Derana & Paket Data

Derana & Paket Data

Nimatus

0

Sepasang mata dengan alis tipis milik seorang gadis berambut panjang, mengerjap malas menatap layar ponsel yang tergeletak di atas etalase. Ponsel iu dibiarkan menyala, menampilkan info sebuah novel yang sedang dalam masa Pre-Order. 

Bibir perempuan itu mencebik dengan wajah yang tertekuk. Bahunya menurun dan dengusan napas keluar dari mulutnya yang kering. Derana. Gadis penjaga counter pulsa itu meletakkan kepalanya di atas etalase sambil terus menatap postingan di akun instagram sebuah penerbit, yang tengah mempromosikan salah satu novel yang dalam masa PO dengan berbagai merchandinse yang menarik. 

"Selamat siang, Nona!"

Suara bas yang terdengar membuat gadis itu mendongak. Mata sipitnya mengerjap mendapati lelaki berkemeja batik yang digulung selengan, sudah berdiri di depan counter dengan senyum khasnya, yang selalu menampilkan dua cekungan di pipi kiri dan kanannya. 

Laki-laki itu menarik kursi bar bundar setinggi 70 cm yang terbuat dari kayu jati yang berada di sana dan mendudukinya. Lantas, menumpukan kedua tangannya di atas etalase. "Ada apa, De? Kenapa wajahmu seperti pakaian kusut? Apa kamu salah menghitung kembalian lagi?" tanyanya. 

Beberapa hari yang lalu Dera memang sempat bercerita kalau ia salah memberikan kembalian. Sehingga gadis itu harus mengganti kelebihan kembalian yang ia berikan agar tak terkena marah oleh bosnya. 

"Enggak, Dip. Aku nggak papa." Dera mengangkat kepalanya ketika sebuah motor berhenti di depan counter. Gadis itu segera berdiri dan menyambut pelanggannya dengan senyum ramah. 

"Mbak, saya mau beli voucher," ujar remaja berseragam putih abu-abu menatap etalase yang berisi berbagai macam voucher kuota all operator

"Yang kayak biasanya?" tanya Dera sembari menggeser kaca etalase. 

"Iya, Mbak."

Remaja itu adalah customer tetapnya. Dera sudah hafal dengan paket data yang selalu dibeli oleh remaja bernama Sakti tersebut, yaitu voucher kuota Six 2 GB dengan masa aktif 5 hari yang harganya dua belas ribu. 

Menggeser kaca etalase, Dera mengambil satu voucher yang terpasang di akrlirik display kartu perdana di deretan kiri dan memberikannya pada Sakti. Remaja itu menyerahkan selembar uang yang langsung diterima Dera untuk ia ambilkan kembalian. 

"Terima kasih," ucap Dera ramah saat mengulurkan kembalian. 

Baru saja remaja itu pergi, seorang ibu-ibu berhijab datang. Dera menyambutnya ramah. Tak lupa ia juga menanyakan apa yang dibutuhkan oleh ibu-ibu tersebut. 

"Ora, Nduk. Saya ndak mau beli voucher. Cuman mau minta tolong aktifin kartu perdana. Bisa?"

[Tidak, Nak.]

"Oh, inggih saged, Bu. Tapi, harus pakai nomor KK sama NIK."

[Iya, Bisa]

Ibu-ibu itu mengeluarkan selembar foto copy KK miliknya. "Ini, Nduk. Minta tolong aktifin ya? Soalnya Ibu ndak bisa, ndak paham juga. Itu tadi baru beli buat ngehubungin anak Ibu di Hongkong."

"Siap, Bu." Dera mengangguk sopan dan mengambil ponsel juga foto copy KK. Dia mulai mengutak-atik layar ponsel tersebut untuk melakukan registrasi kartu. 

Dipa memerhatikan Dera yang sibuk dengan ponsel pelanggannya sembari menerangkan tentang cara meregistrasi kartu. Cara penyampaian gadis itu yang lembut dan tidak terburu-buru, begitu jelas dan tidak terbelit-belit membuat Dipa tanpa sadar menarik sudut bibirnya, tersenyum. Dia selalu kagum dengan Dera dan segala hal tentang gadis itu. 

