Edge of Heart

Edge of Heart

Ashaima Va

0

BAB 1

PUTUS


Ahad siang, seharusnya matahari bersinar terik, tapi udara di Kota Kembang hari ini terasa sejuk. Hujan yang turun beberapa menit yang lalu kini menyisakan rintik. Mengembuskan udara dingin tapi tak menusuk. Taman di Kedai Ayam Bu Djenar pun terlihat lebih segar. Seharusnya kesejukan ini membawa kenyamanan bagi Tarissa, tapi sayangnya tidak. Kedai ayam masih sepi, hanya ada Tarissa dan Jeffin di meja lesehan samping taman. 

Tarissa duduk dengan tak nyaman, ingin sesegera mungkin dia pergi dari hadapan laki-laki yang telah bersamanya selama hampir dua tahun ini. Bersama Jeffin, Tarissa selalu merasa nyaman. Jeffin adalah laki-laki yang mampu membuat Tarissa selalu merasa istimewa. Tapi tidak untuk kali ini, kenyamanan dan perasaan istimewa yang Jeffin berikan adalah sesuatu yang harus dia sudahi.

"Kamu sekarang tambah cantik pakai hijab, uhm ... hijab, kan, namanya?" tanya Jeffin membuka percakapan.

Tarisa mengangguk, gadis yang biasa mengurai rambut hitamnya yang lebat dan panjang kini menyembunyikannya dalam balutan hijab berwarna pastel. Kalau Jeffin boleh akui Tarissa kini tampil lebih memesona. Tarissa adalah perempuan yang taat pada Allah. Jeffin tersenyum, hatinya menghangat. Tidak salah menjadikan Tarissa sebagai tambatan hatinya. Tempatnya berlabuh dalam riak badai kehidupannya.

Setelah sejenak terdiam dan mengaduk-aduk makanannya akhirnya Tarissa bersuara. "Jeffin ...."

"Hemh," jawab Jeffin terpaku. Jeffin menatap Tarissa, tapi sebaliknya  Tarissa hanya menunduk atau kadang membuang pandangan ke samping. Menatap rimbunnya bunga kertas di tiap sudut taman rumah makan lesehan ini. Jejak basah yang ditinggalkan hujan beberapa menit yang lalu, lebih menenangkan untuk dipandang.

"Kita sudahi, ya, Fin." Tangan Tarissa dingin, butuh keberanian besar untuk menyampaikan hal yang jadi keresahannya sejak sebulan lalu.

"Makannya aja belum habis, kok, disudahi." Jeffin menaikkan alis kirinya. Bingung.

Tarissa menarik napas panjang, dia ulangi lagi kalimatnya kali ini dengan tambahan kata yang membuat pernyataannya lebih jelas. "Hubungan ini ... kita sudahi."

Sedikit terkejut namun Jeffin masih bisa mengendalikan diri. Dia masih merespon tenang. "Kita break?" tanya Jeffin masih ingin memastikan perkataan gadisnya ini. Mengingat mereka tidak sedang dalam mode pertengkaran, bahkan di SMP pasangan ini termasuk pasangan paling harmonis, sang ketua OSIS dengan Sekretaris OSIS.

Tarissa menggeleng. "Kita sudahi!"

"Putus?"

Tarissa mengangguk perlahan, menguatkan tekad untuk mengakhiri hubungan yang sudah berjalan sejak kelas sembilan.

Tatapan Jeffin berubah dingin. "Kamu suka sama orang lain?"

Tarissa menggeleng.

"Kamu bosan dengan hubungan yang gini-gini aja? Kamu ingin lebih dari sekadar nonton, makan, dan ngobrol?"

"Nggak, Fin, sama sekali bukan itu alasannya. Alasannya ...." Tarissa terdiam sejenak, menelan Saliva yang tertahan di tenggorokannya. "Alasannya karena aku takut ...," ucap Tarissa, lagi-lagi menggantung.

Jeffin kemudian tertawa lepas, setelahnya menatap Tarissa dengan lembut. "Ya ampun, Rissa, hanya karena takut. Aku janji aku bakal melindungi dan menjaga kamu."

"Ck." Tarissa berdecak perlahan dengan kesal. Jeffin seenaknya menyimpulkan. "Aku takut pada Allah, Fin, bukan hubungan seperti ini yang Allah ridai. Status yang halal bagi laki-laki dan perempuan hanyalah melalui pernikahan, bukan pacaran."

