
Jung Yena
Aku terdiam memandanginya dari jauh, menatapnya dengan penuh amarah dan kebencian, menyesalkan kepindahanku kali ini hingga dapat bertemu dengan lelaki itu- lelaki yang mengubah Ibu menjadi seorang pemabuk, dan Ayah menjadi seseorang yang begitu emosional. Entahlah, bagaimana lelaki itu bisa berada di SMA ini. Beberapa waktu yang lalu, aku bahkan telah mempersiapkan semuanya, memastikan lelaki itu tidak kembali hadir dihidupku dan kembali menghancurkan segalanya.
Aku terkejut menyadari pandangannya terarah padaku, ia mengenaliku. Tanpa memedulikan pandangan ragunya terhadapku, aku segera pergi dan meninggalkan lelaki itu, ia mencoba mengejarku, tetapi aku terus berlari hingga akhirnya seseorang menabrakku.
“Apa kau baik-baik saja?” aku hanya mengangguk dan terus berjalan dengan kaki gemetar, mengabaikan seseorang yang menolongku itu. Ingatanku tertuju pada lelaki itu, aku begitu membencinya.
***
Rumah, kata yang bermakna sebagai tempat tinggal yang akan selau dituju sebagai tempat ternyaman, tempat berkumpul dengan keluargamu, yang nyatanya hanya sebuah harapan belaka untukku. Rumah telah berubah makna sejak lama, sejak kepergiannya. Aku bahkan tidak ingin mengingat kejadian itu.
“Yena! Pergilah ke rumah Paman Han, mintalah wiski padanya!” Ibu berteriak dari atas kamarnya. Paman Han pasti akan memukulku karena tidak membayar tungakan hutang Ibu minggu lalu, dan sekarang Ibu kembali memintaku untuk mengambil wiski di toko Paman Han.
“Yena!” Ibu terus berteriak, dengan tidak diduga, ibu telah berada diambang pintu kamarku dan menghampiriku, meraih rambutku dan menjambaknya.
“Ibu” aku meringis kesakitan.
“Apa kau tidak mendengarku? Pergilah ke Paman Han dan mintalah beberapa botol wiski padanya” tanganku bergetar takut. Seseorang yang berada dihadapanku ini bukanlah Ibuku yang dahulu. Ia begitu berubah, ia bukan Ibu yang selalu mengecup keningku ketika akan tidur, ia bukan Ibu yang selalu menyiapkan sarapan untukku dan memintaku untuk menambah makan, dan bukan Ibu yang selalu mengantar kepergianku ke sekolah. Ia adalah Ibu yang berbeda- Ibu yang begitu pemaksa, dan begitu menyedihkan.
“Ibu, Paman Han akan memukulku jika Ibu tidak melunasi tagihan wiski yang Ibu minta beberapa waktu lalu” Ibu mengeratkan cengkramannya pada rambutku. “Aku tidak peduli, pergilah atau aku akan mengurungmu diruang bawah tanah” Aku terdiam takut, ruang bawah tanah merupakan hal yang paling ku benci, aku benci kegelapan dan Ibu akan begitu senang ketika melihatku berada pada ketakutan terbesarku. Belum sempat Ibu menarik lenganku, aku segera pergi berlari ke luar rumah dan segera menuju ke jalan yang mengarah pada Toko milik Paman Han yang tidak begitu jauh dari rumahku.
Ketika sampai, aku segera memasuki toko Paman Han dan disambut dengan senyuman manisnya. Ia kemudian berjalan menghampiriku dan memintaku untuk duduk disalah satu kursi yang disediakan untuk pelanggannya.
“Yena keponakanku yang begitu cantik , apa kau kemari untuk membayar hutang Ibumu itu?” aku dengan ragu mengangguk “Ya, Paman. Aku ingin membayar hutang Ibuku, tetapi aku hanya memiliki sedikit uang” Pandangan Pamannya mulai berubah menjadi ganas. “Sedikit? Kau pikir hutang Ibumu sedikit” Tangan Paman Han mencengkram lenganku dengan erat. Aku begitu takut- aku harus segera pergi dari sini. Dengan cepatn aku segera berlari ke arah pintu keluar dan kemudian mencoba meraih satu botol wiski didekat meja kasir toko Paman Han. Ketika aku berlari, Paman Han mengejarku, dapat kulihat jika ia membawa beberapa sebuah batang kayu yang kuketahui akan digunakannya untuk memukuliku.
“Hey Yena! Jangan lari kau! Dasar pencuri kecil!” aku terus berlari sampai akhirnya aku terjatuh dan aku rasa aku tidak akan dapat berdiri lagi.
