
Andra memungut bola dari jaring gawang. Samar-samar terdengar suara Pak Edwin memanggil namanya. Begitu menoleh, Andra melihat sang pelatih sudah berdiri di garis tepi lapangan. Di sebelahnya ada Edgar yang sedang melakukan pemanasan. Andra menghela napas berat, lalu membuang bola asal. Dia berjalan menghampiri Edgar dengan perasaan campur aduk yang memenuhi dadanya. Kesal, marah dan yang pasti kecewa terhadap diri sendiri karena debutnya sebagai kiper utama tim futsal SMA hanya bertahan tak sampai satu babak. Insiden dengan Melody kemarin terus menghantui pikiran Andra. Hal itu sukses memengaruhi permainannya, di mana dalam pertandingan ini dia sudah kebobolan tiga gol ketika pertandingan baru berjalan separuh babak.
Dari bangku panjang di pinggir lapangan, Andra tampak frustasi menatap pertandingan yang harusnya menjadi ajang pembuktian jika dia pantas menjadi kiper utama tim futsal sekolah untuk kejuaran bulan depan. Namun, semuanya hancur gara-gara sosok kakak kelas yang sejak kemarin selalu mengganggu pikirannya. Harapan Andra untuk menjadi kiper utama tampaknya akan sirna begitu melihat Edgar yang bermain cukup baik. Sepanjang pertandingan, kakak kelasnya itu sukses membuat beberapa penyelamatan gemilang.
Di akhir pertandingan uji coba yang berkesudahan dengan skor 4-2 untuk kemenangan tim lawan, Pak Edwin mengajak Andra bicara setelah pemain lain pulang.
Pak Edwin menepuk pundak Andra yang tertunduk lesu di sebelahnya. “Ada apa dengan permainan kamu hari ini, Andra? Apa kamu sedang cedera?”
Andra menggeleng pelan. Tak berani menatap sang pelatih. Dia juga tak ingin mencari-cari alasan atas permainan buruknya hari ini.
Pak Edwin mengernyit menatap anak didiknya tersebut. Tak mungkin permainan buruk Andra disebabkan demam panggung mengingat prestasi yang pernah dia raih semasa SMP dulu.
“Empat hari lagi kita akan latih tanding dengan SMA Yasmin. Di pertandingan itu saya ingin memasang kamu sebagai kiper utama lagi. Kalau permainan kamu belum membaik, maka saya akan memilih Edgar sebagai kiper utama di kejuaraan nanti.”
Pak Edwin menghela napas, kembali menepuk pundak Andra. “Walaupun kamu masih kelas sepuluh, tapi saya akui kalau kemampuan kamu lebih baik ketimbang Edgar. Itulah kenapa pada pertandingan tadi saya tidak ragu untuk menunjuk kamu sebagai kiper utama. Kamu punya keterampilan dan juga pengalaman. Kamu cuma butuh fokus saja. Jika ada masalah yang mengganggu penampilan kamu di pertandingan, maka segera selesaikan. Ingat, kejuaraan sudah dekat. Saya berharap banyak pada kamu.”
Andra mengangguk pelan.
Benar apa kata Pak Edwin, sekarang bukan saatnya untuk gelisah dan sebagainya. Kejuaraan sudah dekat dan dirinya juga mendapat kepercayaan serta kesempatan yang tak tentu datang dua kali. Oleh karena itu, Andra bertekad untuk segera menyelesaikan masalahnya dengan Melody agar bisa sepenuhnya fokus pada kejuaraan.
***
Andra yang sedang merebahkan kepala di meja, berulang kali menghela napas berat. Pandangannya menatap kosong keluar jendela kelas. Andra merasakan tepukan di kepala belakangnya, membuatnya refleks memutar kepala ke belakang. Tepat seperti dugaan Andra, Vita lah yang barusan menepuk kepalanya, karena hanya cewek itu saja yang berani bersikap kurang ajar padanya.
“Ada apa?” tanya Andra malas.
“Nih buat lo.” Vita menyodorkan sekotak susu cokelat.
Andra membuka ransel dan mengambil sebuah buku yang kemudian disodorkan pada Vita. “Pasti lo mau minjem PR Matematika, kan?” tuduhnya dengan nada malas.
Vita nyengir. “Lo emang sahabat yang paling ngertiin gue,” ucapnya sambil menukar susu cokelat di tangannya dengan buku milik Andra. “Oh ya, tumben banget lo nggak ke perpus. Biasanya kan tiap jam istirahat lo pasti semedi di perpus sambil baca komik.” Sebelah alis Vita terangkat, menangkap kejanggalan dari wajah Andra yang seolah tak memiliki semangat.
“Nggak apa-apa. Lagi malas aja.”
Andra meletakkan susu cokelat pemberian Vita di meja, kemudian kembali menelungkupkan kepalanya di atas meja.
