
"Hah ... hah ... hah ...!"
Suara nafas yang terengah, peluh memenuhi seluruh tubuh. Di bawah sinar matahari yang mulai meninggi dua insan telah memadu kasih.
Seorang wanita dengan tubuh semampai keluar dari selimut, berjalan menuju kamar mandi yang berada di ruangan itu.
Wanita itu melihat ke arah cermin, kulitnya yang putih bersih dengan rambut hitam panjang yang terurai bersinar diterpa sinar matahari.
Elok parasnya membuat siapa saja yang melihat akan jatuh cinta dengan pesonanya. Dia Amalina, istri dari pria bernama Dewaji.
Pagi ini, Amalina bersiap-siap untuk pergi ke sekolah tempatnya mengajar. Terlihat Dewaji masih tertidur pulas dengan tubuh tanpa busana. Cahaya matahari mengintip di sela-sela jendela kamar itu, membuat mata Dewaji terasa silau.
Dewaji mulai mengernyit, matanya perlahan mulai terbuka. Lalu dia melihat ke arah Amalina yang sedang berdiri di depan cermin seraya mengikat rambut panjangnya. Aji menarik lengan Amalina segera.
"Mau ke mana?" tanya Dewaji dengan suara parau.
"Hari ini aku ada kelas," ucap Amalina menjelaskan.
"Ah, sebentar lagi saja. Aku masih kangen," rengek Aji pada istrinya.
"Tidak bisa sayang. Ini sudah siang, anak-anak pasti sudah menunggu."
Amalina berkata sambil melepaskan genggaman suaminya itu.
Dewaji bangun dengan keadaan setengah telanjang, dia memeluk dan mencium leher Amalina dari belakang. Amalina tersenyum tatkala melihat apa yang suaminya lakukan.
"Sudah Mas. Aku sudah telat!" pinta Amalina, agar Dewaji mau berhenti mengganggunya.
Rupanya Aji masih bergeming, dia tak menghiraukan ucapan Amalina dan terus mencium Amalina dengan manja.
"Mas," ucap Amalina mengingatkan.
"Sebentar saja seperti ini," jawab Aji dengan malas.
"Aku akan melepaskanmu bila kau mau menciumku, sekali saja."
Aji kembali merengek, terus menggoda Amalina. Amalina berbalik dan mengecup bibir suaminya dengan lembut agar dia mau melepaskan pelukannya.
Dewaji yang membalas ciuman itu malah membuat mereka semakin bergairah. Dewaji menggendong istrinya naik ke atas ranjang lagi dan membuat Amalina seketika menjerit.
***
"Aji!"
Seorang pria yang memakai setelan rapi dan kacamata hitam melambaikan tangan pada Dewaji yang sedang asyik menata meja kopinya.
Mobil BMW hitam yang pria itu tumpangi terlihat berada di parkiran kafe milik Aji. Pria itu adalah Adrian, sahabat Dewaji. Adrian adalah sosok pria dengan kepribadian yang ceria, dia adalah orang yang ramah kepada semua orang.
"Adrian, apa kabar?" tanya Dewaji sambil menepuk bahu Adrian.
"Baik-baik, Ji. Kau bagaimana?"
"Aku baik," jawab Aji yang tersenyum sumringah melihat sahabatnya itu.
"Bagaimana kabar Amali?" tanya Adrian sambil menarik kursi kayu di hadapannya.
"Amalina baik."
Aji berdiri di sebuah meja panjang penuh dengan peralatan meracik kopi masa kini dengan hiasan gelas menggantung di bagian atas kepala. Musik jazz yang mengiringi pagi ini beradu dengan suara nyaring mesin penggiling kopi.
"Ke mana saja selama ini? Sudah lama aku tak melihatmu."
Aji kemudain memulai obrolan di antara mereka berdua.
"Kebetulan aku sedang sibuk bekerja di luar kota. Atasanku menyuruhku untuk menangani semua urusan kantor di sana," jawab Adrian menjelaskan.
"Orang sibuk memang beda," ledek Aji.
"Ah, kau bisa saja," jawab Adrian.
Mereka berdua pun kembali tertawa.
"Ji, sebenarnya aku ingin kau memberikan ini untuk Marsya."
Adrian menyerahkan papper bag bewarna merah muda dengan gambar kuda kecil yang mencolok ke hadapan Aji.
"Aku masih belum bisa menemuinya. Kau tahu, kan, Sandra masih belum mengizinkanku untuk menemui Marsya," curhat Adrian.
"Baiklah. Akan aku sampaikan."
Aji kemudian mengambil papper bag itu dan menyimpannya di salah satu kursi tamu.
"Eh, Ji. Apa Amali sudah hamil?" tanya Adrian.
Aji terdiam sejenak.
"Belum," jawab Aji seraya menggelengkan kepalanya.
"Padahal kau tahu, kan, aku dan Amali sangat menginginkannya."
"Tenang saja, selagi kalian mau berusaha pasti ada jalannya. Suatu hari nanti Amali pasti akan hamil," hibur Adrian.
