
Partikel-partikel debu menyelimuti tumpukan papirus di ruang tengah. Sejak lima tahun belakangan, produksi dongeng diberhentikan, para pekerja terpaksa di-PHK, dan gedung perusahaan dibiarkan mewujud bangkai yang terbengkalai. Kala itu, kami hampir bertemu akhir kehidupan, hanya menunggu kapan ajal menjemput saja. Hiruk-pikuk kota yang dulu pernah ada kini bertransformasi menjadi sunyi tak terbisikkan.
Hampir selusin peri dongeng mati sia-sia setiap minggunya. Kasus terakhir adalah Krystal ditemukan tak bernyawa di kursi reyot. Sedangkan tangan gadis itu sedang memegang bolpoin—tengah menuliskan kisah-kisah memilukan negeri ini di atas serat papirus terakhir yang masih utuh. Setahun belakangan, populasi peri menurun tajam tanpa pencegahan yang berarti. Ramuan Kata yang ada di Sungai Cerita tidak lagi dapat berbuat banyak, mereka berangsur surut dari tahun ke tahun.
Udara semanis madu yang biasanya berembus telah lenyap seutuhnya. Hanya ada kabut-kabut menyesakkan yang selalu setia menemani. Dan yang paling parah, Pohon Harapan mulai menggugurkan daunnya tahun ini. Ranting-ranting kurus itu terlihat menyedihkan, rapuh hanya dengan sekali sentuh.
“Irene, bukan saatnya melamun.” Sebuah suara menginterupsiku. Aku bergegas menghampiri Wendy yang sibuk menuang tinta hitam dengan sedikit campuran Ramuan Kata dari Sungai Cerita yang tersisa.
“Apa yang ingin kaulakukan?” tanyaku klise.
“Bereksperimen,” jawabnya sembari tersenyum misterius—seperti biasanya.
“Kau mau menulis di mana lagi? Tidak ada papirus baru lima tahun belakangan, mau menulis di jidatmu, ya?” Selagi menunggu responsnya, aku mengistirahatkan diri di salah satu kursi.
Ah, ya ... aku lupa memperkenalkan Wendy kepada kalian. Dia salah satu mantan pegawai Portal Fantasi, sebuah perusahaan yang memproduksi dongeng dan mengirimkannya ke Bumi melalui portal ajaib. Tentu saja riwayatnya sebagai pekerja andalan di sana resmi tamat saat ladang papirus gagal panen selama lima tahun terakhir. Ditambah lagi banyaknya pembatalan permintaan yang menambah peliknya permasalahan di sini.
“Kudengar, kau meledakkan gudang perusahaan karena eksperimenmu gagal kemarin,” timpal seorang gadis lagi—datang bersamaan dengan sekardus buku-buku lama yang sudah menjadi santapan pagi setiap harinya. Namanya Joy, seorang kutubuku yang paling mengerti seluk-beluk sejarah Negeri Dongeng sampai ke akar-akarnya, dia yang paling pandai di antara kami.
“Meledakkan perusahaannya sekalipun tak jadi masalah buatku, bukankah gedungnya sudah tidak lagi dipakai? Itu berarti aku bebas mengeksploitasinya tanpa perlu izin resmi dari siapa pun,” sahut Wendy tanpa mengalihkan pandangannya dari gelas-gelas kimia di atas meja.
Selang beberapa menit, kami terdiam dalam keheningan pagi. Hanya sesekali ledakan kecil terdengar dan kabut-kabut tipis menyeruak di sekitar Wendy akibat eksperimen nekatnya itu, tapi aku tak ambil peduli. Sampai akhirnya, aku menyuarakan pikiran yang akhir-akhir ini berkelebat di kepalaku.
“Kalau kita diam begini terus ... apa akan ada perubahan?” Kalimat tanyaku mengisi kekosongan sebagai kalimat pembuka.
“Tentu tidak, Bodoh. Makanya aku bereksperimen, untuk membuat perubahan,” ucap Wendy memasukkan beberapa daun kering yang kutebak adalah daun gugur dari Pohon Harapan ke dalam salah satu wadah yang menampilkan kerlipan cahaya. “Selama ini, kita menyalurkan dongeng melalui portal dan diteruskan oleh manusia. Mengapa tidak kita yang turun langsung menyerahkannya? Mereka tidak percaya dongeng karena mereka tidak percaya bahwa Negeri Dongeng itu ada. Saatnya, kitalah yang membuktikan bahwa asumsi mereka itu salah.”
