
Sesaat setelah suara pramugari lenyap dari pelantang suara, pesawat bermanuver untuk menurunkan ketinggian terbang. Alisha merasakan lonjakan mengejutkan yang selalu dibencinya. Seolah nyawanya mengerut sehingga untuk sesaat, ia harus mengepaskan bentuk dengan rongga tubuhnya.
Alisha mengintip ke luar jendela. Bongkah-bongkah awan menggantung tipis. Untuk sesaat, Alisha pikir, andai jendela pesawat seperti jendela mobil, dia akan membukanya agar bisa merasakan awan itu dengan tangannya. Kota di bawah sana perlahan membesar. Satu hentakan lagi dan Alisha merasakan nyeri tumpul di punggung, paha, dan di kedalaman dirinya. Dia memejamkan mata tetapi wajah lelaki itu terpampang di dinding benaknya seperti debu menjijikkan. Apak dan menyesakkan.
Apa rasanya jatuh bebas ke bawah sana? pikir Alisha.
Setengah jam kemudian, dia sudah berada di gerbang kedatangan: dengan satu ransel menggantung di punggung dan kepala yang tanpa rencana apa-apa. Sebentuk kepanikan menjalari dirinya seperti gelombang kecil yang konstan sesaat sebelum ombak besar datang.
Alisha memperingatkan diri sendiri.
Alisha, bernapaslah!
Alisha mengatur napas, tetapi itu tidak berhasil. Dia memacu langkah melewati terminal demi terminal, membaca papan penanda satu demi satu sampai menemukan pintu keluar.
“Damri, Mbak?” sapa seorang lelaki berseragam.
Apa saja. Damri atau apa pun. Asal bisa mengantar saya ke rumah sakit, pikir Alisha. Tetapi dia hanya menganggukkan kepala. Alisha membaca peta di ponselnya. Kalau tidak salah perhitungan, bus itu akan melewati sebuah rumah sakit besar (dia sudah mencari informasi tentang rumah sakit itu. Rumah sakit itu akan menanganinya dengan baik). Kalau dia salah perhitungan, dia mungkin akan pingsan di perjalanan dan baru ditemukan setelah napasnya nyaris putus. Yang mana pun dari kedua kemungkinan itu, Alisha tidak bisa memutuskan, mana yang lebih baik dibanding yang lainnya.
Hampir dua jam kemudian, Alisha berteriak dari kursinya. Penumpang lain menoleh ke arahnya. Beberapa tersenyum, beberapa yang lainnya tampak kesal, sisanya memelototkan mata.
“Saya ingin turun di sini,” kata Alisha, menampilkan cengiran canggung sambil terbungkuk-bungkuk meninggalkan kursinya.
Kepalanya berputar dengan lembut begitu Alisha memijakkan kaki di jalan raya. Kakinya bergetar halus dan telapak tangannya berkeringat. Rongga mulutnya terasa dingin dan lidahnya pahit. Alisha menggeleng-gelengkan kepala. Bangunan rumah sakit itu tampak di kejauhan. Berdiri menjulang, tampak seperti dewa penyelamat berwajah ramah.
Alisha menggiring langkahnya lebih cepat. Tubuhnya semakin berguncang dan terasa kehilangan bobot. Alisha merasa seolah melayang. Kepalanya berputar untuk kali ke sekian. Semakin kuat setiap kali sensasi itu terasa.
Alisha, bernapaslah!
Alisha kepalkan tanganmu!
Alisha katupkan rahangmu dan menggigitlah sekuat tenaga!
Alisha, ya, benar begitu! Ya, bagus!
Alisha, sedikit lagi sampai!
Pandangan Alisha mulai menggelap.
Alisha, lihat! Itu dia pintunya! Selamat!
Sebuah ambulans berhenti tepat di depan pintu rumah sakit. Seorang pria meluncur dengan brankarnya dari atas mobil. Beberapa paramedis menyambutnya dengan cekatan. Pria dengan brankar melewati pintu lebih dulu. Alisha menyusulnya beberapa detik berselang. Sensasi berputar menghantam jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ledakan kegelapan pecah di dalam kepala Alisha. Kilatan cahaya menerangi sebentuk wajah. Alisha tidak begitu mengingatnya. Tetapi Alisha merasakan dua tangan yang menangkapnya di punggung. Alisha mengingat sensasinya. Tubuhnya terangkat ke udara. Dan sepasang kaki berlari, mengetuk-ngetuk lantai dengan irama cepat. Alisha teringat sebuah lagu. Tetapi dia tidak ingat lagu apa yang cocok dengan irama sepatu itu. Lalu Alisha ingat, itu bukan suara sepatunya. Ada seseorang yang lain.
Alisha merasa tubuhnya melayang. Secepat irama sepatu di lantai. Kemudian Alisha mendengar suara. Begitu dekat, hingga rasanya suara itu bergema di dalam dirinya. Tetapi Alisha tahu, itu juga bukan suaranya.
“Tolong beri jalan! Suster! Ambilkan satu brankar lagi!”
Suara itu semakin sayup. Alisha tidak ingin suara itu lenyap.
“Oh, astaga! Kenapa kalian bisa jadi perawat kalau kalian lamban begini? Kalian dulunya menyogok apa bagaimana?”
Alisha tergelincir ke dalam kegelapan yang damai. Dan suara itu akhirnya benar-benar lenyap.
***