Mata laki-laki berambut belah tengah itu pun bergerak mengamati counter yang didesain seperti booth container yang biasanya menjual makanan dan minuman. Counter minimalis itu dicat warna kuning cerah dengan bagian depan dan samping yang terbuka layaknya stand minuman. Di bagian depan terdapat etalase kaca tempat menata voucher dan kartu perdana. Di depan counter juga disediakan kursi bar yang terbuat dari kayu jati untuk duduk pelanggan.

Di counter "Mentari" ini memang hanya menjual pulsa, paket data elektrik, token listrik, voucher, dan kartu perdana. Tidak ada ponsel maupun jasa perbaikan ponsel. 

Counter berukuran 3x2 meter itu berada di pinggir jalan raya. Di sisi kanan counter terdapat stand minuman boba. Sedangkan di sebelah kiri terdapat tenda kecil penjual es bubur kacang hijau. 

Cuaca siang ini yang panas ditambah dengan booth container yang terbuat dari galvalum, menambah kegerahan Dera. Keringat sebesar beras bermunculan di pelipis gadis berkuncir kuda itu. Dan hal itu tak luput dari perhatian Dipa. Laki-laki berlesung pipi itu melirik ke arah jam tangannya yang menunjukkan pukul dua siang. Masih ada waktu satu jam untuk mengobrol dengan Dera sebelum mengunjungi cafe miliknya yang berada di tengah kota. Dipa pun memutuskan akan membelikan sesuatu yang dingin untuk Dera. 

"Mbak Lana! Es boba-nya dua ya!" teriak Dipa pada Kalana, kakak kelasnya dengan Dera sewaktu SMA yang kini menjaga stand boba yang masih satu bos dengan Dera. 

"Yang kayak biasanya ya, Mbak!" imbuh Dipa dibalas acungan jempol Kalana. 

"Dip," panggil Dera yang sudah selesai dengan pelanggannya. Ia sekarang tengah mengelap kaca etalase menggunakan kain lap. 

"Hm. Iya, De." Dipa menjawab sambil memerhatikan gadis itu. Dera memang tidak secantik gadis di luaran sana. Kulitnya sawo matang dan badannya kurus. Namun, lesung pipi yang samar di bagian kanan pipinya juga tahi lalat di dagunya menambah kesan manis pada gadis bermata sipit itu. Khususnya, bagi Dipa. 

"Kamu nggak perlu beliin aku es boba. Aku bisa beli sendiri kalau aku mau, Dip."

"Nggak apa-apa, De." 

"Tapi, aku enggak enak, Dip. Setiap mampir ke counter kamu selalu beliin aku makanan atau minuman. Rasanya aku kayak punya hutang sama kamu." Dera kembali duduk dengan kedua tangan yang ia tumpukan di atas etalase. 

"Ini bukan hutang, De. Aku membelikan ini gratis karena kamu sahabatku. Jangan pernah menganggap ini hutang." 

"Nanti kamu tidak bisa tidur lagi gara-gara memikirkan ini," kekehnya. 

Dera hanya bisa menghela napas. Percuma melarang Dipa untuk tidak membelikannya makanan dan minuman setiap ke counter. Laki-laki itu tak pernah mengindahkan ucapannya. 

"Terserah, Dip. Yang penting aku nggak mau ya nanti di akhirat tiba-tiba aku ditagih soal makanan sama minuman ini gara-gara kamu ngasihnya nggak ikhlas dan kehitung hutang," seloroh Dera. 

Dipa menegakkan tubuhnya. "Astaga, De. Pikiranmu terlalu jauh, tidak mungkin aku seperti itu."

"Ya, siapa tahu, Dip. Kan, tidak ada yang tahu isi hati seseorang itu seperti apa." Dera mengatakan itu sembari mengangkat bahu. Bibirnya berkedut menahan senyum melihat ekspresi Dipa yang kesal. 

