
Jakarta, dua tahun lalu.
"Sophie, kami butuh bantuan lo!"
"Kami?" Sophie menoleh ke asal suara dengan alis terangkat. Jemarinya batal melepas kancing kemeja.
"Gerald sama gue ada operasi mendadak." Napas Lidya yang merupakan dokter spesialis anak itu terengah, semua rona meninggalkan wajahnya, memucat.
Sophie berbalik badan menghadap Lidya, bibirnya mengerucut tampak memikirkan sesuatu. "Lo tahu kan, tiap Jumat malam gue ada freeletic¹, jadi ...."
"Please, Erina itu sudah seperti adik gue." Lidya meraih tangan Sophie, mata sipit perempuan itu berkaca-kaca, penuh harap. "Lo satu-satunya harapan gue. Enggak ada waktu untuk memanggil dokter anestesi lain."
Napas Sophie terhela begitu saja, mengetukkan telunjuk pada meja tempatnya menumpukan kedua tangan. Kepalanya menunduk bersama embusan panjang. "Baiklah."
"Thank youuu," pekik Lidya girang, perempuan mungil itu menuju pintu, berhenti sejenak lalu menoleh, "Gue tunggu di ruang operasi."
Lantas apa yang Sophie lakukan sekarang? Seharusnya dia mengabaikan saja permintaan Lidya satu jam yang lalu. Seharusnya Sophie turut senang ketika pasien itu kehilangan kesadaran. Bukankah itu yang dia inginkan? Berharap perempuan itu menghilang selamanya. Jika Erina tidak ada, perhatian Dana mungkin tidak teralihkan lagi.
Namun apa yang terjadi? Sophie berusaha mengembalikan kesadaran Erina, mengupayakan dengan sekuat tenaga untuk menolong perempuan itu. Bahkan engahannya mengalahkan bunyi peringatan dari mesin di samping brankar yang monitornya tiba-tiba menunjukkan garis lurus.
"Naikkan daya ke 100, Elsy!" perintah Sophie diikuti geraman tertahan.
Alat medis yang berfungsi untuk menolong saat pasien mengalami henti jantung kembali ditekan ke dada Erina. Usaha kedua pun membuahkan hasil. Dengan cemas Sophie menatap ke layar monitor sampai akhirnya bernapas lega ketika grafik garis denyut jantung normal kembali muncul di sana.
"Pasien telah kembali, Dok," lapor sang asisten anestesi, lalu mengambil alat pacu jantung dari kedua tangan Sophie. Fyuh, Sophie mengembuskan napas lega, pandangannya terarah pada layar yang kini menampilkan garis bergerigi, untung saja tidak terjadi apa-apa.
Masih terengah, Sophie menoleh pada Gerald, bulir-bulir keringat muncul di dahi dokter kandungan itu. Laki-laki itu sempat mundur beberapa langkah memberi ruang untuk Sophie bertindak. "Cuci darah secepatnya, pasien Erina memerlukan terapi fungsi ginjal ..." ucap Sophie setengah berbisik. "... mungkin masih sempat kalau kita membawanya ke Pondok Indah," lanjutnya lalu beranjak meninggalkan Gerald. Baru beberapa langkah, Sophie kembali berbalik. "Oh, iya, panggil Dana, dia konsultan ginjal pasien, kan?"
"Dibandingkan hemodialisis², Dana merekomendasikan CRRT³, dia sudah menunggu di Pondok Indah," sahut Gerald, yakin akan terjadi perang dunia ketiga, laki-laki itu menghindari tatapan Sophie.
"Oh, I see," ucapnya tenang. Sophie menghela napas panjang. "Baiklah."
"Dana hanya melakukan tugasnya," sambung Gerald cepat. Ucapan laki-laki itu menghentikan langkah Sophie di ambang pintu. "Kamu jangan berpikir Dana seli—"
"Bukan urusanku," sahut Sophie memotong ucapan Gerald, sebelum benar-benar menghilang di balik pintu.
Dua kata bernada ketus 'bukan urusanku' yang Sophie ucapkan itu hanya di bibir saja. Ketika ambulans telah meninggalkan parkiran rumah sakit, dia pun bergegas membersihkan diri dan berganti pakaian. T-Shirt merah dibalut blazer cream, celana katun ankle neck menggantung di tungkai jenjang. Dia harus menyusul ke Pondok Indah, secepatnya. Flat shoes akan membantunya tidak kesulitan menginjak kopling saat bertemu macet. Namun sekali lagi, langkahnya tersekat panggilan Lidya.
"Lo mau ke mana? Pulang?"
Sophie mendelik dari balik kacamata retro bulat, "Lo tahu gue mau ke mana, ngapain nanya lagi?"
"Freeletic?" tanya Lidya, bibirnya memasang cengiran. Sophie melotot dengan alis yang terangkat sempurna, tangannya menunjuk Fossil Townsman di pergelangan.
