Dilema Hidupku

Dilema Hidupku

zazillaputri

0

…kali ini aku harus merelakanmu.. melepaskanmu dengan pilihan terbaikmu. Tidak banyak yang dapat kuungkapkan, karena cintaku selama ini tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.. mungkin inilah akhirnya, pada akhirnya aku harus kehilanganmu lagi...

Tanpa disadari air bening di pelupuk mata sudah jatuh membasahi pipi , surat itu diremasnya kuat lalu dihempasnya asal. Perasaan campur aduk yang sulit untuk dijelaskan, menyesakkan dada. Dia tidak tau apa yang bisa dilakukan selanjutnya, tapi yang pasti saat ini dia merasa semuanya memang sudah berakhir.

                                                        _ _ _

Pagi hari ini tidak seperti biasanya suasananya sangat tenang, gadis itu merasa sangat lega, kali ini dia bisa pergi ke sekolah dengan damai tanpa kerusuhan seperti biasanya. Dia sudah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, merapikan seragamnya yang sedikit berantakan. Dengan langkah yang terburu-buru dia pergi menuju halte bus, menunggu rute bus yang akan ditumpanginya datang sambil melihat keadaan sekitar yang sangat ramai.. ya benar saja hari ini hari yang penuh sesak, mengapa demikian? Tentu saja diluar pagi ini dipenuhi banyak orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Gadis itu menghela napas berat, dia merasa lelah, kapan ini semua berakhir? kapan dia bisa hidup dengan tenang? Apakah dunia ini tidak cocok ditempati untuk manusia sepertinya? Apakah tidak ada sedikit ruang untuknya di dunia ini? Dunia ini benar-benar tidak adil untuknya.

Setelah beberapa saat gadis itu terjebak dalam pikiran yang tidak berujung itu, kembali dia difokuskan oleh bus yang telah ditunggu-tunggunya sedari tadi. Dia pun segera masuk kedalam bus tersebut secara bergantian dan berdesakan dalam barisan antrian yang cukup panjang. Memang, setiap hari selalu seperti ini. Tidak ada kedamaian untuknya.

                                                       _ _ _

Bunyi bel sekolah yang berdering mulai terdengar, menandakan kelas akan segera mulai. Lantas gadis itu buru-buru mengambil alat-alat perlengkapan tulisnya dan meletakkannya diatas meja  yang tersedia dihadapannya. Terlihat guru yang mengajar kelas pertama ini sudah memasuki ruangan kelasnya sambil membawa buku cetak yang pada cover depan buku tersebut tertera bacaan 'Matematika', bisa dipastikan kelas pertama hari ini adalah pelajaran Matematika.
Guru laki-laki yang berperawakan tinggi dan berumur terbilang masih muda tersebut mulai menyapa siswa-siswi di kelas itu lalu menyampaikan materi yang akan dipelajari hari ini. Siswa-siswi di sekolah ini memanggilnya 'Pak Alan'. Ditengah-tengah menyampaikan isi materi, Pak Alan menyampaikan sesuatu yang sangat penting untuk siswa-siswi dikelas tersebut. Pak Alan memberikan intruksi untuk mengikuti kelas tambahan mata pelajaran Matematika yang juga akan diajarkan langsung oleh Pak Alan sendiri, mengingat Pak Alan selain guru Matematika umum yang mengajar di setiap kelas di sekolah ini, juga menjadi guru ekstrakurikuler Matematika. Intruksi tersebut ditujukan pada siswa-siswi yang kelas Matematika nya diajarkan oleh Pak Alan, termasuk kelas gadis itu yang menatap Pak Alan dengan tatapan tidak terima, dikarenakan gadis itu sangat tidak menyukai pelajaran Matematika. Dia berpikir, bagaimana bisa dia mengikuti kelas tambahan itu, belajar Matematika di kelas setiap minggu nya begini saja sudah membuatnya menyerah, rasanya ingin mati saja.

"Jiya, kamu ikutan kelas tambahan itu, kan?", Ucap seorang gadis yang menepuk pundak gadis disebelahnya yang diketahui adalah teman sebangkunya.

Gadis tersebut lantas menoleh terkejut menatap teman nya dengan tatapan malas, tidak berniat menjawab ucapannya.

"Jiya, jawab dong. Kok diam aja sih, ikutan apa gak ini? Aku mau ikutan, kamu ikutan juga yaa biar aku ada temannya." Bujuk gadis itu.

"Tau sendirikan jawabannya apa, aku gak mau ikutan, belajar Matematika di kelas aja aku udah mual apalagi ikutan kelas tambahan. Sorry, it's not my type" Jawab gadis yang ber-name tag 'Jiya', terpaksa dia harus menjawab pertanyaan temannya itu, daripada dia harus mendengar ocehan yang lebih banyak lagi.