“Mau kemana kau pencuri kecil? Apa kau tidak bosan mendapat pukulan dariku” Paman Han mencoba melayangkan kayu yang sejak tadi dibawanya kepadaku, tetapi kemudian seseorang menghalanginya.
“Apa yang kau lakukan? Kau tidak bisa menyakiti gadis ini”
“Gadis ini tidak membayar hutangnya dan mencoba mencuri beberapa botol wiski dariku!” aku begitu takut, aku bahkan tidak tahu siapa seseorang yang mencegah paman Han memukuliku dan membayar beberapa Won untuk hutang dan wiski yang kucuri.
“Kau terlihat seperti Pahlawan” Paman berkata kepada orang itu dengan seringaiannya.
“Mungkin kau harus sering datang ke tempatku, sehingga kau bisa membayar hutang-hutangnya” dengan itu, Paman Han pergi dan meninggalkanku sendiri dengan seseorang yang menyelamatkanku itu.
Ketika aku berdiri dan akan membungkuk untuk berterima kasih, aku menyadari seseorang yang berada dihadapanku ini. Aku mengetahui siapa dirinya. Tanpa melanjutkan gerakan membungkukku, aku menyodorkan sebotol wiski yang kucuri tadi ke dadanya.
“Aku akan segera mengganti hutangku padamu” dengan sedikit kesulitan aku segera berdiri, kemudian pergi meninggalkan lelaki itu. Ia mengikutiku dan aku menyadari akan hal itu. Dengan kesal aku segera berbalik dan menghadapnya.
“Biarkan aku pergi, apa kau tidak puas telah menghancurkan hidupku, Byun Baekhyun?”
***
Ibu berdiri diambang pintu rumah dengan tatapan tajam, melihatku tidak membawa wiski untuknya malam ini akan berdampak begitu buruk bagiku.
“Selama itu kau pergi dan tidak mendapatkan apapun?” seluruh tubuhku bergetar takut. Apakah Ibu akan selalu bersikap seperti itu padaku? “Maafkan aku Ibu” aku menunduk takut.
“Kau tahu? Dongsun akan selalu mengusahakan apa yang ku minta, dan kau? Oh tuhan, apa dosaku kali ini memiliki anak sepertimu. Apakah tidak bisa Dongsun saja yang hidup disini?” Air mata menetes membasahi pipiku. “Ayahmu pasti akan memikirkan hal yang sama kau tahu? Kau tidak berguna”. Aku mencoba meminta maaf padanya, namun ia hanya terdiam dan memberiku tatapan tajam. “Pergilah, aku tidak ingin melihatmu malam ini.”.
“Ibu!” tanpa mendengar raungan kesedihanku, Ibu menutup pintu dan meninggalkanku sendirian. Sekarang apa yang harus kulakukan? Aku bahkan tidak mengenal siapapun disekitar sini.
Tanpa tahu arah, aku mencoba mencari tempat yang dapat melindungiku dari dinginnya malam kali ini. Mungkin saja aku dapat menemukan sebuah gereja dan tidur disana hingga pagi datang. Ya, mungkin hal itu merupakan sebuah keputusan yang terbaik untuk saat ini.
***
Aku terbangun dari tidurku dan menemukan sosok Byun Baekhyun sedang memandangiku dengan tatapan sedihnya? Entahlah, aku bahkan tidak peduli. Tanpa menunggunya untuk mengatakan sesuatu, aku segera beranjak dan bersiap meninggalkannya.
“Apa selama ini kau mendapatkan perlakuan seperti itu dari Ayah dan Ibumu?” aku tersenyum sinis mendengar pertanyaan bodohnya itu. “Apa pedulimu?” aku bertanya dengan amarah yang begitu menggebu, perasaan benci kembali merasukiku.
“Apa ini semua terjadi setelah kepergian-“
“Jangan pernah kau menyebut namanya dihadapanku, kau bahkan tidak pantas memikirkan namanya di kepalamu. Ini semua terjadi karenamu, Baekhyun” Baekhyun mencoba untuk mengatakan sesuatu, tetapi aku menghentikannya. “Kau tahu? Semua berjalan sangat baik sebelumnnya. Dong Sun selalu mendapat perhatian utama dari Ayah dan Ibu, dan seperti bisanya pula aku mendapat tempat kedua, semua berjalan sesuai yang seharusnya terjadi. Namun, kepergian Dong Sun tidak dapat menggantikan posisinya. Kau penyebab semuanya Baekhyun” Baekhyun mencoba mendekat padaku, tetapi aku terus menghindarinya.
“Menyingkir dariku Baekhyun!” Baekhyun menggeleng.
