Behind That Scandal

Behind That Scandal

AliciaPerth

0

•••

Tidak ada hari yang lebih baik, selain hari-hari yang kulewati bersamamu.

•••

Yolla membuka matanya perlahan kala sorot matahari menyelinap dari celah jendela. Netra cokelat itu mengerjap pelan, sebelum menyadari langit-langit kamar berwarna abu itu bukanlah pemandangan dari kamarnya sendiri.

"Bentar," gumamnya, lalu menyipitkan mata menajamkan pandangan. "Ini kaya bukan kamar gu-AHHHHHHH!"

Wanita itu beranjak dan buru-buru merapatkan selimut putih yang menutupi tubuh telanjangnya. Bukan main, sejak kapan Yolla tidur dalam keadaan tanpa pakaian seperti ini?

"Apasih teriak-teriak?"

"AHHHHHH!"

Boom! Dan sejak kapan pula, wanita polos bernama Yollanda Andara itu tidur dengan seorang pria setampan babang Cha Eun Woo.

Pria itu mengucek kedua matanya bak pangeran bangkit dari peti emas. Sebelum beranjak dan membiarkan selimut putih yang sama menutupi tubuhnya merosot, mengekspos dada bidang kotak-kotak ala roti sobek miliknya di sana. Yolla melotot, antara terkejut dengan lekuk sempurna milik pria di atas ranjang dan bagaimana pria itu bisa tidur bersamanya;atau sebaliknya.

"Om siapa?"

"Om? Enak aja manggil Om." Pria itu membalas tatapan panik Yolla. "Emang wajah saya ini keliatan tua apa?"

"Ya kalo dibandingin sama saya, ya jelaslah," tutur Yolla sembarangan. Wanita itu memundurkan tubuhnya perlahan, sembari berusaha mempertahankan selimut yang mereka gunakan bersama di depan dada. "Tapi kita nggak ngapa-ngapain, 'kan? Ini cuma ... salah paham aja, 'kan? Saya nggak mungkin ngelakuin anu, 'kan?"

Pria itu mengerutkan keningnya. "Anu? Maksudnya?"

"Ini saya nggak pake bajuuuuuuuu! Om udah nodain saya ya? Ngaku aja deh, Om!"

Napas lembut terdengar dari mulut Kevin. Pria berusia tiga puluh limaan itu lantas berbalik dan turun dari ranjang empuk yang mereka gunakan. Dari belakang, Yolla kembali dibuat terbelalak dengan pemandangan dua gundukan bulat milik Kevin. Dia juga telanjang!

Tanpa membalas tuduhan Yolla, Kevin sudah lebih dulu memakai pakaiannya. Pria itu berbalik, memamerkan celana panjang dan kemeja polos berwarna hitam yang terlihat bermerk sebelum akhirnya membuka suara. "Kita ngelakuin apa yang kamu pikirin atas dasar suka sama suka. Kamu emangnya nggak inget, semalem bilang apa?" Kedua alis Yolla mengernyit bingung, mencoba mengingat-ingat lagi kejadian tadi malam. Walaupun tentu saja, tak ada satupun sekelibat ingatan yang muncul di kepalanya saat ini. "Maaaaas, i want you. I want to kiss you. Terus tanganmu itu mulai grepe-grepe dada saya. Jadi daripada saya turn on di depan orang banyak, ya saya ajak kamu ke sini."

"Hah?!"

"Nggak ada kata lain selain hah, apa?" Kevin mengambil jam tangan di atas nakas, lalu memakainya. "Jangan bilang ini first time buat kamu?"

Namun Yolla benar-benar speechless. Mulutnya hanya bisa menganga seperti orang linglung habis kena hipnotis di jalan.

"Jadi ... ini bener-bener pengalaman pertama kamu one night stand sama pria asing? Really?"

•••

Sebulan setelah kejadian itu, kehidupan Yolla menjadi tidak baik-baik saja. Wajah pria asing yang diketahuinya bernama Kevin itu, terus terbayang dan menghantuinya seperti cicilan kartu kredit. Seumur hidup, Yolla hanya pernah berpacaran satu kali. Itupun cuma sekadar jalan-jalan ke bioskop dan berpegangan tangan. Paling nakal cuma sampai kecup pipi kanan, pipi kiri, lebih mirip momen lebaran ketimbang ngapelin pacar.

"Yolla!"

Suara nyaring milik Julia, sahabat Yolla, menyambut indera pendengaran. Langkah kecil yang berlari-larian menghampirinya itu menarik atensi Yolla. Wanita itu segera melompat ke kursi dengan antusias.

"Buset! Ngapain pake lompat segala sih, udah macam atraksi topeng monyet aje lu, Jul," protes Yolla. Ia mendecak, lalu tersenyum lagi. "Tumben on time. Biasanya gue udah duduk sejam, lu masih otw, alias oke tunggu wae."

