(Another) Fine Day with You

(Another) Fine Day with You

lekhaadhya

0


"Sada, ayo dimakan dulu. Bapak sama ibu mau siap-siap berangkat ke florist agak pagi hari ini. Ada yang pesan bunga untuk hari ini." ucap Dita dengan suara lantang untuk mengajak anak sulungnya sarapan.

Sada pun segera bergegas menuju meja bawah, "Maaf Pak, maaf Bu, Sada kelupaan hari ini ada meeting, belum kerjain bahan presentasinya, Sada selesaikan dulu ya, nanti Sada sarapan setelah selesai, Bapak sama Ibu duluan saja". Sambil menatap anaknya dengan senyum, Dita dan Adrian tersenyum dan mengangguk kepada anaknya, mereka sudah hafal, sikap pelupa anaknya itu terkadang masih melekat walaupun sekarang ia sudah hampir menuju kepala tiga. "Anakmu bu, mulai dari masih disuapin sampai sekarang, ada aja kelakuannya." Bapak berucap sambil menatap ibu. 


Setelah menyelesaikan presentasinya, Sada bergegas memakan sarapan yang sudah disiapkan oleh ibunya. Selagi ibunya sempat menyiapkan makanan, Sada biasanya akan sarapan di rumah. Ia baru akan sarapan di luar saat ibunya sedang sibuk. 

Baru saja ia mau minum, ada panggilan masuk di handphone Sada, tak lain tak bukan, dari Hedy si sohibnya. 


"Da, Sada, lu udah berangkat apa belom? Gue udah di kantor nih. Kebetulan tadi gua ada perlu agak pagian, jadi sekaligus berangkat pagi."


"Sorry, Dy. Gue barusan aja selesai sarapan. Lu tunggu di kantor aja deh, buka aja duluan, abis ini otw." 


"Oke Da kalau gitu, tapi presentasi buat nanti aman kan?" 


"Aman, gue kirim ke elo sekarang. Tolong pelajari ya, ntar presentasi tetep gue yang handle tapi gue 

minta tolong lo tetep harus pahamin itu, untuk client yang satunya kemarin, tolong lo bikin bahan presentasinya, sama kalau udah kirimin ke gue yak." 


"Iya Da, abis ini gue kerjain." 


" Thanks ya Dy, gue cabut dulu." 


"Oke Da hati-hati".


Sada pun berangkat menuju kantornya, sesampainya disana, ia dan Hedy pun langsung mengurus pekerjaan mereka hari ini, sambil menunggu karyawan yang lain hari ini. Sada memang seringkali datang lebih dahulu dari karyawannya. Bukan tanpa tujuan, biasanya Sada akan mengurus pekerjaan atau membahas hal-hal berkaitan agenda mereka hari ini dengan Hedy, teman sekaligus manager di kantornya. Setelah karyawan-karyawannya datang, ia dan Hedy dapat langsung fokus ke agenda hari ini, dan juga mengawasi kinerja para karyawannya.  


"Selamat datang kak Rena, Bang Fadli, mari silahkan duduk." 


Hedy segera bergegas menyambut klien pertama mereka hari ini. Sada pun menyusul ke ruangan meeting tersebut, 


 "Bang Fadli, kak Rena apa kabar?" 


"Baik Da, kamu gimana kabarnya? Abang udah lama gak lihat kamu kayaknya." 


"iya Bang, Sada lagi banyak kerjaan, eh taunya dapat klien sodara sendiri, hehehe." 


"Iya nih, mau ketemu kamu susah banget, tapi kita pake EO kamu nih sebenernya karena rekomendasi temen-temen kita loh, Da. Kakak suka banget lihat EO nya kalian dan emang bener katanya orang-orang mereka puas sama hasil kerja kalian." 


"Wah, makasih Kak, syukurlah kalau begitu, semoga hasil kerja kami cocok di abang sama mbak Rena juga ya. 


"Harus cocok mah ya kalau itu," ujar Fadli sembari tertawa, "ini yang disebelah kamu siapa Da?" 


"Halo bang, saya Hedy, temen sekaligus manajer disini." 


"Oh, sering main ke rumahnya Sada ya? tante Dita suka cerita tuh soal kamu" 


"iya Kak, itung2 nemenin anak jomblo satu ini Kak." 


Sada sudah tak kaget lagi, Ia hanya menatap ke arah temannya dan memberikan isyarat agar Hedy dapat sedikit mengendalikan ucapannya. 


"Oh iya, ayo Bang, kita mulai bahas aja langsung." 


"Ayok deh, eh btw nih, kita abis singgah ke bakery deket sini, nih buat kalian." 


Sada dan Hedy pun menerima pemberian tersebut dan memulai meetingnya. 


"Makasih ya Bang, Kak. Nanti kalau ada perlu apa-apa boleh kabarin ke kita aja." 


Fadli dan Rena pun menyelesaikan meeting dan pulang. Seusai itu, Hedy pun langsung menyambar cookies pemberian saudara Sada tadi. Bukan Hedy namanya kalau membiarkan makanan berdiam begitu saja, ia langsung memakannya. 


"Enak deh ini Da, coba deh lu cobain. Kalo kata gue mah ini tuh pas rasanya, gue biasa beli cookies kadang kemanisan tapi ini enggak." 


"Kalo kata gue mah lu tiap ada makanan rasanya pas mulu di mulut lo."


Sada pun ikut memakannya, ternyata kali ini review Hedy benar. Biasanya Sada tidak tertarik makan makanan manis, tapi kali ini rasanya cocok. 


"Mau ngopi gak Dy? 


"Yuk lah, yang deket kantor kan?" 


"Iya, tempat biasa." 


Tibalah mereka di coffeshop langganan mereka, seusai memesan mereka selalu duduk di tempat yang sama. Tentu saja apabila tempat itu belum diduduki orang lain. Mereka biasanya duduk di depan coffeshop, di kursi teras sambil melihat orang berlalu lalang. 


"Iced Americano nya 2 ya kak, terimakasih." 


" Eh da, coba lu liat agak ujung sana, itu bakery yang tadi cookiesnya kita cobain kagak sih?" 


"Oh iya, pantesan tadi katanya Bang Fadli beli deket sini." 


"Mampir mau gak? Gue mau beli buat stok di kos,  lumayan buat barengan nonton." 


"Boleh deh, gue juga suka tuh ama cookiesnya tadi." 


Hedy menatap heran temannya, seumur-umur ia tidak pernah melihat Sada beli jajan cookies, lebih tepatnya ia bukan tipikal pecinta jajanan yang manis.