"Kamu dengar gak tadi apa yang Pak Alan bilang, Jiya? Kata Pak Alan kelas tambahan itu diadakan karena banyak manfaatnya, bisa membantu kita untuk memperbaiki nilai ujian Matematika di kelas kita yang terbilang rendah dibandingkan dengan kelas-kelas lain dan kita juga bisa mendapatkan nilai Matematika yang tinggi. Jadi, kamu harus ikut! dari yang dapat aku simpulkan kelas tambahan ini sifatnya wajib, gak ada alasan untuk gak ikut selagi ada kesempatan, kenapa gak dicoba dulu aja? Persoalan kamu suka atau tidaknya sama Matematika itu tidak terlalu penting, yang penting dan harus diprioritasin sekarang adalah kita harus ikut kelas tambahan itu. Titik." Paksa gadis itu, tidak ada gunanya dia berusaha membujuk atau membicarakan terkait hal ini dengan Jiya, pikirnya. Jiya terkenal dengan keras kepala nya, mau berusaha bagaimanapun untuk membujuk Jiya juga tidak mempan, jika Jiya tidak menyukai sesuatu, maka dia tidak akan melakukannya.

"Maksa banget sih, aku kan gak mau, kenapa kamu yang jadi sibuk ngurusin aku buat ikutan kelas tambahan itu, lagipula kalau aku gak ikut, juga gak ada rugi nya buat kamu, kan?".

"Arghh.. sabar.. Kamu harus sabar Mia menghadapi sikap Jiya itu", Mia tarik napas dan mengelus dada nya, menahan emosi saat berbicara dengan Jiya. Berbicara dengan Jiya memang butuh kesabaran yang ekstra, tidak heran mengapa Jiya selalu sendirian seperti ini, mungkin orang lain lelah menghadapi sikap Jiya yang tidak pernah berubah itu. Jiya beruntung memiliki teman seperti Mia yang selalu ada untuknya, walau masih ada jarak diantara keduanya disebabkan Jiya itu adalah orang dengan kepribadian Introvert, pemalu, dan pendiam, juga seperti anak antisosial, sehingga sulit untuk mendekatkan diri kepada Jiya. Jiya hidupnya juga penuh dengan privasi dan rahasia. Entah apa yang membuat teman sebangku itu bisa seperti sekarang ini, entah bagaimana cara Mia untuk berusaha lebih dekat dengan Jiya.

"Aku gak mau tau, pokoknya kamu harus ikut! aku akan bilang ke Pak Alan kalau kamu bakalan ikut kelas tambahan itu. Tidak ada penolakan ataupun bantahan!!", Keputusan final dari Mia. Jiya yang mendengarnya hanya bisa pasrah saja, entah bagaimana nasib gadis itu kedepannya.

                                                       _ _ _

Bunyi bel sekolah kedua berdering menandakan waktu istirahat dimulai.

"Jiya, ke kantin yuk! gak bosan kalau disini terus? mending ikut aku aja ke kantin."

Baru saja Jiya ingin menutup matanya berniat untuk tidur ditempatnya itu diurungkan karena ajakan Mia untuk ke kantin.

"Yaudah deh", Terima Jiya, entah apa yang merasuki gadis itu, sehingga mau saja diajak oleh Mia. Biasanya gadis itu selalu tidak ingin pergi ke kantin yang dipenuhi banyak orang yang dapat membuatnya pusing dan mual itu.

"Jiya, kamu tau gak cowok yang tadi lewat itu?", Ucap Mia tiba-tiba berhenti ditengah jalan kala melihat seorang cowok yang seumuran dengan mereka berdua, berjalan melewati keduanya dengan langkah terburu-buru.

"Oh dia yang namanya Dean itu, kan? Anak kelas 7.1, kalau gak salah dia itu ketua ekskul paskibra dan paduan suara, kenapa memangnya?"

"Aku gak nyangka ternyata kamu yang anak ansos gini bisa tau dia juga ya, benar-benar populer banget Dean itu ya haha", Kekeh Mia terkesan mengejek Jiya.

Tersadar akan sesuatu yang membuatnya penasaran, lantas Mia kembali melanjutkan pembicaraannya, "Ohya, kamu tau darimana tentang dia? Aku tau dia itu terkenal, banyak siswa-siswi bahkan guru-guru di sekolah ini membicarakannya, tapi kalau untuk orang seperti kamu gini, yang selalu menyendiri dan gak peduli dengan orang lain, gak mungkin tau cowok itu karena menguping pembicaraan orang lain tentang dia, kan?"

Tbc