Mimpi

Mimpi

novimutmainah

3.5

Aku akan menceritakan malam yang tak akan terhapuskan dari hidupku, malam di mana aku di kunjungi oleh sosok yang tidak ingin ku temui seumur hidup ku lagi. Yah mungkin ini terjadi seperti kata orang, di kunjungi oleh orang yang pergi tapi tak sempat melihat kita di kehidupan terakhirnya. Kisah yang sudah terjadi setahun yang lalu.

Hari ini, hari yang berat buat sahabat karib ku. Kita sudah bersahabat cukup lama, dari kami duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, hari ini kakeknya meninggal, dia cukup dekat dengan kakeknya itu termasuk juga aku yang selalu bersama dengannya . dari kecil kakeknya adalah teman main kami. Kami selalu bermain bersama, bercerita hingga di belikan jajanan hampir setiap hari oleh kakeknya itu. Kakeknya itu sudah menggap aku sebagai cucunya sendiri begitu pula aku yang sudah menggap kakek sebagai kakekku sendiri. Karna kakekku sudah meninggal sebelum ayah dan ibu ku menikah.

Walaupun terkadang aku suka sedih tapi aku sadar kakek sudah bahagia di sana. Yah balik ke cerita kakek temanku. Aku cukup dekat sampai SMP, sayangnya saat menduduki bangku SMA aku dan sahabatku mulai sibuk dengan ekstrakulikuler di sekolah. Dimana karna kegiatan ini kami sering pulang sore jadi sudah sangat jarang aku mengunjungi kakek yang mulai sakit-sakitan.

Sedih mendengarnya dari sahahabatku katanya kakek sakit parah, untuk bergerak saja sudah susah. Aku sangat ingin pergi menjenguk tapi apa daya aku yang mulai susah membagi waktu apalagi sekarang ayah membuka usaha toko setelah ia pensiun. Karna toko baru dibuka sehingga kami belum menggunakan orang kerja, kami sekeluarga hanya saling bergantian menjaga toko. Jadi saat aku pulang sekolah aku langsung menggantikan ayah hingga toko tutup saat malam.

Benar-benar sulit membagi waktu, waktu untuk istirhat pun aku tak punya bagaimana aku pergi kerumah sahabatku. Sedih ? pasti, tapi mau bagaimana lagi, aku berjanji saat ada waktu aku akan langsung menjengguk kakek.

Ke esokan harinya sahabat ku berkata kakek ingin bertemu, kangen katanya. Dia berkata luangkan waktu karna mungkin ini menjadi kesempatan ku terakhir untuk menemui kakek. Apakah kakek separah itu ? kata dalam hati, tapi aku brejanji padanya aku akan pergi akhir minggu ini.

Sayangnya lagi-lagi aku harus batal menjengguk kakek karna ekstrakulikuler ku akan mengadakan PERSAMI, aku sebagai sekertaris mau tidak mau harus tergabung dan membantu jalannya acara ini. Yah sudahlah minggu depan masih bisa itu yang aku katakana dalam hati.

Sayang kakek meninggal esok harinya, sempat merasa bersalah tidak sempat menjengguknya hari itu, tapi aku yakin kakek sudah bahagia tanpa merasakan sakit.

Hari berganti hari, hari ini tepat 40 hari kepergian kakek. Setelah pulang dari tahlilan kakek, aku merasakan sesuatu ganjil, seperti diikuti, merasa merindingi dan agak berat di bahu. Aku memang sedikit sensitive sejak duduk di bangku SD tapi aku tak bisa melihat hal seperti itu hanya bisa merasakan kehadiran mereka.

“ini pasti ada yang ngikut pulang” kataku dalam hati. Tapi aku tak mengatakanya pada kedua orang tua ku karna aku tahu mereka tak mempercayai hal seperti ini. Jadi tentang diriku ini aku hanya menyimpannya sendiri karna aku tahu mereka tak akan mempercayai hal tersebut. Tapi aku membiarkannya saja, sudah biasa nanti juga pergi seperti biasanya. Tak pernah ada yang bertahan lebih dari 3 hari mengikuti ku, mungkin mereka sadar, aku tak bisa berkomunikasi dengan mereka.

Malam ini sangat jauh berbeda dari malam yang biasanya saat aku di ikuti pulang, aku lebih gelisah, susah tidur, merasa gerah padahal kamarku berAC. Aku merasa seperti sedang awasi, di tatapi dari setiap sudut ruangan. Kalian pasti tahukan perasaan saat sedang dilihat seseorang? Tapi aku merasa sedang di perhatikan dari setiap sudut, pojok kamarku. Kakiku tak kubiarkan keluar dari selimut walaupun aku merasa segerah apapun, karna aku merasa jika aku menggeluarkan kakiku akan ada yang menarik kakiku dan membawaku pergi.