Untuk pertama kalinya selama mereka bersahabat sejak SD, ini kali pertama Vita mendengar Andra bilang malas baca komik. Tentu saja hal itu membuatnya penasaran. Vita duduk di sebelah Andra lalu menjawil pundak cowok itu dengan telunjuknya, membuat Andra kembali mengangkat kepala.
“Kenapa lagi sih, Vit?” dengus Andra kesal.
“Lo lagi kenapa, sih? Cerita dong sama gue.”
“Nggak ada apa-apa, kok. Gue cuma lagi malas aja.”
Vita memajukan wajahnya, menatap kedua mata Andra lekat. Seolah bisa membaca apa yang sedang dipikirkan cowok itu. “Bohong!” Membuat Andra kembali mendengus, lalu berdiri. “Lo mau ke mana?” tanya Vita.
“Ke perpus,” jawab Andra sewot yang segera meninggalkan Vita. Tetapi, baru beberapa langkah Andra berbalik dan kembali menghampiri Vita yang masih duduk di tempat duduknya. “Makasih buat susu cokelatnya,” ucapnya yang kembali berjalan keluar kelas.
“Mau ke mana, Ndra?” tanya Algi yang berpapasan dengan Andra di ambang pintu kelas.
“Perpus.”
“Lah, ini udah mau bel, lho,” sahut Bobi yang berdiri di sebelah Algi.
Andra hanya mengedikkan bahu dan berjalan melewati keduanya tanpa mengatakan apa pun.
“Eh, itu teman kalian lagi kenapa, sih?” tanya Vita yang sudah berdiri di dekat Bobi dan Algi.
“Palingan gara-gara pertandingan futsal kemarin,” tebak Bobi, menatap punggung Andra yang semakin menjauh.
“Emang kenapa sama pertandingan kemarin? Tim futsal sekolah kita kalah?”
“Nggak cuma kalah, Andra bahkan cuma main separuh babak,” terang Algi.
“Yang nyesek itu, Andra diganti setelah dia kemasukan tiga gol,” Bobi menambahkan. “Lo tahu sendiri kan, dia antusias banget setelah dapat kesempatan buat jadi kiper utama. Apalagi dari semua anggota tim futsal, Andra satu-satunya anak kelas sepuluh yang masuk tim inti.”
Vita manggut-manggut paham. “Pantesan aja dia udah kayak cewek lagi PMS.”
***
Andra beberapa kali menguap saat menyusuri koridor kelas. Semalam dia susah tidur gara-gara kepikiran ‘kecelakaan’ yang terjadi antara dirinnya dengan Melody. Kejadian itu seolah terus menghantuinya. Andra sadar jika ingin bisa fokus pada pertandingan futsal, maka dia harus meluruskan semuanya pada Melody. Namun, yang jadi sandungan, Andra tak tahu harus melakukan apa untuk berbicara dan meminta maaf pada kakak kelasnya itu.
Langkah Andra mendadak terhenti di tepi tangga. Melihat Melody yang sedang berjalan menaiki tengga bersama kedua sahabatnya, membuat Andra secara spontan memutar badan dan buru-buru pergi ke arah lain. Andra mengumpat dalam hati. Merutuki kepengecutannya. Andra sadar jika dia tidak bisa seperti ini terus. Dia harus berani meminta maaf dan meluruskan ‘kecelakaan’ yang terjadi dua hari lalu pada Melody. Kalau tidak, dia akan semakin galau yang tentunya akan berakibat buruk pada permainannya di atas lapangan.
***
Andra menempelkan e-ticket ke palang pintu masuk halte Trans Jakarta yang berada dekat sekolah. Sore itu halte tak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang dari penampilan mereka baru pulang kerja. Andra berdiri di pojok karena bangku panjang di halte sudah penuh. Tatapannya tertuju pada perempuan yang mengenakan baju hitam lengan panjang dengan rok span pendek. Bukan perempuan itu yang membuat Andra tertarik, tapi pada tempat perempuan itu duduk. Melihatnya, membuat kenangan itu kembali bermain-main dalam benaknya. Kenangan beberapa hari yang lalu, saat dirinya pertama kali mengobrol dengan Melody.
Hari itu, seusai sekolah, Andra mampir ke rental komik langganannya yang berlokasi di kompleks belakang sekolah. Andra kaget begitu melihat jam di pergelangan tangan kirinya sudah menunjukkn pukul lima sore. Saking asyik membaca komik, cowok yang masih mengenakan seragam sekolah itu tidak sadar sudah hampir tiga jam berada di sana. Andra bergegas mengambil lima komik dari rak dan membawanya ke meja penjaga untuk disewa. Meski zaman sekarang, bisa membaca komik secara online, tapi Andra lebih suka dan puas membaca komik dalam bentuk buku.