“Kau tidak mengetahui yang sebenarnya, Yena” aku tersenyum mendengar yang dikatakannya.
“Sebenarnya? Jika kau memaksanya untuk bergabung ke sebuah gang terkejam diseluruh kota itu dan membuatnya harus menerima beberapa pukulan selamat datang dari kalian? Kau pikir aku tidak mengetahuinya? Setelah pukulan kemudian kalian memaksanya untuk mengedarkan narkoba dan membuatnya harus mati tertembak?” aku menggeleng tersenyum masam memikirkannya. Tanpa ingin menambah luka akibat ingatan mengenai kakak lelakiku- Dong Sun, aku segera pergi dan meninggalkan Baekhyun yang tertunduk sedih dan menyesal, yang kuyakini bukan sebuah hal yang tulus.
“Tolong menjauh dariku Baekhyun. Kau mengingatkanku pada banyak hal menyedihkan”
***
Seluruh pandangan tertuju padaku, aku baru saja menyadari jika aku datang terlambat. Dengan segera, aku mengambil tempat duduk dipaling belakang dan mengeluarkan peralatan tulisku. Seseorang mengejutkanku dengan menepuk pundakku, seseorang yang ternyata seorang lelaki itu tersenyum ke arahku dan mencoba untuk berbicara padaku.
“Kau tidak mengingatku?” aku menggeleng. “Aku lelaki yang menolongmu saat terjatuh di lorong sekolah, kau ingat? Kau pergi tanpa mengucapkan terima kasih padaku” apa lelaki ini ingin memintaku berterima kasih padanya?
“Terima kasih atas bantuanmu” aku menjawab dan kemudian mengabaikannya.
“Aku mengetahuimu, kau Jung Yena bukan? Aku Park Jungwa” aku mengangguk, menampakkan jika aku mendengarnya berbicara sejak tadi.
Lelaki bernama Park Jungwa ini terus berbicara mengenai kesehariannya dan hal-hal yang dilakukannya dan membuatku begitu bosan.
“Mungkin lain kali kita dapat makan siang bersama?” karena tidak ingin mendengarnya berbicara lagi, aku berujar “Ya, tentu saja”.
Bel berbunyi, menandakan kelas telah usai. Aku bersiap untuk mengemasi barang-barangku ketika aku menemukan sebuah lambang yang familiar disebuah sapu tangan yang tergeletak dilantai, aku mencoba mengambilnya ketika sebuah tangan telah lebih dulu mengambilnya. “Kau menemukannya Yena? Terima kasih” ia tersenyum kemudian meninggalkanku. Aku mengenal lambang itu, lambang The Sadistic- gang yang menyebabkan Dongsun meninggal. Dan aku meyakini satu hal, Baekhyun pasti dalang dibalik semua ini.
***
“Bagaimana lagi aku harus mengatakan padamu untuk tidak mengangguku lagi, Baekhyun?” Baekhyun terkejut melihatku berdiri dihadapannya. Ia dengan segera berdiri, mensejajarkan dirinya denganku. Saat ini kami sedang berada di atap sekolah, saling menatap tanpa berkata-kata.
“Mengirim Jungwa padaku tidak akan membuatku merasa terenyuh atas usahamu meminta maaf padaku” Baekhyun menggelengkan kepalanya kemudian berujar “Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Yena. Jungwa?”
“Ya, kenapa? Apa kau tidak mengenalnya? Ia bagian darimu, The Sadistic”
“Aku bahkan sudah meninggalkan The Sadistic sejak kematian Dongsun” terdapat jeda sebelum ia melanjutkan “The Sadistic mengetahui siapa kau itu, Yena” aku tidak mengerti apa yang diucapkannya. “Apa maksudmu Baekhyun?”
“Mereka mengetahui jika kau adalah adik dari Dongsun”
***
Aku masih tidak paham dengan apa yang dikatakan Baekhyun. Ia menceritakan kejadian yang sebenarnya mengenai kematian Dongsun yang dibunuh karena memiliki bukti kejahatan The Sadistic, Baekhyun mengakui kesalahannya karena tidak membantu Dongsun pergi dari kekangan The Sadistic.
“Jadi kematiannya selama ini bukan karena tembakan yang diterimanya saat mengedarkan narkoba?” Baekhyun menggeleng. “Aku ingin mengatakannya sejak lama, Yena. Dongsun dibunuh oleh The Sadistic” Baekhyun menghela napas panjang sebelum berujar “Sebelumnya, aku ingin kau tahu jika aku telah berusaha memaksanya untuk tidak melakukan penyelidikan pada The Sadistic, tetapi ia memaksanya. Ia memaksa karena tawaran menjanjikan yang diberikan oleh agen rahasia untuk melacak kejahatan The Sadistic” jadi Dongsun melakukan itu selama ini?
