1
2018.
"Halo, saya Eru Silalahi, silahkan panggil saya Eru. Saya akan mengumumkan kalau pendapatan annual sebesar tujuh triliun dan jumlah subscriber kita yaitu tujuh belas juta. Kedepannya kita, Epiphany akan menargetkan angka tiga puluh juta."
"Menurut Anda, apakah visi dan misinya bisa terus berjalan? Terlebih dengan para pesaing yang sangat kompetitif di pangsa pasar streaming film digital ini?"
"Visi dan misi kami tetap sama, yaitu memberdayakan perfilman Indonesia. Seperti yang Ayah saya inginkan saat saya mendirikannya bersama dengannya."
"Anda masuk dalam daftar Forbes thirty under thirty. Seberapa besar pengaruh ayah Anda ini, Reno Timothy?"
"Sangat besar…"
Eru terhenti berbicara. Matanya tidak kuasa mempertahankan kontak dengan wajah wanita itu. Dia kemudian menunduk dan menggerakkan jari telunjuk dan tengahnya ke kanan dan kiri.
"Pak Reno sangat berperan besar dalam pertumbuhan perusahaan," sambung wanita bernama Samantha, asisten pribadi Eru. "Nona Eru memang merupakan pencetus dan programmer dari situs Epiphany ini…"
Eru tidak mendengarkan ucapan wanita berambut panjang itu. Dia hanya diam saja mematung. Suara yang dia dengarkan sangatlah bising, serta cahaya lampu sorot membuat kepalanya pusing.
Dengan langkah yang hampir tidak terdengar wanita itu beranjak dari sofanya. Seolah tidak dipedulikan oleh tiga orang kru media digital yang sedang meliputnya, dia keluar dari ruangan kantornya.
Wanita itu berjalan melewati lorong penuh warna menaiki lift yang diisi oleh dua orang karyawan. Mereka diam saja sambil terus mengobrol mengenai perusahaan yang Eru miliki.
Pintu lift terbuka dan wanita itu keluar meninggalkan kedua bawahannya yang bahkan tidak tahu seperti apa rupa CEO mereka itu. Hal wajar, karena Eru tidak pernah muncul di publik, baik di dalam atau luar perusahaan.
Eru keluar melewati lorong kosong di lantai empat ini. Tidak ada suara apapun selain suara flatshoesnya yang menggema setiap langkah menyeretnya terdengar.
Wanita bertubuh jangkung itu berbelok ke sebuah pintu besi yang terlihat seperti sebuah pintu brankas. Dengan cepat dan gerak metodis dia pun membuka pintu itu menggunakan id badgenya.
Di dalam ruangan ini ada satu unit komputer dan tiga monitor layar datar. Seperti biasa, Eru melepaskan sepatunya dan menyusunnya menghadap ke pintu
Tenggorokannya kering karena harus berbicara langsung dengan orang lain. Dan diapun minum Americano dari teko gelas sambil menatap pemandangan dari jendelanya.
Dia melihat apa yang menjadi miliknya, sebuah perusahaan digital yang membesar dengan pesat berkat kejelian nya dalam melihat pangsa pasar digital tujuh tahun yang lalu saat dia baru saja lulus dari MIT.
Dia memperhatikan seorang pria yang sedang memarkir motornya sembari merokok. Dia menatap pria itu dan dari kejauhan bisa melihat rokok yang sedang pria itu konsumsi.
"Marlboro Mild," gumam Eru dalam hati. "Nicotine koma sembilan, Tar koma delapan miligram. Yang tengahnya bolong supaya bisa punya sirkulasi udara yang bagus dan tetap mempertahankan rasanya. Bungkus rokoknya yang hitam."
Tung…
Bunyi pesan Discord terdengar dari komputernya.
Eru berhenti memperhatikan pria itu dan duduk di kursi komputer dan membaca pesan dari Samantha, "lo mau gue minta wawancara lo dihapus dari artikel mereka?"
"Ya," tulis Eru.
"Oke, gue sekarang lagi meriksa data pemasukan akhir bulan April ini. Subscriber kita makin bertambah berkat kerjasama kita sama Telkomsel. Cuma makin banyak yang minta kita buat mulai nyediain film dari luar negeri."
"Biarkan saja."
