
"Pa, ada surat dari sekolah." Rana menjulurkan tangannya dengan memegang sepucuk surat berbentuk persegi panjang dan meletakkannya di depan Raka.
"Surat apa? Apa surat panggilan untuk wali murid?" tanya Raka, sambil mengunyah makanannya.
Lidia menoleh kearah suaminya sambil mengernyitkan dahi, "Anakmu bukan anak yang nakal, Mas." Lidia menarik daun telinga Raka dan Raka terkekeh kegelian.
Raka mengambil sepucuk surat itu dan membukanya. Dia hanya membaca point tertentu saja, hingga waktu membaca surat itu sangat cepat.
"Kapan akhir waktunya?" Suara Raka sedikit tergagap, karena melihat jumlah uang yang harus di bayarkan.
"Bulan depan Pa. Kalo gak segera bayar, ya Rana gak bisa ikut ujian. Oh ya, SPP Rana juga masih kurang dua bulan, Pa. Kapan Papa mau bayar? Kalo sampe masuk bulan ke tiga, Rana gak boleh masuk kelas, Pa!" Suara Rana mulai terdengar kurang bersahabat.
Lidia pun terkejut mendengarnya, "Loh, kok bisa nunggak, Mas? Sejak kapan ada tunggakan SPP?" Lidia kembali mengerutkan kening. Dan kini, dia menoleh ke arah putrinya.
"Atau jangan-jangan, kamu yang telat minta ke papa?"
Rana terdiam. Dia menatap wajah Raka yang mulai terlihat pucat.
Suasana pun hening, seketika pecah dengan terdengar suara ponsel berdering.
"Ya, halo." Raka menjawab panggilan ponselnya. Seketika dia berdiri dan bangun. Lalu meninggalkan ruang makan begitu saja.
Tidak lama kemudian, Raka kembali dan segera berpamitan.
"Papa berangkat, Ma." Kecupan ringan pun mendarat di ubun-ubun Lidia, lalu pergi begitu saja, tanpa melihat reaksi sang istri.
Lidia meraih jas yang bergantung di sandaran kursi sambil berteriak, "Mas, jasnya!"
Raka pun tak kalah nyaring, ikut berteriak menjawabnya, "Gak usah, Ma!"
Lidia hanya menghela nafas dalam, sedangkan Rana memperhatikan keduanya.
Rana masih terus makan, sambil memperhatikan ekspresi wajah Lidia.
"Ma, papa sekarang gak pernah bawa mobil ya, sayang banget mobilnya di anggurin. Dan sekarang, papa tuh udah gak pernah pake jas lagi kalau kerja. cuman kemeja aja, malah kadang cuma pake kaos."
"Ah, kadang masih suka pake kok, tapi belakang ini memang jarang. Soal mobil, sekarang papamu lebih sering dijemput ojek, katanya lebih hemat waktu," sahut Lidia.
Kedua mata Rana penuh selidik, "Ojek, Ma? Apa papa berlangganan? Kok orangnya dia-dia terus, ampe Rana hapal wajahnya. Rana juga pernah liat orang itu di komplek deket sekolah, perumahan mewah itu loh, Ma."
"Mungkin dia kerja sampingan kali Ran, Mama sih gak pernah liat tuh tukang ojek, kan tiap kali dia jemput papamu, dia nunggu di luar," kata Lidia.
Lidia meletakkan sendok di atas piring, lalu menumpukkannya dengan yang lain. "Ayo cepat berangkat, nanti telat loh, Ran."
Rana pun beranjak dan berpamitam untuk berangkat ke sekolah. Tapi benaknya masih terus memikirkan Raka, papanya.
"Ah, sudahlah. Mana mungkin papa akan macam-macam. Tapi aneh juga sih, stile papa agak beda sekarang, lebih sederhana," pikirnya.
Sementara, Raka sudah berada di rumah Rogayah. Rumah yang sangat mewah, yang di disain sedemikian rupa, tapi sayang, rumah itu nampak sepi.
Rogayah terlihat cantik dan seksi, menyambut kedatangan Raka. Rogayah masih berdiri di depan pintu kamarnya, masih mengenakan piyama.
Sambil bertelak pinggang, dan menyandarkan tubuhnya di depan pintu kamar, dengan piyama yang sedikit terbuka di bagian dadanya, Rogayah menarik kedua sudut bibirnya sedikit. Terlihat senyuman yang seksi dan sedikit menghina.
"Kenapa kamu datang ke sini, Sayang? Harusnya kamu langsung datang ke ruko, banyak pekerjaan yang harus kamu tangani."
Raka masuk ke dalam kamar Rogayah, dengan menepis pelan tangan Rogayah, karena menghalangi tubuhnya di depan pintu kamar.
Raka menghembuskan nafasnya sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Rogayah. Kedua matanya mengapa langit-langit kamar, dia mencari kata untuk mengawali pembiicaraannya pada Rogayah.
Tanpa menutup pintu kamar, Rogayah menyusul Raka dan duduk di sisi tempat tidur. Sambil membelai rambut Raka, Rogayah bertanya,
"Apa yang kamu butuhkan, Sayang?" Rogayah menatap sendu wajah Raka. Raka pun membalikkan tubuhnya dan bersandar di pangkuan Rogayah. Ingatannya kembali pada Rana.
"Aku butuh uang sekarang, Bu. Melebihi kebutuhanku seperti biasanya," jawab Raka.
Tangan Raka mulai bergerilya,, dia tahu apa yang di inginkan Rogayah jika bertemu dengannya. Memuaskan nafsunya hingga ke ubun-ubun, dan Rogayah akan selalu memberikan apa yang Raka inginkan.
"Bukankah aku sudah mengirim uang ke rekeningmmu, kemarin? Apa masih kurang?" Rogayah mengatur nafasnya. Sentuhan demi sentuhan yang Raka berikan membuat nafasnya berantakan.
Tapi Rogayah tidak mau terlihat semua itu di depan Raka, dia masih berusaha menguasai dirinya.
"Rana mau ujian, Bu. Tadi dia baru ngasih surat pemberitahuannya dari sekolah. Dan juga, dia menagih bayaran SPPnya, nunggak dua bulan." terlihat wajah Raka memelas.
Hampir saja Rogayah hilang kesadarannya karena sentuhan tangan Raka yang bertubi-tubi dari bawah piyamanya. Nafasnya mulai tersengal-sengal, dan desahan mulai terlantun dari bibir mungilnya.
Tapi semua itu buyar mendengar perkataan Raka yang mengejutkan baginya.
PLAKKK!!!
Seketika tangan Rogayah menampar pipi kiri Raka. Membuat aktivitas Raka saat itu terhenti.
"Memalukan!" bentak Rogayah.