“Tawaran?” Baekhyun mengganguk. “Ya, Dongsun diberi tawaran untuk bekerja pada agen rahasia itu jika ia bisa memberikan bukti kejahatan The Sadistic”
“Dan mengapa kau harus ikut dengannya Baekhyun?”
“Kau tidak ingin mendengar jawaban ini” aku memotongnya “Katakan, Baekhyun”.
“Aku tidak ingin ia menghadapi The Sadistic sendirian, aku tidak ingin membiarkannya kebingungan menghadapi semua yang akan dilakukan The Sadistic padanya, dan tentunya kau tahu, selain dia sahabatku, dia juga merupakan saudara lelaki kekasihku” selama ini aku salah menilainya. “Aku merindukanmu Yena, aku ingin meminta maaf karena tidak bisa melindungi Dongsu untukmu” Baekhyun mendekat dan memeluk tubuhku yang lemas dan gemetaran.
Seseorang menepukkan kedua tangannya, membuat suara yang mengalihkan perhatian kami. “Terlihat begitu manis, tetapi aku muak” seseorang itu adalah Jungwa yang diikuti sekelompok orang dibelakangnya.”Kau! serahkan bukti itu sekarang juga” mata Jungwa tertuju padaku, seolah memaksaku untuk menyerahkan bukti yang sama sekali tidak ku ketahui. “Apa masudmu sebenarnya Jungwa? Aku tidak mengerti” Jungwa tersenyum sinis “Dongsun memberinya padamu bukan?” aku menggeleng “aku tidak mengetahuinya” saat Jungwa ingin mendekat ke arahku, Baekhyun mencoba menghalanginya dan berusaha melawan Jungwa. Namun, ia terpukul mundur dan terjatuh dengan cukup keras. “Aku bahkan tidak mengerti bagaimana kau bisa bergabung dengan The Sadistic sementara kemampuanmu seperti anak berusia delapan tahun” Jungwa mengejek.
Baekhyun segera bangun dari posisinya dan mengangkat sebuah Flashdisk, membuat semua perhatian tertuju padanya. “Kau menginginkan ini? Ambilah, tapi tolong jangan ganggu kami” aku menggeleng tak percaya dengan apa yang Baekhyun lakukan. Bagaimana bisa ia dengan mudah memberikan barang bukti itu pada Jungwa? Aku menggeleng “Baekhyun jangan lakukan itu” dengan cepat aku segera merebut Flashdisk tersebut, membuat Baekhyun terkejut.
“kau tidak boleh memberikan ini padanya Baekhyun” dengan cepat Baekhyun mendekapku, mencoba memberikan Flashdisknya pada Jungwa “Baekhyun! Aku membencimu” aku berteriak marah, ia tentunya tahu jika benda itu adalah sebuah benda yang telah dijaga Dongsun hingga merelakan nyawanya.
Dengan cepat Flashdisk itu telah berada ditangan Jungwa, kemudian ia meminta anak buahnya untuk mengecek apakah bukti itu ada disana. Dan tentu saja ia menemukannya.
Jungwa kemudian segera mengeluarkan sebuah senjata dari sakunya dan mengarahkan senjata tersebut padaku dan Baekhyun. “Aku tidak ingin meninggalkan jejak dengan membiarkan kalian hidup. Maka selamat jalan, sampaikan salamku pada Dongsun” ia bersiap menarik pelatuknya ketika seseorang menghentikannya dengan berkata “Jatuhkan senjatamu, kau sudah dikepung” aku terkejut melihat beberapa orang yang datang dengan Jungwa ternyata adalah anggota kepolisian atau bahkan agen rahasia.
Aku mengalihkan pandanganku pada Baekhyun “Kau melakukan semua ini?” Baekhyun mengangguk “Maafkan aku atas kematian Dongsun dan hal-hal yang terjadi padamu selama ini” aku mengabaikan ucapannya. “Bagaimana kau merencanakannya Baekhyun?” ia terdiam sejenak sebelum menjawab “Ketika kau mulai membicarakan Jungwa, aku segera menghubungi rekanku yang tergabung dalam The Sadistic dan akan ikut dalam rencana Jungwa kali ini” Aku terdiam mendengarnya, Harus kuakui jika sejak dulu Baekhyun adalah sosok lelaki cerdas. Tanpa banyak berkata, aku segera memeluknya. “Maafkan aku Baekhyun”.
Mungkin sebuah kebencian tidak akan menuntunmu pada sebuah kebenaran. Kesampingkan kebencianmu untuk mengetahui hal apa yang sebenarnya terjadi diluar sana.