"Hei, jangan marah. Gue hanya bercanda." Pandangan Lidya bergulir menyelidik. "Seharusnya masalah pribadi lo itu jangan disangkutpautkan dengan urusan kerjaan lah," ucap Lidya, tatapannya terarah pada Sophie, dari ujung rambut ke kaki. Perempuan itu menahan napas sejenak, lalu mengembuskannya. Punggung mungil Lidya menyandar pada dinding selasar, kedua tangannya terlipat di dada. "Gue sama Gerald minta maaf kalau kehadiran Erina semakin menambah runyam masalah rumah tangga ...."
"Ini enggak ada hubungannya dengan Erina, gue duluan, ya." Sophie menjawab diplomatis, bibirnya seperti dipaksa mengulas senyum terbaik sebelum berbalik badan, tetapi lagi-lagi langkahnya terhenti. Lidya mencekal lengannya. "Ada apa lagi?"
"Pulanglah, selesaikan masalah lo itu di rumah," ucap Lidya.
"Lo yakin, dia akan pulang?" Sophie mendengkus sebal saat menyentak lengan. Dana bahkan betah tinggal di rumah sakit demi Erina.
"Tetapi bukan berarti lo harus menyusul ke sana kan?" Lidya menghela napas panjang. "Dana hanya melakukan tanggung jawab sebagai konsulen Erina. Lagian Erina pun sama sekali nggak tertarik sama suami lo itu."
Ucapan Lidya hanya dijawab udara, perempuan itu menganga, memandangi punggung Sophie yang bergerak menjauh. Pekikan tertahan Lidya memanggil namanya pun diabaikan. Sophie mengacungkan tangan, melambai tanpa menoleh.
Di dalam mobil, Sophie menguncir rambut sebelum menghidupkan mesin. Disusul embusan napas saat mengenyakkan punggung pada sandaran kursi. Kecamuk di kepala ikut menemani sepanjang perjalanan. Pernikahan Sophie memang sedang berada di ujung tanduk. Masalahnya sebenarnya bukan pada Erina, perempuan bermata sayu itu bukan pelakor sama sekali. Kedekatan Dana dengan Erina hanya sebagian kecil dari semua pemantik seteru, hingga hubungannya semakin memanas.
Sophie kembali menghela napas saat bertanya pada diri sendiri, masih adakah yang bisa diharapkan dari pernikahan ini?
Bagi sebagian besar pasangan, pernikahan menjadi tujuan pasangan yang saling mencintai. Mengucap janji sehidup semati di depan altar menjadi sesuatu momen sakral dan awal kehidupan baru bagi banyak orang. Namun, tujuan menikah tak selamanya sama bagi setiap orang, bahkan dua individu dalam sebuah hubungan pun bisa memiliki tujuan yang berbeda.
Demikian pula dengan Sophie, dia dan Dana seolah berada di alur yang berbeda, riak yang timbul menjadi gelombang dan menghempas mereka pada muara yang berbeda.
Pergesekan dan pandangan menilai hidup tak lagi berada di jalan yang sama. Keyakinan yang berbeda membuat segalanya semakin sulit untuk disatukan. Visi dan misi yang dulu mereka gaungkan saat masih berpacaran pun menguap, entah ke mana.
Ah, sudah sampai juga. Sembari bergumam di dalam hati, Sophie membelokkan KIA Rio merah ke pelataran parkir tepat di samping Range Rover hitam Dana. Tak ada kemacetan berarti, mobilnya melaju dengan kecepatan sedang. Sophie tertawa sarkas, bahkan semesta mendukungnya sampai tujuan dengan waktu tidak lebih dari dua puluh menit.
Apakah Tuhan memang menginginkan mereka berpisah saja? Atau Tuhan memang tidak pernah menginginkan mereka bersama? Lamunan bersama langkah Sophie kembali terhenti, mata bulat bertudung bulu mata panjang, menangkap sosok yang dikenalnya, laki-laki itu tampak gagah dengan balutan sweater cokelat dipadu celana bahan hitam.
Thanks God, saat ini Sophie memakai sepatu bersol rata. Jika tidak, dia sudah membayangkan akan mencongkel bola mata Dana dengan ujung heels-nya yang runcing. Berkali-kali Sophie merapal doa, agar tidak kehilangan akal sehat sampai menyuntik suaminya.
Bagian mananya yang tanggung jawab dokter kepada pasien? Dana lebih mirip suami yang takut kehilangan istri. Tatapannya itu? Sepanjang yang Sophie ingat, Dana tak pernah melihatnya dengan mata seperti itu.
"Cepat sekali kamu di sini," sindir Sophie, pandangannya ikut tertuju pada sosok lemah di balik kaca ICU. Pada tubuhnya terpasang selang dan terhubung dengan mesin CRRT, alat yang akan menggantikan fungsi ginjalnya selama beberapa hari.
"Kamu juga dokter, sudah pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk pasienmu. Kudengar dari Gerald kamu melakukan yang terbaik saat dia kehilangan kesadaran." Lancar sekali Dana membalas sindirannya!
"Kamu sudah melakukan tugasmu, dia pun menerima perawatan terbaik. Lantas, kenapa masih di sini?"