"Baiklah. Terus soal keluhan karyawan. Beberapa anggota dewan mendapatkan teror. Kemungkinan dari Media Mai Hati, karena kita berhasil mendapatkan kontrak eksklusif dari film 'Si Yudo', mereka tidak senang, padahal mereka ini rumah produksinya."
"Biarkan. Panggil polisi, dan langsung saja lawan."
"Berita kita memonopoli bisnis perfilman Indonesia semakin kencang Eru, tuntutan hukum tidak akan membuat kita makin populer."
"Tidak masuk akal," Eru menulis dengan cepat. "Kita memberikan orang depan dan belakang panggung bayaran yang lebih, pembajakan juga berkurang. Tidak logis kalau ada yang membenci kita. Jadi, biarkan saja."
"Baiklah," balas Samantha kemudian ada jeda sejenak sebelum melanjutkan, "lalu ini soal pembicaraan kita kemarin. Ada beberapa sineas muda yang ingin berbicara langsung dengan lo, bagaimana menurut lo?"
"Tidak ada pertemuan langsung."
"Mereka sutradara yang berpotensi. Kita bisa bikin film dengan kerjasama dengan mereka. Rumah produksi kita bisa membesar. Pertemuan dengan CEO, bisa membuat negosiasi kita jadi lebih mudah."
"Hmmm… tidak. Lo aja berlagak jadi CEOnya."
"Kita tidak bisa main begitu lagi. Kalau gue berbohong jadi CEO lagi, yang ada pamor kita bakalan menurun karena berbohong. Orang sudah tahu gue bukan CEOnya, dan ada seseorang yang jadi CEO. Bagaimana?"
"Kita sudah berikan yang mereka minta bukan? Apa pentingnya bertemu dengan mereka?"
"Sebuah tindak memperkuat kepercayaan… bisa dibilang begitu."
"Tidak. Kita ada kontrak kerjasama, kalau mereka tidak punya kepercayaan dengan kita setelah kontrak, tidak ada yang bisa buat mereka percaya. Kalau mereka mau lepas, lepas saja."
"Baiklah. Itu saja laporan gue."
"Samantha," panggil Eru. "Jadwal makan malam sudah lo booking?"
"Ya, sudah. Lo ingat pesan gue?"
"'Tunjukin emosi ekspresi, laki-laki menyukai wanita yang penuh ekspresi dan senyum.'"
"Bagus, semoga kencanmu kali ini membuahkan hasil."
"Ya."
Eru kemudian lanjut bekerja. Wanita itu menggulung kaus panjang dan blazernya agar lengan bajunya tidak menyentuh keyboard. Dia menyusun kode-kode yang ada di database, bahkan sampai menarik data pelanggan yang mungkin bermasalah.
Secara metodis, Eru melaksanakan kerjanya dengan penuh efisiensi. Wajahnya yang datar saja terus menatap layar komputer. Berusaha menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu dan sesuai dengan rencananya untuk menghadiri kencan butanya nanti malam jam delapan.
Eru memiliki paras yang cantik, dia memiliki kulit putih cerah, postur tubuh tinggi dan langsing. Dia juga memiliki rambut hitam indah yang dipotong pendek. Matanya bulat lebar dengan bibir tipis dan alis yang indah. Dan dia berharap dia bisa menemukan pria yang mau menerima wanita sepertinya.
***
Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam. Eru baru saja selesai menyusun ulang coding program perusahaan. Dan saat ini yang dia bisa lakukan adalah menunggu laporan bug dari tim penguji.
Dia menatap jam sejenak kemudian berdiri sambil mematikan komputernya. Gerakannya memakai sepatu, menekan tombol buka, dan mematikan lampu lebih mirip seperti robot ketimbang orang.
Eru berpapasan dengan Samantha yang menunggunya keluar dari ruangan kerjanya. Wanita beretnis Tionghoa dan berwajah kelinci itu tersenyum seolah melihat kucing peliharaannya keluar dari kandang.
"Hei," senyum Samantha. "Reporter itu mengeluh, soalnya lo cuma ngasih satu jawaban dan gak mau nunjukin wajahnya."
Eru tersenyum sedikit tetapi berkata dengan nada datar, "mereka dijanjikan wawancara dengan kepala Epiphany, bukan kepada CEOnya."