Joy menatapku penuh keterkejutan, kacamata ber-frame ungu mudanya melorot tanpa dia kehendaki. “Wow ... kau mengerikan juga ternyata.”
“Baiklah, Irene, aku setuju. Namun bagaimana kita memasuki dunia manusia sementara portal menuju ke sana sudah hancur?” Tiba-tiba, sesosok gadis lagi muncul dari balik ruang istirahat. Itu Yeri, yang termuda di antara kami. Pertanyaannya sontak mengempaskan harapanku begitu saja. Bibirku kelu, tak mampu menyangkal apa-apa.
“Lalu, apa gunanya aku bereksperimen? Kita bisa menciptakan portal sendiri. Percayakan saja urusan ini padaku.”
**
Selagi Wendy sibuk melangsungkan eksperimennya, aku dan Yeri memilah-milah papirus yang sekiranya masih dapat digunakan. Tumpukan papirus itu sudah dikerubungi laba-laba, ada pula yang terkoyak, dan—yang lebih mengenaskan—ada yang menyisa serpihan kertas sebesar ibu jari sebab dilahap rayap. Joy membongkar boks-boks bukunya, berharap ada bahan yang bisa dituangkan dalam bentuk tulisan.
“Hei, misi kita adalah untuk membuat mereka percaya, kan?” Joy tiba-tiba bersuara di balik gunungan bukunya. “Ya, hanya manusia yang bisa menyelamatkan peradaban peri dongeng dan keberadaan dongeng itu sendiri,” ujar Wendy lugas.
“Bagaimana kalau kita menulis tentang keadaan Negeri Dongeng lima tahun belakangan? Agar mereka paham seberapa besar pengaruh minat baca mereka terhadap kehidupan kita,” ucap Joy. Aku mendengarkan penuh antusias.
“Genius. Aku setuju denganmu, Joy,” sahut Yeri menjentikkan jari telunjuknya.
Kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Meskipun tenggelam dalam kepenatan, hal itu tak menyurutkan semangat kami untuk tetap berjuang. Setidaknya, masih ada harapan.
Esok harinya, pagi-pagi sekali, kami berkumpul di Hutan Apostrof. Sesuai instruksi Wendy, aku dan Yeri dipinta menunggu di perbatasan hutan dengan Sungai Cerita. Tak sampai lima belas menit, Joy dan Wendy datang membawa sebuah kendi kecokelatan yang agak mengilap.
“Wah, apa yang kalian bawa?”
“Sebut saja ini adalah Likuid Teleportasi, media yang bisa membawa kita ke mana pun di dunia manusia. Ramuan ini terbuat dari tinta hitam yang paling pekat, guguran daun Pohon Harapan, sedikit Ramuan Kata dari Sungai Cerita, serat-serat papirus yang tersisa, dan Serbuk Tanda Titik. Ramuan ini akan bekerja pada suhu dua puluh empat derajat celcius, kecepatan pemindahannya hampir menyamai kecepatan cahaya, cairan ini memiliki pH—”
“Cukup, Joy. Langsung saja ke intinya,” potong Yeri yang mulai muak mendengar rincian penjelasan Likuid Teleportasi.
“Singkatnya, cairan ini akan menciptakan portal sendiri. Kita akan diantarkan menuju lokasi yang kita kehendaki. Selama pemindahan, kita mungkin dilanda pusing sejenak, dan yang paling penting, portal ini akan tertutup ketika suhu semakin tinggi ataupun beberapa alasan yang membuatnya terpaksa menutup. Kita harus cepat bergerak sebelum matahari bersinar terik atau kita tidak akan bisa kembali.” Penjelasan Wendy kali ini lumayan mampu kucerna. Saatnya merealisasikan harapan.
Wendy menuangkan Likuid Teleportasi di rerumputan hijau di pinggir Sungai Cerita. Dia memilih lokasi ini karena jauh dari permukiman para peri. Karena bila salah satu peri Negeri Dongeng tak sengaja masuk portal dan tak punya gagasan ingin ke mana, mereka bisa-bisa tak kembali lagi. Satu-satunya cara meminimalisir kemungkinan itu terjadi, Wendy memilih tempat ini.
