Bad CEO's Babymama

Bad CEO's Babymama

Ina Carra

0

Davi membelah jalanan Minggu siang dengan perasaan tidak menentu. Seraya menengok Richard Mille pada pergelangan tangan kanan. Arloji yang sebanding dua lusin rumah pemerintah bertipe sederhana itu hampir menunjukkan jam delapan tepat.

Lima menit sebelum acara pemberkatannya di altar!

Sepuluh jari Davi otomatis mengeratkan pegangan pada setir Tesla edisi terbaru yang dihadiahkan Edric. Bentuk tanda muka begitu Davi sepakat dengan kesepakatan atasannya itu.

Mobil ini untuk calon adik ipar pilihanku. Kau akan segera menjadi bagian dari keluarga Hanafy, Davi. Pujian yang dikatakan Edric padanya tepat dua minggu lalu.

Davi memarkir mobil seadanya tepat di depan pintu masuk klub eksklusif yang saat ini menjadi incaran banyak pasangan untuk menikah. Kehadiran Davi disambut pegawai Event Organizer yang bertugas.

Dengan potongan rambut curtain cut, Davi menyihir hampir semua mata perempuan yang dilewati olehnya. Saran hair stylist nya memang jitu, rambut dark chocolate membuat Davi makin mirip dengan oppa-oppa Korea yang kini digandrungi kaum hawa.

"Pak Davi, mari saya antar ke venue. Acara sudah terlambat tiga belas menit," beber petugas EO berpakaian hitam yang diekor dari belakang oleh manajer klub bintang lima itu.

Davi menoleh sekilas pada petugas perempuan yang mengenakan setelan blazer berwarna hitam dan cukup ketat memperlihatkan bagian dadanya tersembul. Tinggi badan mereka tidak jauh berbeda, salah satu spesies perempuan yang selalu menarik mata Davi. Bertungkai panjang, langsing, plus sepasang kembar padat.

Suara lain menyapa dan membuyarkan lamunan.

"Selamat siang, Pak Davi. Perkenalkan saya, Manajer yang bertugas siang ini. Maafkan untuk perilaku tidak sopan saya beberapa hari lalu," ujar Manajer memotong petugas EO.

Davi tertegun tanpa menyertakan wajah ramah. Harga pantas yang harus dibayar karena bersikap menyepelekannya tempo hari.

Merasa tatapan Davi tidak bersahabat, manajer hanya menunduk patuh. Usia manajer mungkin dua kali lipat dari Davi yang pada tahun ini genap tiga puluh empat. Namun, aura angkuh Davi berhasil membuat pria malang itu tidak berkutik.

Sudah jelas bahwa uang dapat membeli rasa hormat. Ketiganya bergegas menuju venue yang akan dituju.

Sepasang mata Davi takjub dengan dekorasi venue pernikahan di hadapannya. Sebuah kapel kecil dengan pemandangan laut di belakang membuat suasana seperti di Bali. Davi tidak menyangka klub eksklusif langganan keluarga Edric berhasil menyulap pesisir Ancol seperti beach club favoritnya.

Davi mengenal beberapa wajah Dewan Direksi yang masih kerabat Edric, kolega kerjanya di perusahaan yang datang bersama pasangan masing-masing. Mayoritas tamu yang hadir memang undangan keluarga Hanafy.

Langkah Davi ringan menuju altar. Ini hanya sebuah pernikahan yang akan mendatangkan lebih banyak keuntungan untuknya. Apa sulitnya menikah berdasar kontrak? Justru menikah berdasar cinta lebih sulit karena melibatkan perasaan yang tidak ada ukurannya.

Davi kini berdiri tepat di depan altar dan ditemani Dante, salah satu sepupu andalannya. Setelah ibunya dinyatakan mengidap gangguan psikotik dan ditempatkan di pusat rehabilitasi, Davi memang tinggal bersama Om Theo di kediaman luas milik keluarga besar mereka.

Meski Davi hanya tinggal di sebuah paviliun sederhana, berjarak dari rumah utama tapi ia sudah cukup bersyukur. Jika bukan karena tindakan bodoh ayahnya, sudah tentu Davi masih memiliki ibu yang sehat jasmani dan rohani.

Jangan pikirkan pria itu! Ini adalah hari pernikahanmu, Davi. Kau tidak akan menjadi pria brengsek yang membuat hidup istrinya menderita, seperti ibumu.

Tepat sebelum sampai di altar, Davi disambut pelukan Om Theo dan Celia putrinya. Dengan erat, Davi membalas dekapan pria yang membesarkannya selama ini.

Hampir tiga puluh tahun dan Om Theo sudah menjadi tameng hidup untuk melindungi Davi dari caci maki dan ketidakadilan yang diterimanya dari keluarga besar mereka. Ia tidak akan pernah melupakan jasa kakak kandung ibunya itu.

Keluarga besar ibunya selalu menganggap Davi pembawa sial. Apalagi saat pernikahan orang tuanya dilakukan tanpa restu dan berakhir tragis, keberadaannya jelas membuat luka yang tidak terobati.

"Pah, Davi ditunggu di altar. Pelukannya bisa dilanjut nanti," potong Celia sambil memisahkan ayahnya lalu merapikan tuksedo hitam yang dikenakan oleh Davi.

"Thanks, Celi." Davi tersenyum pada perempuan yang sudah dianggap adik sendiri.

