikejar.


Naya memang punya cinta, tapi Kasa memegang teguh etika.


Naya memang berhak mencinta, tapi Kasa pula berhak memeluk erat logika.


"Tapi, Pak ...


Naya gak peduli."


Bohong bila Kasa tak terkejut atas kalimat yang baru saja Naya lontarkan. Gadis itu membuang tumpukan napas yang menghimpit di diafragma, dan kemudian memandang Kasa dengan seluruh keyakinan.


"Naya juga udah berapa kali bilang? Naya suka Pak Kasa. Naya berhak berjuang buat perasaan Naya. Dan Bapak gak boleh jahat dengan matahin harapan yang Naya punya."


Kasa menggeleng singkat. 


"Saya berhak,"


katanya, mutlak.


.

.

.


🌵🌵🌵