Sophie menggeram tak mau kalah, bolehkah dia mencekik leher laki-laki ini? Ke mana Dana yang dulu berdarah-darah mengejarnya? Sekarang setelah menjadi suami, Dana seperti tak peduli. Seperti ada pemberat yang menggantung di lehernya, menoleh pun dia enggan.
"Aku sedang tidak minat bertengkar, Sophie. Please, pulanglah duluan. Kita bicarakan di rumah," ucap Dana kalem berusaha tetap pada nalar. Laki-laki itu baru saja akan melangkah, tetapi ucapan ketus Sophie menghentikannya.
"Kalau kamu tidak pulang bersamaku sekarang, aku mau pisah saja!"
Dana menoleh, tatapannya setajam belati. Garis bibirnya melengkung tegas, terlihat arogan. Laki-laki itu mendekat, sneakers putih menyentuh ujung sepatu Sophie. "Kamu mengancam aku?"
"Lagian kenapa masih di sini? Erina sudah mendapatkan tindakan medis. Di sini banyak perawat yang menjaganya." Sophie tertawa pelan, mendongak menatap wajah datar suaminya, tangan Sophie terangkat mencengkeram ujung sweater laki-laki itu. "Hubungan kita memang sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Aku tidak bisa mengerti jalan pikiranmu lagi." Kepala Sophie terjatuh di dada Dana, menyembunyikan kesedihan. Wangi mint menguar menyapa indra, aroma yang Sophie harapkan mampu menenangkan. Nyatanya tidak. "Kita memang seharusnya tidak pernah menikah."
Sungguh, air mata Sophie sedikit lagi akan tumpah. Dia berharap, Dana menolak keinginannya dan menghapus segala kesedihan. Namun, sepertinya tidak berakhir seperti yang Sophie inginkan. Hatinya mencelus seketika, pandangan yang semula menekuri lantai, mengunci pita emas flat shoes, teralihkan pada langkah Dana yang surut satu langkah ke belakang.
"Baiklah, kalau itu maumu." Dana melepaskan tangan Sophie dari sweater-nya. "Sampai kapan pun kita berusaha, akhirnya akan seperti ini juga kan?"
"Begitu, ya?" Sophie tertawa sumbang, "Kamu memang tidak berniat mempertahankan pernikahan kita."
"Aku hanya menuruti keinginanmu, itu yang terbaik menurutmu kan?" Dana mengembuskan napas lemah, "Seharusnya kamu tahu, yang kulakukan semata-mata karena kemanusiaan. Aku memenuhi janjiku pada Gerald dan Lidya. Erina itu sudah seperti keluarga mereka."
"Erina, Erina lagi! Sepertinya di kepalamu hanya dia saja." Sophie membentak sebal. Dia tak lagi peduli, di ujung selasar ada beberapa pasang mata perawat dan dokter jaga memperhatikan mereka. Sophie mendadak deja vu, mengingat bagaimana dulu Dana meyakinkan jika mereka bisa bersama meski keyakinan berbeda. "Apa ini termasuk misimu menyatukan Katedral dan Istiqlal?" serang Sophie berang.
Presiden RI merencanakan membangun terowongan yang menghubungkan dua rumah ibadah tersebut. Sayangnya belum juga terwujud, justru hubungan Sophie dan Dana terancam buntu.
"Sophie! Jangan asal bicara kamu!" bentak Dana, laki-laki itu terlihat mengembuskan napas berkali-kali, mempertahankan akal sehat tetap nyaman di otaknya. "Aku tidak ada hubungan dengan dia." Dana menoleh ke ujung selasar, semua perawat di sana memalingkan wajah ke sembarang arah. Dana kembali menghela napas, laki-laki itu menarik tangan Sophie sembari berbisik. "Berhenti kekanak-kanakan begini, kita bicara di ruanganku."
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi." Sophie menyentak lengan, mengangkat dagu, menatap Dana dengan pandangan menantang. "Sampai ketemu di pengadilan!"
***
Glosarium:
1. Freeletics merupakan olahraga yang menggunakan berat badan sendiri dan bisa dilakukan secara individual maupun secara tim di rumah, di taman, dan di mana saja. Idealnya olahraga ini dilakukan minimal 15 hingga 60 menit.
2. Hemodialisis adalah proses pembersihan darah dari zat-zat sampah, melalui proses penyaringan di luar tubuh.
3. CRRT, Continuous Renal Replacement Therapy, yang merupakan salah satu terapi untuk menggantikan fungsi ginjal dan dilakukan secara kontinu.
***
Halo,
Setelah dua tahun menjadi pembaca Cabaca, akhirnya saya diberikan kesempatan bergabung sebagai penulis, berkah yang sangat luar biasa. Alhamdulillah. Sambil menunggu Senin depan, Teman Pembaca juga dapat membaca cerita saya yang lain:
1. Saviora, kolaborasi dengan BelladonnaTossici, dan
2. Dikejar Alpha, tersedia pada akun penerbit WWGPublisher.
Semoga naskah ini dapat diterima dengan baik, ya.
Salam,
WidiSyah