Cairan itu menyebar, membentuk lingkaran sempurna dengan cahaya yang menyilaukan. Sekilas, hanya seperti genangan air yang merefleksikan wajah-wajah kagum kami. Bedanya, cairan itu benar-benar seperti cermin, tidak ada riak yang mengotori ketenangannya.
“Siap?”
Kami berpegangan, lalu bergegas melompat ke dalam portal. Aku digempur vertigo dan dilenakan oleh putaran absurd. Kalau-kalau punya kesempatan, aku ingin muntah sekarang. Kami dibawa dalam arus tak beraturan, objek-objek berkeliling memutari kepalaku, lekas menyisakan kepeningan yang semakin menjadi.
Tiba-tiba, kesadaran menyentakku selayang. Aku, Wendy, Joy, dan Yeri mendarat di tempat antah berantah dalam keadaan mengenaskan. Kami diliputi kelegaan bisa sampai dengan selamat dan tidak kekurangan satu anggota tubuh pun.
“Apa ini ... dunia manusia?” Pertanyaan tercetus dari mulut Joy.
Kami berada di salah satu blok pertokoan terbengkalai di dunia manusia. Lampu jalanan di sekitar sedang mati total, kami hanya mengandalkan sinar badar yang sedang berpendar. Kekacauan ada di mana-mana, terlihat dari paving block yang sudah merekah dan menampakkan tanah-tanah cokelat. Sunyi mendominasi, kami sampai lupa tujuan kemari.
“Apa yang terjadi di sini ...?” Lagi-lagi, pertanyaan tanpa jawaban mengudara di keheningan malam. Tak ada yang berani memberikan respons selain derik angin yang menyapu sampah-sampah di jalanan.
“Coba kita pergi ke tepian jalan raya, barangkali di sanalah orang-orang berkumpul,” usul Yeri. Gadis itu berjalan mendahului kami, sebisa mungkin seperti manusia pada umumnya. Awalnya, Wendy mengusulkan untuk terbang agar menghemat waktu, tapi kami bertiga serempak menolak. Bagaimana jika manusia melihat kami terbang? Mereka pasti akan lari sejauh-jauhnya.
Setelah tersesat beberapa kali, akhirnya kami menjumpai jalan raya yang lengang. Saat kakiku menyentuh aspal, rasanya dingin menusuk kulit. Berani bertaruh, pasti di sini juga terjadi kekacauan. Terlihat dari tumbangnya tiang listrik, trotoar berlubang-lubang, dan bebatuan yang berserakan.
“Hei, kalian!” Sebuah suara membuat kami berempat kompak menoleh.
“Dia seorang manusia ...,” ucap Joy sehalus bisikan angin.
“Apa yang kalian lakukan di tengah jalan raya? Bersembunyilah!” Manusia itu memerintah kami untuk mengikutinya. Karena tak ada pilihan, akhirnya kami bertiga menurut.
Manusia itu berjenis kelamin perempuan. Surai legamnya dikuncir kuda dan tubuhnya terbungkus jaket merah marun tebal. Kami melewati gang-gang sempit yang tak berpenghuni, jalanan berlumpur, dan dihiasi auman serigala yang mengerikan. Beginikah kehidupan manusia?
Setibanya kami di sebuah bangunan rapuh di lokasi terasing yang pernah kutemui, manusia itu berbalik menghadap kami berempat.
“Perkenalkan, aku Seulgi. Aku penduduk kota ini, sepertinya kalian orang yang datang dari jauh ...,” katanya penuh kehati-hatian. Dia menyoroti kami dengan benda yang mampu mengeluarkan sinar. “Kalian bukan penyusup, kan?!”
“B-bukan,” jawab Yeri agak terbata.
“Baguslah. Heh, untuk apa kalian berkeliaran di jalanan? Kalian mau mati atau bagaimana, sih?” Atensi gadis itu kini jatuh ke kaki-kaki kami yang kini terbalut lumpur menggelikan. “Yang benar saja?! Kalian berempat tidak menggunakan alas kaki?” Untuk kesekian kali, dia berucap dengan nada tinggi.
“Ini Bumi, kan?” Itu suara Wendy. Dia melontarkan pertanyaan genius semacam itu untuk seorang manusia? Ya ampun.