Biarkan saja, selama ini Dipa yang suka mengusilinya. Sekarang gantian Dera yang akan menjahili laki-laki itu. 

"Aku tidak hitung-hitungan seperti itu, De," bantah Dipa. 

"Ya, itu di bibir. Bagaimana dengan hatimu?" 

Dipa beristigfar dan itu membuat Dera tertawa. 

"Aku hanya bercanda, Dip," jujurnya kemudian. 

Dipa menggeleng. Lalu, sedikit mencondongkan tubuhnya untuk meraih kepala Dera dan mengacak rambutnya gemas sampai tatanan rambut yang dikuncir kuda itu berantakan. 

"Sudah berani membalasku ternyata!" Dipa terus mengacak rambut Dera meskipun gadis itu sudah meminta berhenti. 

"Dipaaaaa!" rengek Dera. 

Lana yang datang membawa dua cup es boba menggeleng melihat kelakuan dua adik kelasnya itu. Sudah biasa melihat mereka bertengkar semacam ini. 

"Uwis, Dip. Nangis mengko," canda Lana meletakkan dua cup minuman itu ke atas etalase. 

[Sudah, Dip. Nangis nanti.]

Dipa menghentikan aksinya. Dia kembali memundurkan tubuh dan langsung mengambil cup itu dan menusuknya dengan sedotan. Rasa brown sugar dengan manis legit gula aren yang dicampur susu creamy seakan menari-nari di mulut Dipa. Dan begitu minuman itu melewati tenggorokan dan turun ke lambungnya, seketika rasa dingin dan segar menjalari tubuhnya. 

"Ah, seger banget."

Lana yang hendak kembali ke stand melirik ke arah ponsel Dera yang berada di atas etalase, masih menampilkan akun instagram salah satu penerbit. 

"Kamu jadi ikut PO novel itu, De?" tanya Lana penasaran. Beberapa jam yang lalu Dera memang sempat bercerita mengenai kegalauannya perihal ikut PO atau tidak. 

Pertanyaan Lana membuat atensi Dipa pada minumannya teralih. Dia ikut melihat ke arah ponsel Dera yang tergeletak seolah tak berdaya. "Kamu mau beli novel, De?"

Merapikan rambutnya yang tadi diacak-acak oleh Dipa, Dera pun mendesah kecil. "Enggak. Uangnya mau buat keperluan lain."

Sebenarnya Dera ingin sekali membeli novel tersebut. Sebuah novel yang menceritakan tentang perjuangan seorang perempuan dalam meraih mimpinya dari nol sampai sukses. Dera ingin mempelajari cara sukses si tokoh sekaligus gaya bahasa buku terbitan penerbit yang selama ini ia incar. Sayangnya, kebutuhan lain melambai-lambai di bulan ini. 

Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Dera harus bisa membagi penghasilannya menjadi tiga, yakni kebutuhan pribadi, kebutuhan rumah, dan tabungan. Meskipun Dera hanya bisa menggunakan gajinya untuk sekadar membeli alat mandi, sabun, bumbu dapur, dan mungkin beberapa kebutuhan kecil lainnya seperti jajan kedua adiknya. Setidaknya ia bisa sedikit meringankan beban kedua orang tuanya yang hanyalah buruh tani.

"Oh, jadi ini yang bikin wajahmu kusut kayak baju kotor itu, hm?" tanya Dipa setelah menyerahkan sejumlah uang pada Lana  dan perempuan itu kembali ke stand-nya. 

Dera tidak mengangguk juga tidak menggeleng. Tapi, wajahnya tidak menampilkan senyum. 

"Apa kamu sangat menginginkan novel itu, De?"

Dera menggeleng lemah. Bohong jika dia tidak menginginkan novel itu. Dera begitu menginginkannya. Tapi, ia sadar di usianya yang menginjak dua puluh dua ini seharusnya ia bisa membedakan mana yang kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Dan novel itu termasuk ke dalam kebutuhan tersier baginya. 

"Oke. Aku bakal beliin buat kamu, De."

Dera mengangkat wajahnya dengan mulut terbuka. Apa? Dipa akan membelikan novel itu untuknya? Apa laki-laki itu sudah gila!