"Yah… gue juga ragu wartawan itu bakalan percaya kalau lo CEOnya."
"Berita bagus buat gue. Biar gue bisa hidup tenang tanpa bersosialisasi di kantor."
"Id badge lo ada tulisan CEO. Eru Silalahi, CEO, itu tulisannya. Tapi nggak ada yang baca nama lo. Padahal pintu masuk cuma dua, depan sama belakang, lift cuma tiga. Karyawan ada dua ribuan, pasti papasan sama lo."
"Dan gak ada yang tahu gue bos mereka. Hiding in plain sight. Itu motto gue sedari kecil."
"Pas kecil lo bikin nangis gue soalnya ngomong kayak robot," tawa Samantha. "Terus gue mikir lo itu unik, jadi gue mengadopsi lo."
"Hei, hei, gue gak diadopsi sama lo. Lo yang dikenalin sama Ayah gue ke gue. Jadi–"
Ucapan Eru terhenti seperti speaker yang dimatikan karena Samantha memegang pergelangan tangan kirinya dengan jari kelingking, tanda yang dia pahami sebagai tanda harus berhenti berbicara.
"Bu Samantha," panggil seorang pria bertubuh besar. "Mengenai bug ini, saya terkejut hari ini bisa selesai cepat. Padahal tim developer kesulitan banget identifikasi mana yang salah dari codingnya."
"Ah ummm… ya," Samantha berkata dengan nada cerianya. "Saya sudah bikin semua problematikanya. Analisisnya juga kemungkinan besok selesai."
"Gue duluan Sam," ucap Eru seperti angin lalu.
"Oh ya?" pria tambun itu tidak mendengarkan ucapan Eru. "Ah… kalau begitu saya bisa minta…"
Eru sama sekali tidak berbalik, karena dia tahu kepergiannya disadari oleh Samantha. Wanita itu adalah orang yang bisa menyadari kepergiannya, berbeda dengan orang lain yang seolah tidak merasakan dan peduli dengan hawa kehadiran Eru saat berinteraksi. Mungkin karena masalah komunikasi Eru. Yang manapun, saat ini dia sedang mencoba memperbaiki kekurangannya ini.
Dia keluar dari gedung kantor lima lantainya ini, kemudian menuju ke parkiran depan bangunan dimana mobil sedan dua pintu miliknya terparkir.
Wanita itu memakai sabuk pengamannya dan langsung membawa mobilnya menyusuri jalanan kota Jakarta yang penuh kemacetan menuju sebuah restoran di daerah Kemang.
Keluar dari mobil, di hari Rabu ini ada banyak obrolan, cahaya, dan suara yang mengganggu. Semua hal itu membuat ada banyak perasaan gugup yang menghinggapi hati Eru.
Wanita itu memasang kacamata agar bisa menambah rasa percaya dirinya. Dia lalu berjalan masuk dan melihat foto seorang pria yang berkumis tipis dan rambut undercut.
Pria itu melambai dan Ayana menghampirinya berusaha tersenyum. Ayana tidak menyadarinya, tetapi senyumannya itu terlihat dipaksakan sampai pria bernama Indra itu berhenti tersenyum.
"Eru, bukan?" Indra mencoba memastikan tidak salah orang. "Aku Indra Martono."
"Eru Silalahi," Eru memperkenalkan diri dengan nada datar seperti robot. "Aku kerja di perusahaan Epiphany sebagai seorang programmer."
"Sial! Aku mengacaukannya!"
"Oh… keren ya, orang IT. Aku kerja di perbankan gitu. Kerjanha berkutat sama uang. Urusannya pelik banget, sampe kadang aku jadi kesusahan."
"Kerja aku kebanyakan memeriksa bug yang ada. Kebetulan perusahaan aku sekarang sedang dalam tahap pengembangan UI baru. Banyak yang harus di reshape ulang."
"Oh…," Indra kebingungan. "Oke, mau pesan apa? Aku udah sering di sini. Aku bisa merekomendasikan steak sama ayam kukusnya. Gak kalah sama restoran berbintang."
"Em…," Eru mulai panik dan tangannya bergerak kesana-kemari mencari daftar menu, sampai dia membaca daftar menu itu sembari sesekali berusaha menatap mata Indra.