Jeffin membulatkan mata, tatapannya berubah dingin. Sejak kapan kekasihnya ini berpemikiran sok alim begini. "Kamu sok dewasa, Rissa. Kamu didoktrin siapa?"

"Bukan doktrin, Fin, tapi ini seperangkat aturan yang Allah turunkan untuk menjaga anak manusia dari pergaulan yang rusak."

"Rusak? Kamu bilang cintaku, cinta kita adalah suatu kerusakan! Kita berdua cocok Rissa. I love you, you love me. Apa yang kurang?"

"Itu hanya dalih, Fin, kita manusia terlalu bodoh untuk memahami kalau nggak dijaga manusia bisa terjerumus. Hitung berapa teman kita yang sudah terjebak pergaulan bebas. Hitung juga berapa teman kita yang terpaksa aborsi. Allah sangat membenci perbuatan mendekati zina, Fin."

"Itu karena mereka aja yang nggak bisa mengendalikan hawa nafsu. Aku janji bakal, melindungi dan menjaga kamu." 

Jeffin menggenggam tangan Tarissa, tapi segera ditepis oleh Tarissa.

"Kamu siap menikahiku sekarang?" tantang Tarissa. Ohh, terlalu dini untuk bicara pernikahan. Tapi sahabatnya dari kecil ini harus dipahamkan.

Jeffin mendengkus. "Kita masih SMP Rissa, kamu kira nikah itu gampang. Kita masih kecil. Masih banyak mimpi-mimpi yang harus kita raih."

"Lalu kalau bukan dengan pernikahan, kita ketemuan, gandengan tangan, rangkulan, makan, jalan-jalan, ngobrol itu untuk apa, Fin?" 

"Ya karena aku sayang kamu. Masa depan kita masih panjang, Rissa, dengan pacaran kita bisa have fun, menambah semangat dan motivasi," Jeffin melirik ke atas, berpikir hal apa lagi yang menjadi alasan kebersamaan mereka. "Kamu merasakan sendiri kan gimana berbunga-bunganya kita? gimana berwarnanya hidup kita."

"Have fun, hidup lebih berwarna, menambah semangat dan motivasi, meskipun itu dengan melanggar batas yang telah Allah tetapkan?” Tarissa berujar tegas. “Laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom memiliki batas dalam berinteraksi, Fin." 

Jeffin terdiam, masih bingung dengan perubahan gadis di hadapannya ini.

"Justru karena kita masih kecil, Fin, dan justru karena kamu laki-laki yang bertanggung jawab. Kita sudahi hubungan yang hanya akan mendekatkan kita pada Zina. Laki-laki yang bertanggung jawab nggak akan main-main, melewati batas yang telah Allah tetapkan hanya untuk have fun." Tarissa menghela napas, sesaat lega karena bebannya terlepas. "Jadi kita sudahi, ya, Fin. Menjauhi perbuatan yang mendekati zina itu sama wajibnya dengan kita Salat dan menutup aurat, juga kewajiban-kewajiban yang lainnya." 

Tarissa menjelaskan dengan lugas, tak lemah juga tak ngotot. Pastinya dia ingin Jeffin memahami pilihannya. Bukan pilihan karena emosi sesaat atau karena euforia perubahan penampilannya. Pilihannya ini karena inilah yang seharusnya dijalani seorang hamba yang taat.

"Jadi kamu bakal ninggalin aku sendirian? Apa nanti kita bakal bersama?" Hati Jeffin mencelus mendengar pertanyaannya sendiri.

"Aku nggak tahu, Fin, jodoh rahasia Allah."

Tarissa segera bangkit dan berlalu, sedari tadi dia memang ingin menyudahi pertemuan ini. Kalau bukan karena ingin menyampaikan alasan berakhirnya hubungannya dengan Jeffin, tak ingin dia berdua-duaan seperti ini.

Jeffin menatap nanar punggung Tarissa yang berbelok ke luar. Tercenung sendiri memikirkan bagaimana hari esok tanpa Tarissa di sisinya. "Kamu ingin menyudahi, Rissa, tapi lihat saja apa yang bisa kulakukan padamu," lirih Jeffin dengan tangan terkepal.

Dan hujan yang baru surut, kembali merintik di tengah pendar mentari yang terselubung awan.

⇜⇝