Well aku merasa berlebihan, arwah seperti mereka setahuku tak bisa menyetuh manusia. Tapi perasaan was-was ku tidak hilang-hilang dari saat aku memasuki kamar, aku coba berdoa dan menutup mata untuk tidur, tapi tak sampai 5 menit aku menutup mata, mata ini terbuka lagi seperti kembali melihat sudut kamar yang ada. Oh tuhan kenapa aku malam ini? Kataku dalam hati, seperti benar-benar ingin kabur dari kamar, seperti ada yang membisikan untuk pindah dari kamar malam ini.

Aku binggung dan ketakutan, aku ingin pindah kekamar orang tua ku tapi mereka akan memarahiku jika mengedor pintu semalam ini, mereka selalu mengunci pintu kamar saat tidur, kamar saudara ku pun di lantai 2, kalau dipikir itu akan lebih menyeramkan dari kamar, perjalanan tangga yang panjang dan gelap. Yah sudahlah tidur saja kataku menenengkan diri sendiri, tak akan terjadi apa-apa untungnya kamu tak bisa melihat mereka, seberapa seringpun mereka menatapmu.

Aku mulai menutup mata dan mencoba untuk tidur, mencoba membuang semua pikiran buruk dikepalaku, mencoba berbagai cara agar tertidur, mulai dengan menghitung domba, dan banyak hal yang bisa membuatku ngantuk, entah tepat pukul berapa aku akhirnya lelap dan tertidur.

Tiba-tiba aku tersadar di depan rumah temankku, anehnya aku tak berpikir sedikit pun bahwa ini cuma mimpi, kami tampak seru mengobrol dengan kakek seperti biasanya, tawa , canda. Tampak bahagia sampai saat itu aku tak sadar bahwa kakek telah meninggal, saat di tengah keseruan bersama kakek, aku mulai sadar dan mengucapkan “bukankah kakek sudah meninggal?” kata-kata itu spontan keluar dari mulutku saat tersadar akan keadaan.

Setelah mengatakan itu aku langusng terbangun, dengan mata yang masih setengah sadar aku melihat di sampingku, melihat gulingku yang ukurannya tiba-tiba beda dari yang biasanya, ukurnya melebihi panjang tempat tidur ku, tapi aku hanya melihat ke araha bawah tempat tidurku, seperti ada ketakutan untuk tidak melihat keatas.

Aku berpikir yah mungkin halusinasiku, saat aku menutup mata dan mencoba tidur kembali, ada yang membuat mata ini kembali terbelalak, seprai kamarku berwarna hijau, tapi guling di depanku berwarna putih tapi corak coklat, dan bentuknya seperti sesuatu yang diikat atas, tengah dan bawah, fix ini bukan gulingku kataku dalam hatiku, aku memberanikan diri untuk melihat keatas

Dan apa yang aku lihat membuatku terpantung  dan tidak bisa bergerak, wajahnya hitam pekat, matanya putih semua, sedang menatap kearah bawah, oh tuhan ini pocong, jerit dalam hati, tapi mulut tak bisa terbuka, tak satu kata pun yang keluar dari mulut ku ini, mata yang bertemu dengan matanya tidak bisa tertutup lagi, aku terus melafalkan semua surat-surat pendek yang kuingat.

Tiba-tiba saat sudah bisa  bergerak hari sudah cerah diluar, tapi napas terengah-engah ini tetap ada, aku bermandikan keringat dingin, tangan yang terus bergetar, muka yang pucat. Aku tak tahu ini mimpi atau nyata tapi bagiku ini sangat nyata, pocong yang kulihat dan muka mengerikannya tak akan aku lupakan sepanjang hidupku. Mimpi-mimpi yang biasa kulupakan saat bangun tidur ,kini beda  aku mengingat setiap detail kejadiannya, bagaimana wajah pocong itu.

Hal ini yang tak ingin aku alami lagi. Keesokan harinya aku menemui temanku yang sangat tertarik dengan dunia gaib, aku menceritakan kepadanya, katanya mungkin saja pocong itu adalah kakek temanku yang tak sempat ku temui sebelum beliau meninggal.

Aku berpikir positif saja, mungkin benar , mungkin juga tidak. Sepulang sekolah aku memutuskan untuk nyekar dan memberi doa di makam kakek, aku harap kakek tenang di alam sana.