"Ada yang kamu suka?"
"Aku tidak makan daging. Salad saja kalau begitu."
"Kamu seorang vegetarian?"
"Ya," rasa lelah mulai menghinggapi pemikiran Eru. "Begitulah. Sejak kecil sudah begitu."
"Hmm… begitu ya," Indra mengangkat tangan kanannya. "Mbak, mau pesen nih sekarang."
"Oh ya," seorang wanita pendek bertudung datang. "Mau pesan apa?"
"Spaghetti Bolognese, dan…," Indra mengangkat kedua tangannya sedikit dari meja, tetapi Eru terus diam. "Eru, pesanan kamu."
"Ay, iya," Eru sama sekali tidak memahami maksud dari gerakan tangan Indra. "Aku mau pesan Salad saja, sama bumbu kacangnya tidak pedas dan tidak ada bumbu perasa tambahan. Minumannya, cukup air putih."
Ayana berbicara dengan datar seperti robot yang sedang membacakan teks input. Hal itu perlahan disadari oleh Eru karena reaksi pelayan itu yang canggung.
Hanya saja, ekspresinya malah terdiam seperti batu meskipun menyadari hal itu. Sudah berkali-kali dia berada dalam situasi begini karena ketidakpahaman dirinya atas emosi orang lain dan dirinya sendiri dalam berkomunikasi sampai akhirnya dia sadar dengan melihat petunjuk visual yang ada.
"Aku benar-benar mengacaukannya," teriak Eru di dalam hatinya, bertolak belakang dengan wajah tanpa emosinya.
Mereka berdua kemudian hanya diam saja sambil menunggu makanan. Eru ingin mengajak Indra mengobrol, tetapi dia tidak ingin menderita karena basa-basi.
"Aku ini CEO tahu. Ah tidak! Rasanya dia nggak bakalan percaya. Ah… bagaimana kalau aku bilang kalau ayahku adalah kepala perfilman Indonesia? Nggak, gue mau doxing diri gue sendiri ke orang asing?! Bego banget. Ah gue tahu… Samantha Irawan! Ya, dia sahabat gue dan–"
"Kamu berbeda dari di chat ya," komentar Indra menatap Eru. "Aku kira kamu orang yang banyak bicara, karena kamu kelihatan penuh semangat di chat. Gugup?"
"Ya," angguk Eru menunduk. "Ini kali pertama aku di tempat seperti ini."
"Oh, begitu. Pantas saja. Kamu punya kegiatan di rumah? Hobby?"
"Membaca…," jawab Eru langsung. "Aku sangat menyukai buku horor. Aku juga suka film horor. Ada kaitan emosi saat aku melihat orang yang ketakutan dan dalam teror."
"Wow," Indra mengerutkan dahinya, "kenapa kamu bisa tertarik? Apa kamu suka dengan yang menarik adrenalin?"
Indra tertawa kecil, tetapi Eru menjawab dengan datar, "Aku melihat manusia yang sesungguhnya saat mereka sedang terancam. Menurutku, emosi manusia saat ketakutan adalah emosi pada saat paling murninya. Tanpa ada logika yang mengikat."
"Oh… kedengarannya menarik," angguk Indra lagi.
Eru terasa mulai pusing setelah berbicara lanjang. Tetapi dia senang membicarakan dirinya sampai hampir tidak terkontrol. Bila dia tidak berusia dua puluh tujuh tahun, mungkin dia tidak akan bisa menahan diri, atau malah tidak kuat dengan penjara yang bernama bersosialisasi ini.
Makanan tiba tak lama, dan Indra mengatakan sesuatu yang sudah disangka oleh Eru, "sebaiknya kita makan habis. Aku sudah lapar banget."
"Itu dia kata-kata yang muncul. Aku ini memang aneh, dan kamu aku buat tidak nyaman dengan keadaanku."
***
Keesokan harinya Eru bekerja seperti biasa. Berangkat jam tujuh, sampai jam delapan. Jam menunjukan pukul dua belas dan dengan gerakan kaku, wanita itu mengambil bekal makanannya kemudian berjalan ke lantai dua dimana ruang rekreasi dan kantin berada.