"Jangan, Dip!" cegah Dipa memegang tangan Dipa yang berkutat pada ponsel. Laki-laki itu sudah membuka aplikasi belanja online untuk ikut memesan novel itu yang dalam masa Pre Order. 

"Jangan seperti ini," mohon Dera. Dia tidak mau dianggap memanfaatkan Dipa yang notabene adalah anak orang terpandang.

Iya, Dipa ini sebenarnya anak orang kaya. Ayahnya adalah Kepala Sekolah Dasar tempat adiknya mengenyam pendidikan dan ibunya seorang dosen di salah satu universitas swasta di Madiun. Dipa sendiri adalah seorang guru matematika di sekolah dasar. Selain itu, ia juga mengelola sebuah cafe di tengah kota. 

"Aku nggak papa nggak jadi beli novel itu. Lagian itu bukan kebutuhan primer, Dip. Aku bakalan ngerasa sangat berhutang sama kamu kalau sampai kamu ngebeliin buat aku. Dan aku pasti bakalan nggak bisa tidur tenang malam nanti, Dipa," ujar Dera serius. 

Dipa mengabaikan tatapan Dera. Dia fokus pada ponselnya. Dan ... "Yah, sayangnya aku telanjur men-checkout-nya, De."

"Diiip!" Dera mengempaskan tangan cowok itu dan menghela napas lelah. 

"Aku tetep nggak bakalan mau nerima novel itu. Dan setelah ini jangan datang menemuiku lagi. Aku benci sama kamu, Dip," ujar Dera memasang wajah jutek.

Melihat wajah Dera seperti itu. Dipa memikirkan bagaimana caranya agar Dera mau menerima novelnya. Beberapa saat ia terdiam sambil memandangi wajah Dera. Sebuah ide terlintas di benaknya. 

"Ah, aku punya ide," tukasnya dengan mata berbinar. 

"Bagaimana kalau kita melakukan barter?"

"Barter?" ulang Dera tidak mengerti. 

"Iya, barter. Aku akan menukar novel itu dengan paket data di sini."

Dera mencoba mencerna kalimat Dipa. Menukar novel dengan paket data? Itu artinya Dipa mau ia membeli novel itu dengan paket data. Dan ia nantinya yang akan membayar paket data itu pada bosnya.

Tapi, harga novel yang telanjur Dipa checkout itu mencapai dua ratus ribu. Uang segitu sudah bisa ia gunakan membeli paket data selama empat bulan. 

Seolah bisa membaca pikiran Dera, Dipa kembali berkata, "Kamu tenang saja, De. Aku tidak akan meminta ganti paket data yang mahal. Kamu cukup bayar novel ini nanti dengan paket data elektrik untuk kartuku yang 1 GB satu bulan dua puluh lima ribu. Dan kita bisa melakukan barter ini setiap bulan saat kamu gajian. Kamu bisa memilih novel apapun yang kamu mau dengan sistem barter ini. Bagaimana?"

"Tapi, itu tidak seimbang, Dip. Harga novel itu delapan kali lipat dari pa--" Ucapan Dera terputus karena Dipa sudah menyahut, "Jangan lihat harga novel itu, De. Ayolah, aku cuman mau ngebantuin kamu mewujudkan mimpi menjadi seorang penulis. Dengan mempunyai banyak novel kamu akan bisa belajar menulis juga."

Dipa tahu sejak SMP Dera mempunyai mimpi menjadi seorang penulis. Gadis itu suka sekali menulis diary di buku tulis bekas yang sudah tak terpakai. Ia akan menuliskan semua hal di bagian atas, pinggir, dan bawah halaman yang terdapat space kosong, membuat tulisannya tercampur dengan tulisan materi yang sudah berlalu. 

Karena Dera tak kujung menjawab Dipa pun berdiri. "Apapun jawabanmu. Aku tidak menerima penolakan, De," tandas Dipa buru-buru meninggalkan counter sebelum Dera membuka suara. 

"Sampai jumpa, Dera! Selamat menggapai impian!"