DI(E)ARY

DI(E)ARY

Helion

0

"Na, kamu nggak mau bilang sesuatu sama aku gitu?" Tanyaku sambil menatap Nana yang duduk di sebelahku. Nana yang semula menatap buku hitam di tangannya kini beralih menatapku.

"Nggak ada." Jawabnya. 

Aku memutar alis sepersekian detik lalu kembali menatap Nana yang terlihat sangat pucat hari ini. 

"Padahal aku tahu loh apa yang sudah terjadi di sekolah tadi pagi." Aku memancing Nana agar dia bercerita padaku. Setidaknya aku harus mendengar dari mulut Nana sendiri tentang insiden yang kudengar.

Nana menatapku lebih dalam, bahkan hampir tidak berkedip. "Toh kamu juga udah tahu kejadiannya kayak gimana." Katanya kemudian.

Kali ini aku melotot. "Serius? Kamu beneran berantem sama Meira gara-gara dia mau ambil buku itu?" Tanyaku sambil menunjuk buku yang berada di pangkuan Nana. 

Nana mengangguk. Aku merespons dengan menggelengkan kepala. Benar-benar tidak masuk akal. Meira itu anak kepala sekolah. Selama ini, tidak ada yang berani membuat masalah dengan dia semenjak dia bersekolah. Dia sekelas dengan Nana. Dan tadi pagi aku mendengar bahwa Meira bertengkar dengan Nana.

"Sebenernya apa sih isi buku itu sampai-sampai kamu nggak mengizinkan siapapun pegang buku itu?" Tanyaku lagi.

Nana kembali mengalihkan tatapannya pada buku hitam legam itu. Kali ini sambil tersenyum miring. "Segalanya penuh makna." Katanya kemudian.

Aku bergidik ngeri. Senyum Nana terlihat tidak biasa. "Pulang yuk." Kataku sambil berdiri dari bangku halte. Bus yang kami tunggu sudah merapat di depan halte. Saatnya aku dan Nana pulang.

*

*

*

  Rumahku dan Nana bersebelahan. Kami juga sudah bersahabat sejak kecil. Bahkan mungkin sejak kami lahir. Dan perkenalkan, namaku Helion. Nama yang aneh kan? Tapi aku suka nama itu. Aku suka sesuatu yang berbeda dengan orang lain. Dan tidak ada seorangpun yang namanya sama denganku. 

"Li, nggak turun?" Aku menoleh lalu kemudian mengangguk. Bus yang kami tumpangi sudah dekat dengan rumahku. Aku dan Nana turun disini. Tapi sebuah kejadian tak terduga terjadi. Nana pingsan di pintu keluar bus. Aku berseru panik dan segera meraih Nana. Seruanku menyita perhatian seluruh penumpang bus.

Aku dibantu seorang bapak segera menurunkan Nana dari bus dan mendudukkannya di halte. Kami mendapat perhatian penuh dari calon penumpang yang semula duduk di halte.

Aku menggoyang-goyangkan bahu Nana. Sayangnya guncangan kecil yang kubuat tidak berhasil membuat Nana siuman. Aku beralih menepuk-nepuk pipinya. Tetap tidak berhasil juga. Aku berkeringat dingin sekarang. Ya Tuhan, kumohon sadarkanlah temanku. 

Bapak yang tadi menolongku memapah Nana menyentuh bahuku. Aku menoleh. "Jangan panik nak. Sebentar lagi dia akan siuman. Sepertinya dia kelelahan. Kalian kelas tiga SMA bukan? Puncaknya kehidupan sekolah. Temanmu ini sepertinya terlalu banyak belajar dan kurang tidur."

Aku hanya mengangguk-angguk walaupun sebenarnya tidak terlalu mendengarkan perkataan si bapak dan kembali menepuk-nepuk pipi Nana.

Satu menit. Nana akhirnya membuka matanya. Tapi persis ketika matanya terbuka. Darah segar keluar dari hidungnya. Sekali lagi aku berseru panik. Apa yang harus aku lakukan kali ini?

Tapi diluar dugaan, Bapak tadi segera mengeluarkan sapu tangan dari tas yang tersampir di bahunya. Beliau begitu tenang seakan sudah terbiasa dengan situasi seperti ini.

Nana menerima uluran sapu tangan itu dan segera membersihkan darah di hidungnya. Darah dari hidungnya lama kelamaan semakin banyak. Aku bergidik melihatnya. Belum pernah aku melihat orang yang mimisan selama dan sebanyak itu.

Aku masih memerhatikan Nana lamat-lamat ketika tiba-tiba dia muntah. Aku melebarkan mataku. Nana muntah darah. Aku melirik bapak yang sedari tadi menemani kami. Beliau sedang berbicara dengan seseorang lewat teleponnya dan jalanan ini sudah sepi. Hanya ada beberapa motor yang melintas. Aku cemas sendiri. Aku harus meminta tolong pada siapa? Apa yang harus kulakukan? Menggendong Nana ke rumah sakit? Mustahil. Tanganku saja sudah Tremor sejak awal Nana pingsan.