Aji hanya tersenyum, mengaminkan ucapan sahabatnya.
"Baiklah, kau mau minum apa?" tanya Aji mulai mengalihkan pembicaraan.
"Espresso," jawab Adrian cepat.
"Baiklah, akan aku buatkan spesial untukmu."
Adrian mengangguk, dia melihat Aji yang seakan tak ingin membahas urusan pribadinya lebih dalam.
Ya, setelah 5 tahun menikah, Aji dan Amali belum juga dikaruniai momongan. Padahal keinginan Amalina hanya satu, yaitu memiliki anak dari pria yang sangat ia cintai.
Bukan karena tidak bahagia dengan Aji, tetapi menurut Amalina, anak akan membawa kebahagiaan yang sempurna untuk keluarga kecilnya itu.
Berbagai cara dan saran dari teman dan keluarga sudah mereka lakukan, tapi apa daya keberuntungan belum berpihak pada mereka.
***
Suara riuh terdengar dari beberapa anak-anak yang baru selesai bernyanyi. Mereka adalah anak didik dari Amalina.
"Bagus sekali anak-anak!"
Senyum cerah menghiasai wajah cantik Amalina, wanita yang lembut dan baik hati. Tutur kata yang halus dan selalu berperilaku sopan. Begitulah orang-orang mengenal sosok Amalina.
"Sekian untuk hari ini ya. Sekarang ayo kita bersiap-siap untuk pulang anak-anak. Sampai jumpa besok," ujar Amalina dengan ramah
Anak-anak pun tersenyum dengan gembira.
"Ingat! Berbaris dengan rapi saat keluar, jangan saling dorong ya."
"Baik, Bu," jawab anak-anak dengan serentak.
"Hati-hati di jalan!" ucap Amalina sembari melambaikan tangan tanda perpisahan.
Suasana hening sejenak setelah semua murid meninggalkan ruangan belajar. Tak lama kemudian, seorang wanita sebaya Amalina datang mengetuk pintu ruangan yang sedang terbuka.
"Amali, Bu Herlinda menunggumu di ruangannya."
Suara seorang wanita yang juga seorang pengajar di sana bernama Felly.
Amalina pun mengangguk, kemudian berjalan menuju ruangan Bu Herlinda.
Setelah tiba di ruangan Bu Herlinda Amali segera mengetuk pintu dengan pelan.
Tok ... tok ... tok ...!
"Saing, Bu. Saya Amali. Apa Ibu memanggil saya?" tanya Amali yang tengah berada di balik pintu.
"Masuklah, Amali."
Terdengar jawaban seorang wanita dari dalam ruangan tersebut.
"Silahkan duduk!" pinta Bu Herlinda.
Amalina mengangguk dan mulai menarik kursi tamu.
"Amali, ada yang ingin saya bicarakan padamu," ucap Bu Herlinda.
"Silahkan, Bu. Saya sudah siap untuk mendengarkan," jawab Amali sopan.
Bu Herlinda terlihat terdiam sejenak, seperti tengah memikirkan kata-kata yang pas untuk diucapkan.
"Begini Amali, kau tahu, kan kalau pemilik yayasan mempunyai anak yang baru saja lulus kuliah?"
"Tentu saja."
Amali mengangguk, dia masih belum paham arah percakapan ini.
"Karena belum ada pengalaman, pemilik yayasan ingin anaknya mengajar di sini untuk menambah pengalama," ucap Bu Herlinda.
"Kamu juga tahu kan, di sini kita sudah cukup memiliki tenaga pengajar dan pemasukan sekolah ini lebih sedikit dari pengeluaran. Kita tidak bisa menambah tenaga pengajar lagi."
"Karena kamu sudah cukup lama bekerja di sini, kamu pasti sudah paham keadaan sekolah ini."
Amalina terdiam sejenak. Kali ini dia telah paham apa yang dimaksudkan Bu Herlinda.
"Maaf, Bu. Apa maksud Ibu saya diberhentikan dari sekolah ini?"
"Betul Amali. Maaf jika ini terlalu mendadak untukmu."
Bu Herlinda sesekali menggoyangkan kacamatanya, melihat Amali yang masih diam tak percaya.
"Lagi pula Amali, kamu sudah sangat lama mengajar di sini. Sekarang saatnya kamu fokus dengan rumah tanggamu. Mempunyai anak adalah solusinya."
Amalina tersentak satat mendengar ucapan Bu Herlinda.
"Maaf Amali, bukan maksud saya ingin mencampuri urusan kamu. Saya hanya ingin kamu bahagia dengan keluarga kecilmu tanpa harus terbebani dengan pekerjaanmu."
Penjelasan Bu Herlinda semakin membuat Amali tak bisa berkata-kata.
"Pikirkanlah masa depan rumah tangga kamu dan fokuslah memiliki momongan."
Amalina terdiam, menahan air matanya. Ucapan Bu Herlinda sangat mengguncang Amalina. Betapa tidak, sesuatu yang membuat dia bahagia, sesuatu yang membuat dia lupa kesedihannya terancam hilang.