"Dih, muji gue apa nyindir nih?" Julia langsung menarik gelas es teh di atas meja, kemudian menyeruput cairan kecokelatan itu tanpa permisi. "Seger bener nih minuman."

"Minuman gue tuh!"

Julia tertawa, lalu menyodorkan kembali minuman itu kepada sang pemilik. "Eh, lo udah pesenin gue makan, 'kan?"

"Udah."

"Apaan?"

"Daging dinosaurus sama sop kodok, 'kan?"

Julia mengernyit. "Ih, yang bener aja dong, Yoll."

"Hahaha, canda canda. Ayam geprek cabenya tiga biji, 'kan?" Yolla mengangkat wajahnya penuh percaya diri. "Dimana lagi, bisa lo nemuin bestie yang hapal menu kesukaan lo coba. You must proud, Jul."

Namun wanita berambut pendek yang sengaja menghighlight rambutnya dengan cat hijau itu malah mendengus pendek. "Ya karena cuma itu doang makanan yang biasa gue pesen. Gegayaan bener lu."

"Permisi," sapa pramusaji di restoran Angkasa. Pria itu tersenyum ramah, lalu mulai menyajikan satu persatu makanan yang dipesan Yolla untuk mereka berdua. "Silakan."

"Makasih Mas Ganteng," balas Julia genit, ketika pramusaji muda itu pergi.

Yolla buru-buru menepuk dahi Julia dan mencebik. "Ganjen bener lu!"

"Hehehe, namanya jomlo. Barangkali jodoh yakan," pungkas Julia sembari mengedip-ngedipkan matanya jahil. "Yaudah yuk makan. Laper gue."

Mendadak, aroma bakso miliknya menusuk ke hidung. Ada sesuatu yang aneh. Rasa mual menjalar dari inti perutnya. Refleks Yolla menutup mulut dan berdiri, membuat Julia turut mendongak mengikuti pergerakan sahabatnya yang sangat mendadak itu.

"Kenapa, Yoll?"

Namun Yolla tak sempat menjawab pertanyaan itu. Ia berlari secepat yang dia bisa untuk menemukan toilet dan mulai menumpahkan rasa mualnya ke dalam kloset. Yolla baru minum es teh dan belum makan apapun, tapi semua minuman yang sudah melewati kerongkongannya itu justru keluar semua tak bersisa. Membuat kepala Yolla mendadak pening setelahnya.

Wanita itu melihat ke sekeliling setelah menekan tombol flush di kloset. Ia mencoba mengembalikan fokusnya setelah beberapa menit.

"Kok rasanya mual banget ya gue," gumam Yolla sembari menatap dirinya sendiri di cermin. Bibir wanita itu berubah pucat dan tubuhnya terasa tak nyaman. Sehingga Yolla pun memutuskan untuk mengambil sikap. "Balik ajadeh gue."

Julia hanya bisa terbengong-bengong ketika mendadak Yolla meletakkan selembar uang dan meraih totebag hitamnya dari atas meja. "Serius mau balik? Ini makanannya gimana?"

"Makan ajadeh sama lu, Jul. Gue kagak enak badan nih."

"Mau dianter ke dokter?"

"Alah, palingan cuma meriang. Yaudah ya, gue duluan."

Namun di perjalanan, Yolla mendadak teringat akan kejadian di kelab malam. Pikirannya mulai kalut. Ia pun nekat membeli tespek untuk membuktikan rasa khawatirnya tidak benar.

"Oke, ini cuma percobaan doang. Gue nggak mungkin hamil. Si Julia aja yang udah sering dicelup kagak hamil-hamil, ya tenang aja, Yoll." Setelah menyemangati diri sendiri, Yolla pun segera memasukan alat pemeriksa kehamilan itu ke dalam urin yang sudah ditampungnya dalam cangkir kecil. "Oke tenang tenang, ini cuma mual biasa, ini cuma-shit!"

Tespek yang dipegang Yolla kini menampilkan dua garis berwarna merah yang cukup terang dan membuat wanita itu membelalak seketika.

"Nggak mungkin. Nggak mungkin kalo gue ha-"

Ting!

Yolla mendecak. "Siapa sih yang kirim chat segala. Kagak tau apa yak orang lagi panik banget ini!"

Keterkejutan Yolla bertambah menjadi dua kali lipat setelah mengetahui isi pesan itu berasal dari perusahaan, tempatnya melamar pekerjaan.

[Dear Yollanda Andara, Anda telah diterima di perusahaan kami untuk menempati posisi jurnalis yang tersedia. Untuk melanjutkan proses, Anda diminta datang ke kantor pada hari Senin, 09:00 WIB. Terima kasih.]

"Anjir apaan nih? Bisa-bisanya gue diterima kerja pas gue hamil! Gue kudu gimana ini sekarang?"