Aku akhirnya menyentuh bahu Nana yang tengah menyeka darah di sudut bibirnya. Air mataku tumpah kali ini. Nana terlihat sakit sekali. Apa dia biasanya memang seperti ini atau ini yang pertama kalinya?

"Sebentar lagi ambulans datang. Kamu jangan khawatir. Kita akan membawa temanmu ke rumah sakit segera." Bapak yang tadi kembali ke sebelahku. Kali ini raut wajahnya agak panik setelah melihat Nana. 

Lima menit, ambulans menepi tepat di depan kami. Benar-benar lima menit yang sangat menguras kekhawatiranku. Lima menit itu, Nana tidak berhenti mengeluarkan darah. Dari mulut dan juga hidung.

Nana dan bapak itu naik ke ambulans. Aku awalnya menyusul langkah kaki mereka. Tapi ketika aku hendak masuk, bapak tadi mencegah langkahku. Aku mengernyitkan dahi. Apa aku tidak boleh masuk?

"Kamu pulang saja. Kalau bisa, kamu kabari orang tua temanmu dan beritahukan bahwa temanmu di bawa ke rumah sakit Medical Center. Tenang saja, kamu bisa percayakan temanmu pada saya. Saya salah satu dokter di rumah sakit itu. Saya pergi dulu ya." Katanya sambil menaiki ambulans.

Dalam sekejap, ambulans itu sudah meneriakkan suara lantangnya di jalanan ini. Kejadian itu bahkan sangat cepat hingga aku tidak bisa menolak apa yang dibicarakan bapak itu. Aku bahkan tidak sempat khawatir tentang status bapak itu yang benar-benar dokter atau bukan. Aku lebih khawatir tentang keselamatan Nana.

Tanpa berpikir dua kali, aku berlari kearah rumah Nana. Semoga saja Tante Mayang ada di rumah.

*

*

*

Dengan nafas yang sangat tidak beraturan, akhirnya aku sampai di depan pintu rumah Nana. Segera aku ketuk dengan keras berbarengan dengan kata salam yang tanpa sadar kukatakan dengan setengah berteriak. Suara Tante Mayang segera terdengar dari dalam.

"Loh Lii, kenapa mukamu begitu? Tumben nggak sama Nana? Biasanya bareng terus." Tante Mayang muncul dengan celemek yang menutupi kemeja putihnya. Nampak sekali kalau beliau tengah menyiapkan makan untuk keluarga mereka.

"Nana masuk rumah sakit, Tan." Kataku dengan suara yang masih belum stabil.

Raut muka Tante Mayang seketika berubah. Beliau sudah jelas sangat terkejut mendengar apa yang kukatakan barusan.

"Kamu ngeprank tante ya?"

Aku menggeleng sambil menyeka air mata disudut mataku. Tanpa sadar sepertinya aku menangis sambil berlari kesini. "Ini serius tante. Barusan Nana dibawa ambulans ke rumah sakit.

"Rumah sakit apa, Lii?" Rona wajah Tante Mayang seketika cemas.

"Medical Center Tante."

Tante Mayang masuk rumah lagi. Kali ini fokusnya sudah buyar. Beliau entahlah sedang mencari apa. Aku juga sudah lemas sekali, tidak bisa membantu banyak. Hanya bisa berdiri di ambang pintu.

Tante Mayang akhirnya menemukan apa yang dia cari. Kunci mobil. Dia menghampiriku yang tengah bersandar di pagar.

"Tante mau nyusul Nana dulu, Lii." Tante Mayang melangkah melewatiku. Bahkan beliau lupa kalau celemeknya masih dipakai.

"Aku ikut Tante."

"Kamu dirumah saja. Nanti kalau Nana harus menginap, Tante akan cepat cepat kabari kamu. Syukur kalau tidak harus menginap. Tunggu kabar baik dari Tante ya Lii." Tante Mayang menoleh ke arahku dan segera berjalan ke garasi mobil. Aku sekali lagi tidak bisa berbuat apapun selain menganggukkan kepala.

Mobil Tante Mayang sudah tidak terlihat. Aku menatap ke dalam rumah Nana. Tante Mayang panik sekali sampai-sampai dia lupa mengunci pintu rumah. Aku meraih gagang pintu dan menutupnya lalu berjalan pelan ke rumahku.

*

*

*

Penasaran dengan keadaan Nana di rumah sakit? Dan bagaimana paniknya Helion ketika mengetahui keadaan temannya? Ikuti terus kelanjutan cerita ini^_^ Semoga kalian suka. Sampai jumpa.