
— Hutan Neverland,
02 Agustus 2001
Saat matahari sedang terik-teriknya, semilir angin yang menerpa wajah terasa sangat menyejukkan. Pohon-pohon besar yang menjulang tinggi mengelilingi seolah sedang menonton sang bayi yang tersesat. Sayangnya mereka tidak hidup. Jika iya, mungkin mereka akan berebut untuk bertanya, "Hei, Nak. Dimana orang tuamu?" Sejenak aku terkekeh dengan pemikiranku sendiri. Kududukan pantatku asal dan bersandar pada salah satu pohon besar disana.
Cahaya matahari tampak menyelinap di sela-sela daun pepohonan yang tak cukup lebat. Seekor tupai melompat tepat di panggung cahaya tersebut. Sepertinya usai mencuri kacang dari tuan pohon tua. Terlihat kacang yang tak terlalu besar ia genggam erat dengan kedua tangannya, menggigitnya berkali-kali seolah kulit kacang itu sangatlah keras.
Entah itu cahaya ilahi atau hanya sebuah lampu sorot sebuah panggung acara, rasanya sedang menonton dongeng anak-anak yang pemeran utamanya adalah seekor tupai. Tak lama terdengar suara ranting patah yang diinjak seseorang. Sontak saja tupai kecil itu melarikan diri. Seperti maling yang takut tertangkap, larinya sangat cepat. Berselang beberapa detik setelah tupai itu menghilang, sosok pria yang berbadan berkali-kali lipat lebih besar dariku muncul. Ia keluar dari persembunyian, dari balik pohon besar yang tidak jauh dari tempat tadi si tupai kecil berdiam.
Pria itu berjalan mendekatiku yang hanya terdiam menatapnya. Langkah kakinya yang seperti diseret itu membuat suara berisik karena bergesekan dengan dedaunan kering yang berserakan. Wajah tampannya tersenyum, kedua tangannya terulur mengangkat badanku ke dalam pelukkannya.
“Unda, gak takut?” Suaranya terdengar sangat rendah, namun bernada lembut. Kugelengkan pelan kepalaku sebagai sahutan. Tanganku melingkar memeluk lehernya.
“Pohon-pohon besar itu tidak bertanya?” Tanyanya lagi. Kali ini aku menatap heran karena tidak mengerti maksudnya.
“Hei, Nak. Dimana orang tuamu?” Ia berbicara dengan suara besar yang dibuat-buat. Dengan polosnya aku tertawa dibuatnya.
“Tidak punya,” sahutku antusias. Matanya menyipit heran mendengar jawabanku.
“Lalu aku?”
“Papa muda Unda!” Ia terkekeh mendengar seruanku. Pastinya ia paham. Umurnya baru 23 tahun dan ia sudah memiliki seorang anak perempuan berumur 4 tahun dan seorang anak laki-laki berumur 2 tahun.
Disela-sela canda kami, tangannya sibuk menepuk punggungku. Mengundang kantukku menuju kedamaian singkat.
“Waktunya tidur siang, Unda.”
— Hutan Neverland,
08 Juni 2016
Tanpa menyelesaikannya, kututup buku tulis bersampul hijau itu. Bukan tidak ingin menyelesaikannya. Aku tidak ingat apa yang terjadi lima belas tahun lalu setelah tertidur dalam pelukan si pelukis keliling berparas tampan itu. Abyan Ardanel, duda muda tampan dengan dua anak. Begitulah aku membanggakannya.
Kuedarkan pandanganku, menelisik sekitar yang memang sudah tidak asing lagi. Hutan ini masih sama. Begitu pula dengan Pak pohon tua besar yang masih menetap sejak puluhan tahun lalu.
“Jadi sekarang Unda benar-benar tidak punya orang tua?” ejek bocah kecil yang dari tadi berlarian mengejar kupu-kupu di sekitar sana, Asa namanya. Bicara selalu saja jujur tanpa pernah disaring.
“Begitulah.” aku tersenyum pada pohon paling besar disana. Entah itu pohon yang sama atau bukan, rasanya kembali lagi di waktu itu. Waktu dimana seniman muda yang tinggal di pondok kecil dekat hutan mampu memberikan kebahagian besar untuk para balitanya. Aku menghela nafas pelan “Pak pohon besar tidak mau menanyakan bayi tersesat ini?”
Karena sekarang aku benar-benar tersesat.