Kami—termasuk gadis bernama Seulgi itu—ternganga tak percaya.
“Tunggu ... kalian bukan pasien rumah sakit jiwa yang melarikan diri, kan?” tanya Seulgi kini bersiaga sembari merogoh pisau lipat dari saku jaketnya.
“Ayo, kita akui saja. Begini gadis muda, kami datang dari Negeri Dongeng untuk menjalankan suatu ... ehm, misi. Ketika kami datang ... semuanya sudah terpecah begini, bisakah kau menjelaskan apa yang terjadi?” Kata-kata Joy mampu membungkam mulut Seulgi dalam beberapa sekon, sebelum akhirnya gadis itu menampakkan ekspresi terkejut.
“Kalian tidak berbohong, kan?”
Kami berempat menggeleng. Mungkin, karena wajah serius kami, Seulgi akhirnya jinak juga.
“Tempat tinggal kami diinvasi sejak beberapa tahun belakangan oleh sekelompok orang asing yang datang dengan kapal luar angkasa. Mereka menyerang secara periodik. Kata para tetua, inilah yang namanya perjalanan menuju kematian. Aku dan beberapa temanku berusaha untuk bersembunyi secara berpindah-pindah dan sebuah keberuntungan aku masih bernapas sampai saat ini. Aku agak kaget saat mendengar kalian datang dari Negeri Dongeng, kini aku merindukan ibuku ... beliau sering mendongeng untukku ketika masih kecil.”
Kami berempat terdiam mendengar penuturan gadis itu. Sekarang aku mengerti, mengapa Negeri Dongeng belum hancur sepenuhnya; karena masih ada segelintir orang yang percaya bahwa kami ada.
“Di mana teman-temanmu?”
“Mereka baru saja dibantai oleh timah panas sore tadi.”
“Bagaimana kalau kamu ikut kami ke Negeri Dongeng? Kami memerlukanmu, sedangkan kamu akan mati jika terus-terusan di sini. Ayo, portalnya tak lama lagi menutup!”
Aku mengiakan, tetapi Seulgi tampak masih menimbang-nimbang. Setelah gadis itu setuju, kami berlima berlari menyusuri jalan semula. Percikan-percikan lumpur memenuhi kakiku.
“Terbang!” Wendy memberi instruksi. Aku dan Joy merangkul Seulgi untuk ikut terbang. Kami menuju tempat di mana portal yang mengantar kami ke sini.
Ketika portal itu tertangkap radar mata kami berlima, kami langsung meningkatkan kecepatan terbang. Namun, sebelum kami sampai di portal, kami bertemu air bah yang datang dari arah seberang. Banjir mengalir deras—turut membawa serta objek-objek yang dilaluinya. Deretan pertokoan langsung ambruk dan terhanyut.
Torpedo dahsyat menghantam kota dalam sekejap. Kian mengganas, mengikuti jejak banjir yang meliar. Sementara itu, sayap-sayap kami kian melemah, membawa kami turun perlahan-lahan. Dan—dalam hitungan yang begitu singkat—Yeri lantas tertarik gravitasi, tenggelam bersama air kotor bercampur serpihan bangunan. Kami hanya mampu menyaksikan kepergiannya yang diiringi jeritan menyedihkan.
Kulihat Wendy menunduk, rasa bersalah pasti menjangkitinya. Begitu pun aku, akulah yang memiliki ide gila ini. Akulah penyebab semuanya.
“Terbang semampumu! Jangan sampai—” Belum sempat Joy menyelesaikan kalimatnya, riak air di bawah sana sudah menyambutnya gembira. Aku kewalahan membawa Seulgi seorang diri, ditambah sayap-sayapku yang malfungsi. Wendy berusaha mencapai tangan Seulgi seraya membantuku, tapi permukaan air meninggi dan mengelak hampir tak ada gunanya lagi.
Inilah akhir dari segalanya—Negeri Dongeng dan dunia manusia. Memang benar, suatu saat, kita semua akan bertemu dengan ujung perjalanan hidup. Tanpa diberikan pilihan, kitalah yang menjemput kematian.
“TOLONG KAMI!!!” Frasa itu terdengar bersamaan dengan semakin pecahnya torpedo yang destruktif.
Kami ditelan gelombang dahsyat sebelum sempat mengucap selamat tinggal. Semuanya hancur, tak ada yang tersisa.