Kini Davi sudah berdiri di samping altar dan disambut uluran jabat tangan Dante. Sama seperti dirinya, Dante juga memiliki postur tubuh yang tidak jauh berbeda. Keduanya tinggi menjulang bagai model pria yang sedang melakukan pemotretan.

Pendeta berdehem dan memandang kehadiran lelaki tegap berkulit bersih itu. Wajah ramping dengan tulang rahang yang mempesona. Harga pantas karena Davi sendiri rajin mengikuti program olahraga wajah.

"Apa kita sudah bisa memulai acara ini?" tanya Pendeta sambil membetulkan posisi kacamata silinder yang digunakannya.

Sebelum membalas tatapan pendeta, Davi kembali menoleh ke belakang punggung dan mengedarkan pandangan. Sepasang mata Davi lalu berpusat pada keberadaan salah pria penting yang menjadikan kegiatan ini terjadi.

Edric Hanafy, pria yang menawarkan adiknya sendiri dan kenaikan jabatan dalam satu paket yang tidak bisa ditolak. Davi tersenyum tipis yang dibalas anggukan tegas Edric seolah keduanya telah menyegel pernikahan sakral dalam sebuah kesepakatan bisnis.

Pernikahan pun berlangsung. Setelah pendeta memberi tanda, suasana venue pun mendadak syahdu dengan iringan dentingan piano yang mengiringi kedatangan mempelai perempuan.

Davi berdiri menyamping dan menoleh sejajar pada titik tepat di seberangnya. Seorang perempuan dengan balutan baju pengantin bermodel ball gown milik desainer ternama ibukota berada tidak lebih dari dua puluh meter.

Mendadak jantung berpacu cepat dengan perasaan menggelitik di perut. Jelas bukan lapar karena ia sudah sarapan. Aura kecantikan calon istrinya seolah berhasil memantrai para undangan dan Davi sendiri untuk tidak berkedip menyambut sang ratu sehari.

Tubuh Davi seolah dipasak ke inti bumi dan tidak bisa mengalihkan pandangan. Sepasang mata milik Davi terpaku pada kehadiran pengantinnya. Masa depan yang harus dijaga baik-baik olehnya dalam kurun waktu tiga tahun.

Sera Hanafy, pengantinnya. Perempuan yang baru ditemuinya dua kali. Davi menarik nafas panjang.

***

Sementara Sera diboyong petugas EO untuk berganti busana resepsi, Davi berkumpul dengan para kolega yang sedang menyalami dan memberinya selamat. Upacara pemberkatan berjalan lancar.

Davi mendekati beberapa anggota keluarga Hanafy yang turut menjabat sebagai Dewan Direksi di kantornya dan memperkenalkan diri kembali. Seperti biasa, Davi melempar obrolan agar lawan bicara terkesan pada keberadaannya.

Acara pernikahan yang tidak jauh jauh berbeda dengan meeting perusahaan.

Hingga kemudian, Davi menyadari keberadaan kakak ipar yang berdiri di sampingnya. Edric merangkul Davi setelah memberi pelukan singkat.

"Pak Edric," sapa Davi agak terkejut. Ini pertama kalinya ia dirangkul oleh atasan atau pemimpin tertinggi di Hanafy Tobacco International.

Edric hampir tertawa keras tapi ia berusaha menahannya, "Sekarang manggilnya Mas Edric, Davi. Kamu kan sudah resmi menjadi adikku. Jangan sungkan."

Davi kembali tersenyum tipis. Pengakuan di depan umum merupakan salah satu hal penting dalam hidupnya. Keinginan kecil seorang anak terbuang yang diakui keberadaannya.

"Davi, ada yang ingin aku katakan. Bisa bicara sebentar," ucap Edric sembari menunjuk salah satu sudut di dekat meja mempelai.

Davi mengekor kakak iparnya. Meski mulai terik tapi resepsi pernikahan mereka tetap rimbun. Dekorasi bunga yang dirangkai indah dan pepohonan dalam pot besar-besar membuatnya teduh.

"Pesanku hanya satu, Davi. Lakukan tugasmu dengan baik dan posisi CEO sudah menunggu di depan mata," sahut Edric dengan tegas.

Davi mengangguk.

"Tidak perlu banyak bertanya. Bayi itu kini juga milikmu. Jaga adikku dan anaknya," bisik Edric lagi. Salah satu rahasia yang hanya diketahui oleh ketiganya dan alasan mengapa Edric meminta Davi untuk menikahi adik perempuannya.

"Tidak perlu khawatir, Mas. Semua ditanggung beres," sahut Davi dengan yakin.

Edric menepuk bahunya dan menunjuk salah satu sudut dimana kini Sera sedang berjalan menuju kembali ke venue resepsi. Davi mengikuti ekor mata kakak iparnya, ia lalu mengucap permisi untuk menyambut kedatangan istrinya.

Istri yang harus dijaga bagai porselen hidup sebagai jaminan atas kenyamanan hidupnya saat ini. Davi berjalan cepat ke arah Sera dan optimis perjalanan pernikahannya akan semulus jalan tol.

Apa sulitnya menjaga perempuan hamil yang kini sudah resmi menjadi istrinya? Apalagi Sera datang dari keluarga berada dan materi bukan persoalan utama hidupnya.***