Wanita itu duduk di kursi yang menghadap ke jendela dan makan makanan berupa nasi, sayur mayur dan sebuah buah apel yang sudah dipotong bersama dengan saus mayonaise.
Sambil memperhatikan satpam yang sedang berinteraksi dengan rekan satpam di posnya, Eru makan tanpa ada suara apapun.
"Bagaimana?" suara Samantha bisa dikenal dengan jelas. "Apa berhasil?"
"Gagal," jawab Eru tanpa berbalik.
"Heeehhh," Samantha terkejut. "Padahal di chat kalian sangat cocok, dia juga kayaknya udah naksir sama lo."
"Begitulah," Eru mengambil handphonenya. "Lo bisa baca sendiri chatnya."
Samantha mengambil handphone Eru dengan cepat dan memeriksanya, "Wah, wah, lk ngapain sampai di block gini?"
"Gue jelasin kenapa gue suka sama film horor."
Mendengarnya Samantha cemberut, "ya jelas dia bakalan ngerasa turn off. Mana ada yang bicara ke topik itu di first date."
"Dia nanya kenapa gue suka film horor, jadi gue jawab aja. Mukanya awalnya ketawa, terus berubah jadi cemberut."
"Dia ketawa?"
"Coba ngelawak, tapi gue gak menemukan letak lucunya."
"Hmmm… oke," Samantha mengembalikan handphone Eru. "Emang nggak jodoh aja."
"Kayaknya gue emang cacat kayak yang mantan lo bilang. Pulpen tanpa tinta."
"Nggak lah, di rumah sakit udah periksa, lo itu nggak ada cacat. Lo masih bisa berinteraksi, biarpun emang susah. Lo cukup nemuin orang yang nerima lo apa adanya."
"Hmm… jadi?"
Samantha paham maksud pertanyaan singkat dan datar itu, "Pak Reno minta lo dateng minggu depan. Katanya haul ibu lo yang ke dua puluh."
"Oh… oke."
"Dua puluh tahun semenjak ibu lo meninggal ya," Samantha bergumam serius. "Sampe sekarang gue gak tahu kenapa ibu lo bunuh diri."
"Gue juga gak tahu."
"Lo masih mikir waktu itu janggal gak? Ibu lo minta Pak Reno jemput lo, padahal biasanya dia jemput kita bareng. Polisi juga kayak masih ragu, apa bener bunuh diri atau nggak."
"Gue gak tahu," komentar Eru seperti tanpa emosi. "Yaudah, kapan katanya gue harus datang?"
"Besok, jam delapan malam di masjid deket rumah Pak Reno. Habis ba'da isya."
"Oke."
2
1998
Pagi dini hari, Elena dibangunkan oleh langkah putrinya yang berlari ketakutan dari kamarnya menuju ke ranjangnya. Anak itu gemetaran hebat dengan mata memerah karena menangis.
Putrinya yang bernama Eru ini sudah berkali-kali berlari menangis di tengah malam karena mimpi buruknya. Perempuan berusia tujuh tahun ini berwajah elok, dengan rambut panjang dan pipi yang tembem.
"Ada hantu, Ibu," ucap Eru terisak. "Hantunya serem banget di mimpi aku. Rambutnya panjang, terus matanya melotot."
Tentunya Elena paham soal siapa hantu itu, "Ibu mau minta maaf ke kamu. Salah Ibu bikin kamu lihat pas syuting. Kamu tahu, yang ada di situ, itu Ibu. Ibu make riasan muka. Make bedak sama rambut palsu. Kan kerjaan Ibu itu."
"Ibu kerja jadi hantu emang?" Eru bertanya dengan polosnya. "Ibu kok bisa kayak hantu gitu?"
"Ibu ini aktris," jelas Elema dengan lembut. "Ibu bisa jadi apa aja. Ibu bisa jadi putri salju, bisa jadi ibu presiden. Sampe bisa jadi hantu. Peran ibu saat ini adalah hantu. Ibu masih Ibu. Oke?"
"Aku masih takut," Eru mengusap matanya. "Hantunya kayak beneran, Bu."
"Iya," Elena memeluk Eru. "Ibu peluk kamu kalau begitu. Kita tidur bareng sekarang. Besok kamu harus masuk sekolah tahu. Oke?"
"Iya, oke."