Setelah menempelkan e-ticket di palang halte Trans Jakarta, sepasang mata Andra langsung terpaku pada sosok cewek yang berseragam sama dengannya. Dia Melody, murid kelas dua belas yang baru sebulan pindah ke SMA Bina Permata. Meski tergolong murid baru, Melody langsung mendapar predikat top girl di sekolah karena kecantikannya. Bahkan, saking populernya, Melody sampai diberi julukan ‘Ratu’ oleh anak-anak SMA Bina Permata.
Cowok lain pasti langsung senang berada di posisi Andra saat itu, karena di halte hanya ada mereka berdua. Tentu saja itu bisa dijadikan kesempatan untuk pedekate dengan sang ‘Ratu’. Tapi, hal itu sama sekali tidak terlintas di benak Andra. Cowok itu justru merasa canggung sekaligus gugup karena hanya berduaan saja dengan kakak kelas yang selalu menjadi topik pembicaraan cowok satu sekolahan.
Sambil menyedot susu cokelat untuk menutupi kecanggungan, Andra duduk di ujung bangku halte. Tangan kirinya menahan lutut agar kakinya tidak mengentak-entak lantai. Dia tak bisa menahan matanya untuk tidak melirik ke arah Melody. Dilihatnya tangan kiri cewek itu meremas-remas perut. Mungkinkah dia sedang sakit perut? Belum sempat Andra menerka lebih jauh, bus Trans Jakarta sudah menepi di halte. Melody buru-buru melepas headset dan memasukkannya ke tas dan segera melangkah masuk ke dalam bus. Saat itulah, Andra melihat noda di bagian belakang rok seragam putih Melody.
Di dalam bus, Andra yang ‘terpaksa’ duduk di sebelah Melody karena bangku lain penuh, diam-diam memerhatikan kakak kelasnya itu yang tak henti-hentinya meremas perut. Kepanikan tergambar jelas di wajah Melody. Sudut mata Andra melihat ada bercak merah di rok seragam Melody yang berwarna putih. Entah apa yang dipikirkannya, tiba-tiba saja Andra menumpahkan susu cokelatnya ke rok Melody.
“Duh! Maaf, ya. Gue nggak sengaja,” ucap Andra buru-buru. “Ini pakai jaket gue aja,” sambungnya sambil melepas jaket dan membantu melilitkannya ke rok Melody. Tindakan Andra sontak membuat penumpang lain menoleh ke arah mereka.
Walaupun awalnya terlihat syok, tapi setelah roknya tertutup oleh jaket Andra, perlahan Melody mengulas senyum tipis. “Makasih, ya….” Matanya melirik name tag seragam Andra. Abiandra Permana. Lalu mengangkat kepala, menatap Andra. “Abi.”
Ditatap Melody, membuat sel-sel dalam tubuh Andra seolah mendapat guncangan hebat. Ditambah lagi, cewek itu memanggilnya ‘Abi’, panggilan yang hanya digunakan oleh keluarganya saja. Meski rasanya aneh ketika ada orang lain selain anggota keluarganya yang memanggilnya ‘Abi’, tetapi tak dapat dipungkiri jika apa yang dilakukan Melody itu menciptakan gelenyar kebahagiaan aneh dalam diri Andra.
Sebenarnya Andra ingin mengatakan, ‘Sama-sama, Kak’. Tapi lidahnya terlalu kaku saat Melody tersenyum. Alhasil, dia hanya bisa membalasnya dengan cengiran tipis.
“Lo kelas berapa?” tanya Melody lagi.
“Ke-kelas 10 B, Kak.”
Melody mengangguk kecil.
Keduanya kembali diam. Sekuat tenaga Andra menahan lehernya agar tidak menoleh ke arah Melody. Wajah cantik kakak kelasnya itu seperti memiliki magnet yang kuat. Melody tiba-tiba berdiri ketika bus hendak menepi ke sebuah halte. Dia bergegas keluar begitu pintu bus terbuka, membuat Andra kaget karena Melody ternyata turun di halte yang sama dengannya. Begitu menginjakkan kaki di halte, Andra melihat Melody sudah keluar dari sana dengan langkah tergesa-gesa.
Andra membungkuk sambil memegangi kedua lutut. Rambut bagian depan yang sudah panjang menyentuh matanya. Andra menghela napas panjang, sejak tadi sekuat tenaga dia menahan detak jantung yang begitu kencang hingga lututnya terasa lemas. Bagi Andra, apa yang dilakukannya tadi, benar-benar memompa adrenalin. Dia masih setengah tidak percaya bisa melakukan aksi senekat itu.
Begitu sosok Melody menghilang di belokan jalan, Andra berpikir, apakah dirinya bisa mendapatkan kesempatan sedekat itu lagi dengan Melody?
***