
Sebuah kendaraan berhenti tepat di area drop off yang sudah sepi. Lingkungan sekolah itu lengang karena murid-murid sudah pulang satu jam yang lalu. Setelah pintu mobil terbuka, seorang wanita dengan rambut dikuncir ekor kuda buru-buru turun dan kendaraan itu pun berlalu.
“Siang, Bu,” sapa seorang petugas sekuriti yang berjaga di balik meja.
“Siang, Pak. Sudah pulang semua, ya, Pak?” Wanita itu membalas sapaan sekuriti sekaligus mengajukan tanya. Dia sudah cukup akrab dengan beberapa petugas sekuriti di sini. Begitu juga sebaliknya. Mereka—sekitar dua sampai tiga orang petugas sekuriti yang berjaga bergantian—cukup hafal dengan nama orang tua dan murid di sini.
“Iya, Bu. Sudah dari tadi. Tisha menunggu di depan ruang TU, Bu,” jawab petugas sekuriti itu sambil menunjuk bangunan bertingkat tiga di belakangnya.
“Makasih, Pak.” Wanita itu mengangguk lalu bergegas menuju arah yang sudah dikenalnya. Dia melewati taman kecil dan kolam ikan di dekat sebuah pohon yang rindang.
Dia tersenyum menatap pohon mangga yang rindang itu. Sebuah gumaman muncul di bibirnya, “Lucu juga yang kasih nama tempat ini ‘di bawah pohon rindang’, disingkat DPR. Ada-ada aja.”
Di bawah pohon rindang itulah, rutinitasnya yang membosankan berubah jadi menyenangkan. Perkenalannya dengan ibu-ibu lain bermula dari sana dan membawanya dalam sebuah petualangan yang belum pernah dia rasakan. Dia pun sudah merasa akrab dan cukup dekat dengan mereka seolah telah saling mengenal sejak lama. Padahal kegiatan ini baru berlangsung beberapa bulan.
Pengalamannya hari ini pun sangat seru dan menyenangkan. Secara tiba-tiba mereka membelokkan arah tujuan yang seharusnya di dalam kota menjadi ke luar kota. Perjalanan itu memakan waktu hampir dua jam. Namun, semuanya terbayar saat tiba di tujuan dan menikmati makanan yang sedang viral di sosial media. Salah satu dari mereka yang merupakan selebgram dan food blogger yang merekomendasikannya.
“Eh, ayo, foto-foto dulu! Sayang banget view bagus begini nggak dimanfaatin!”
Hanya dengan kalimat itu, mereka langsung memilih posisi yang paling bagus di depan kamera lalu berpose bak model. Sesekali mereka berpose ala-ala idol K-Pop atau artis favorit mereka. Pun mereka bergaya imut seperti anak remaja walau usia tak lagi muda. Motto mereka adalah, “usia boleh tua, tapi jiwa harus tetap muda. Hidup hanya sekali, bersenang-senanglah!”.
Tak hanya berfoto di satu tempat, mereka akan berpindah-pindah demi mendapatkan spot yang instagramable. Mereka juga rela mengulangi beberapa kali pose yang sama karena hasilnya belum cukup bagus. Termasuk adegan melompat yang seringkali hasilnya belum memuaskan karena tidak kompak.
“Iiih, kok cuma kamu yang belum lompat? Masih pose siap-siap. Padahal yang lain udah bagus! Ayo, ulang! Ulang! Kali ini harus bener!”
“Aduh! Aku kelihatan besar di sini! Ganti posisi dong!”
“Wah, aku mereeem! Ulang!”
“Ah, ini udah bagus! Udah kompak! Tapi, di belakang kok ada orang ikut nebeng foto?! Nggak sopan!”
“Nggak apa-apa. Nanti dikasih stiker atau diedit aja. Masa mau ngulang lagi?”
Demikianlah ocehan-ocehan dari mereka ketika melihat hasil foto dan juga video yang mereka ambil. Mereka tidak akan berhenti melakukannya jika salah seorang tidak mengingatkan tentang waktu.
“Ya, ampun! Udah jam segini! Aku mesti jemput anakku!” Wanita berambut sebahu tampak panik ketika melihat jam di hapenya.
Yang lain terkejut dan saling menyahut.
“Lha? Berarti kamu nggak ikut lanjut dong?”
“Gimana sih? Kita belum ke tempat lainnya lho!”
Wanita itu tampak menyesal, tapi tidak ada jalan lain. “Iya. Sori banget, ya. Aku mesti pulang duluan.”
Semua terdiam seperti saling memikirkan sesuatu. Lalu ….
“Ya, udah deh. Kita selesai aja dulu di sini. Kapan-kapan aja balik ke sini,” usul seseorang yang tampak berkharisma.
“Aduh! Jangan! Nggak usah! Aku aja yang pulang. Kalian bisa lanjut sendiri,” tolak wanita tadi.
“Nggak apa-apa nih?”
“Iya, nggak apa-apa kok.”
“Kalau gitu, kita anter aja ke terminal atau halte bus, ya. Aku nggak tenang kalau kamu pulang sendirian. Padahal kita berangkatnya sama-sama.”
Wanita berambut sebahu akhirnya mengangguk walau merasa tidak enak karena terpaksa menghentikan keseruan di antara mereka. Dia pun turun di halte dan mencegat bus tujuannya. Setelah berpamitan, dia langsung menaiki bus dan melambaikan tangan pada wanita-wanita yang mengantarnya.
Lebih dari satu setengah jam kemudian, bus yang dia tumpangi berhenti di terminal. Namun, perjalanannya masih belum selesai. Dia masih harus memesan taksi dari terminal ke sekolah. Tidak begitu jauh sebenarnya. Hanya saja jalur lalu lintas antar kota ini dipenuhi kendaraan besar dan cukup padat di jam-jam sibuk.
Dia tampak panik karena sudah sangat terlambat. Ditambah cuaca panas dan gerah membuat keadannya jadi tidak nyaman, meski dalam kendaraan ber-AC dan sudah mengikat rambutnya. Berkali-kali dia melirik angka penunjuk waktu di layar hapenya. Bisa dipastikan wajah putri kesayangannya akan cemberut karena terlalu lama menunggu. Gadis berusia 13 tahun itu juga akan mengomel karena kesal sang ibu seakan menelantarkannya.
Benar saja. Begitu kakinya menapak di lantai keramik gedung sekolah, sebuah suara melengking menyambutnya. Di depan ruang TU, di samping kursi rotan yang baru saja diduduki, seorang gadis berparas manis melotot dan berkacak pinggang. Wajahnya sudah merah dan peluh bercucuran di dahinya.
“Mama ke mana aja sih jam segini baru dateng?!”